Kapal Induk Amerika Berlabuh di Kota Hiburan Malam Pattaya

Kapal induk Amerika berlabuh di kota hiburan malam, Pattaya.

PATTAYA, borneoreview.co – Kapal induk Amerika Serikat bertenaga nuklir, USS Abraham Lincoln berlabuh di kota hiburan malam, Pattaya, Thailand. Setelah mencatatkan rekor 250 hari berlayar tanpa buang jangkar di pelabuhan.

Persinggahan ini memberikan kesempatan istirahat -dan hiburan- bagi hampir 5.000 awak kapal. Mereka dalam perjalanan pulang setelah menjalani operasi militer penuh ketegangan di kawasan Teluk.

USS Abraham Lincoln berlabuh di dekat kawasan wisata pantai Pattaya, yang dikenal dengan kehidupan malam dan wisata seks. Bagi Amerika Serikat, Pattaya memiliki makna sejarah yang kuat.

Saat para pelaut yang kelelahan melangkah masuk ke bar dan restoran di kota tersebut, mereka akan menapaki jejak ratusan ribu tentara AS yang pernah datang ke sini untuk beristirahat dan bersantai selama Perang Vietnam.

Selama periode 1959-1960 Amerika mengubah tempat ini dari sebuah desa nelayan yang sepi menjadi salah satu kota pesta paling terkenal dan ramai di dunia.

Saat ini, gang-gang yang diterangi lampu neon menuju ke arah pantai terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Bar-bar di kawasan Walking Street yang terkenal masih menayangkan video penari tiang di dinding mereka untuk memikat pelanggan.

Namun, tidak banyak pelanggan yang datang. Sebagian besar adalah rombongan keluarga dari Timur Tengah yang lebih tertarik pada penjual es krim Turki daripada bar-bar hiburan malam (go-go bar).

Situasi perang di Iran berdampak pada dunia pariwisata di Pattaya. Kedatangan ribuan pelaut Amerika —yang memiliki gaji sembilan bulan yang belum dibelanjakan selama bertugas di laut—menawarkan peluang langka bagi para pelaku usaha setempat

Kapal induk USS Abraham Lincoln bertolak dari San Diego pada November 2025 untuk menjalani misi yang semula direncanakan berlangsung 6 bulan di kawasan Pasifik dan Laut Tiongkok Selatan.

Namun, kapal itu dialihkan ke kawasan Teluk setelah Amerika dan Israel memulai operasi militer terhadap Iran pada akhir Februari 2026.

Sejumlah anggota Kongres Amerika menyatakan kekhawatiran terkait laporan mengenai kekurangan pasokan makanan, kerusakan toilet, serta tekanan mental yang dialami para awak kapal. Angkatan Laut AS mengakui bahwa kondisi kerja memang berat, namun menyatakan bahwa para awak mendapatkan dukungan yang memadai.

Meski demikian, pihak Angkatan Laut menolak memberikan komentar kepada BBC mengenai singgahnya kapal induk tersebut di Pattaya, dengan alasan keamanan operasional.

Kendati Thailand memiliki hubungan erat dengan Tiongkok, mereka juga sekutu perjanjian Amerika. Kunjungan kapal-kapal Angkatan Laut AS ke pelabuhan negara itu merupakan hal yang lumrah terjadi.

Peristiwa ini kemungkinan melibatkan jumlah personel militer Amerika terbesar yang datang langsung dari zona perang ke Pattaya sejak jatuhnya Saigon pada tahun 1975.

“Kunjungan ini bisa menjadi harapan terbaik kami,” kata Anon Saiteer, seorang pedagang permata di dekat Walking Street —kawasan yang memasang spanduk besar untuk menyambut para pelaut dan marinir Amerika serta menawarkan diskon khusus bagi mereka. “Kami tidak akan rugi apa-apa. Kami hanya berharap mereka mau membelanjakan uang di sini.”

Namun, para pejabat Amerika dan Thailand berupaya memastikan kunjungan ini berlangsung tanpa memicu pemberitaan miring yang selama ini melekat pada citra Pattaya.

Pihak berwenang Thailand menetapkan beberapa lokasi yang tidak boleh dikunjungi oleh personel militer Amerika. Salah satunya adalah Soi 6, jalan yang mengarah ke pantai utama dan dikenal sebagai pusat bar go-go yang menjajakan hiburan dewasa.

Meskipun polisi Thailand telah mengingatkan pengunjung asal Amerika bahwa prostitusi secara hukum ilegal di Thailand, diperkirakan ada 25.000 hingga 50.000 pekerja seks di kota tersebut. Banyak di antara mereka bekerja di Soi 6, tempat mereka berdiri di depan bar sembari merayu para pria untuk masuk.

Berbagai toko ganja di Pattaya juga masuk dalam daftar lokasi terlarang bagi personel militer Amerika. Begitu pula dengan aktivitas olahraga air seperti paralayang dan jet ski.

“Itu keputusan mereka,” ujar Wali Kota Poramase Ngampiches kepada BBC. “Militer Amerika sudah melakukan kajian mereka sendiri.”

Atase Angkatan Laut Amerika Kristopher Robinson menepis pertanyaan mengenai aktivitas yang dilarang bagi para prajurit.

Sebaliknya, ia menyatakan bahwa personel militer Amerika akan “bersikap sesuai dengan hukum Amerika, peraturan Angkatan Laut, dan hukum Thailand”.

“Kami berupaya memberikan kesempatan istirahat sebanyak mungkin bagi para pelaut,” ujar Kristopher Robinson.

Angkatan Laut Amerika menyediakan layanan bus ulang-alik dari pelabuhan menuju Pattaya yang beroperasi mulai pukul 05.00 pagi hingga 02.00 dini hari selama kapal induk tersebut berlabuh di Thailand. Dua hotel dipilih sebagai tempat yang cocok bagi para awak kapal yang ingin menikmati malam dengan berfoya-foya di darat.

Pihak berwenang Thailand mengerahkan ratusan petugas kepolisian untuk memantau kawasan hiburan kota, serta memperingatkan para pelaku usaha setempat agar tidak mematok harga terlalu tinggi kepada tamu-tamu asal Amerika.

“Kunjungan personel militer Amerika pada 50 sampai 60 tahun yang lalu memperkenalkan Pattaya kepada dunia dan mengubahnya menjadi destinasi wisata,” ujar Wali Kota Poramase.

“Kita harus jujur, kota ini memiliki reputasi terkait keberadaan wanita penghibur di bar. Kami memahami adanya stereotip tersebut. Kami tidak bisa menghentikan hal itu.

“Yang bisa kami lakukan adalah menunjukkan bahwa Pattaya telah berubah. Kini kami memiliki berbagai hal lain, seperti kegiatan olahraga, seminar, wisata kebugaran, dan aktivitas yang ramah keluarga. Ini adalah perpaduan dari segalanya.”

Amerika dan Thailand berharap bahwa saat USS Abraham Lincoln memulai perjalanan panjang kembali ke tanah air melintasi Samudra Pasifik pada tanggal 6 September, para awak kapalnya berada dalam kondisi segar dan cukup beristirahat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *