PONTIANAK, borneoreview.co – Kementerian Keuangan Republik Indonesia mencatat kinerja APBN Regional Kalimantan Barat hingga April 2026 tetap tumbuh positif di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
“Tekanan ekonomi dunia yang dipicu dinamika geopolitik, fluktuasi harga energi, hingga perlambatan perdagangan internasional belum sepenuhnya mereda. Namun demikian, aktivitas konsumsi domestik dan sektor industri di Kalimantan Barat dinilai masih mampu menjaga stabilitas ekonomi daerah,” kata Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Kanwil DJPb Kalbar, Triyanto di Pontianak, Sabtu (29/5/2026).
Triyanto mengatakan APBN Regional Kalbar tetap menunjukkan daya tahan yang baik di tengah tekanan global.
“Di tengah gejolak geopolitik dunia, APBN Regional Kalimantan Barat tetap tumbuh,” tuturnya.
Hingga 30 April 2026, pendapatan negara di Kalbar terealisasi sebesar Rp4,45 triliun atau 26,56 persen dari target. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp9,20 triliun atau 34,46 persen dari total pagu anggaran.
Penerimaan perpajakan masih menjadi penopang utama dengan realisasi sebesar Rp3,97 triliun atau tumbuh 16,83 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang sektor administrasi pemerintahan yang tumbuh 43,73 persen, industri pengolahan sebesar 26,33 persen, serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang tumbuh 22,91 persen.
Sektor perdagangan besar dan eceran juga tercatat menjadi kontributor terbesar penerimaan pajak dengan kontribusi mencapai 26,65 persen.
Kondisi ini dinilai mencerminkan aktivitas distribusi barang dan konsumsi masyarakat di Kalimantan Barat masih cukup kuat meski ekonomi global sedang mengalami tekanan.
Dari sisi kepabeanan dan cukai, penerimaan bea cukai hingga April 2026 tumbuh 5,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut didorong peningkatan bea masuk dari impor sejumlah komoditas industri seperti caustic soda untuk pengolahan alumina, prefabricated building, dan generator.
Meski demikian, penerimaan bea keluar masih mengalami kontraksi sebesar 10 persen akibat belum adanya ekspor crude palm oil (CPO) dari Kalbar. Saat ini, aktivitas ekspor daerah masih didominasi produk turunan CPO serta Palm Kernel Shell dan Palm Kernel Expeller.
Pemerintah berharap tren positif APBN Regional Kalbar dapat terus terjaga sepanjang 2026 melalui optimalisasi penerimaan negara dan percepatan belanja pemerintah.
“Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah sekaligus memperkuat daya beli dan kesejahteraan masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global,” kata dia.(Ant)
