Kurangi Konflik Manusia dengan Satwa Liar, BKSDA Kalbar dan YIARI Translokasi Orangutan di Kayong Utara

orangutan

PONTIANAK, borneoreview.co – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat (Kalbar) bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) berhasil mentranslokasikan satu individu orang utan.

Melansir Antara, Senin (27/4/2027), translokadi orang utan itu dari Dusun Pemangkat Jaya, Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara guna mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar.

“Kegiatan translokasi melibatkan Balai Taman Nasional Gunung Palung, unsur TNI-Polri, serta masyarakat setempat,” kata Asisten Manager Orangutan Protection Unit YIARI, Muhadi, kemarin.

Translokasi dilakukan menyusul laporan warga terkait kemunculan orangutan di area perkebunan sejak akhir tahun lalu.

Dia mengatakan langkah translokasi diambil setelah berbagai upaya penanganan lain dipertimbangkan secara matang.

Menurut dia, keberadaan orang utan yang mulai menetap di kebun warga dalam sepekan terakhir telah menimbulkan kerugian dan kekhawatiran masyarakat.

“Translokasi dilakukan untuk menjamin keselamatan orangutan sekaligus mengurangi potensi konflik dengan manusia. Ini merupakan langkah terakhir setelah melalui proses asesmen yang komprehensif,” tuturnya.

Tim gabungan melakukan evakuasi sejak pagi hari dengan menggunakan senapan bius yang dioperasikan oleh petugas berizin, serta perhitungan dosis anestesi yang cermat oleh dokter hewan.

Dokter hewan YIARI, drh Rachel menyampaikan hasil pemeriksaan medis menunjukkan adanya luka alami pada wajah dan lengan kiri serta fraktur pada gigi. Namun, kondisi tersebut telah pulih dan tidak memengaruhi kesehatan satwa.

“Secara umum kondisi orangutan sehat dan layak untuk ditranslokasikan,” katanya.

Setelah pemeriksaan, orangutan itu dipindahkan ke kawasan Taman Nasional Gunung Palung yang dinilai memiliki perlindungan kuat dan ketersediaan pakan yang memadai.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran ditempuh sekitar dua jam menggunakan kombinasi transportasi darat dan air.

Setiba di lokasi, proses pelepasliaran melibatkan masyarakat setempat. Orangutan menunjukkan respons positif dengan segera bergerak menjauh dan memperlihatkan perilaku liar sebagai tanda kesiapan kembali ke habitat alaminya.

Kepala BKSDA Kalbar, Murlan Dameria Pane mengapresiasi sinergi seluruh pihak dalam keberhasilan translokasi tersebut.

“Translokasi ini menjadi bagian dari upaya penyelamatan orangutan sekaligus mengurangi konflik dengan manusia. Dukungan masyarakat dan kolaborasi lintas pihak sangat menentukan keberhasilan kegiatan ini,” katanya.

Sementara Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul menekankan pentingnya perencanaan tata guna lahan yang terintegrasi guna menekan konflik antara manusia dan satwa liar.

“Perubahan tata guna lahan yang cepat menjadi tantangan besar bagi orangutan untuk bertahan. Diperlukan komitmen bersama agar manusia dan satwa dapat hidup berdampingan secara berkelanjutan,” katanya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *