KUBU RAYA, borneoreview.co – Air keruh pernah membunuh tiga puluh persen harapannya. Kini, ribuan ekor lele berenang sehat di Desa Durian.
Kegagalan awal justru memicu inovasi Abdurrohman. Dukungan fasilitas PLN menggenjot produksi Kelompok Tani Kenari. Pasar terbuka lebar, ekonomi desa bergerak dinamis. Peluang emas bagi pembudidaya pemula.
Senin pagi itu udara Desa Durian terasa berbeda. Empat ribu bibit ikan lele meluncur serentak ke dalam kolam terpal bioflok.
Suara percikan air memecah keheningan Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Momen ini bukan sekadar ritual pelepasan benih. Ini tanda bangkitnya semangat ekonomi warga melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PLN UIP Kalbagbar.
Di balik riuh rendah acara, sorot mata Abdurrohman menyala tajam. Pria tiga puluh dua tahun itu berdiri tegak.
Ia ayah dua anak yang dulu memulai segalanya dari nol. Keterbatasan tidak pernah menjadi alasan untuk menyerah.
Ulet Hadapi Rintangan
Tiga tahun silam, Abdurrohman belajar secara otodidak. Ia mengamati tetangga, meniru teknik teman, lalu menerapkannya sendiri. Nila, patin, hingga koi pernah menghuni kolam sederhananya.
Namun lele menjadi pilihan utama. Siklus panennya cepat. Perawatannya relatif mudah.
“Awalnya saya mencoba beberapa jenis ikan, tetapi akhirnya memilih lele karena lebih mudah dan pasarnya juga jelas,” ujarnya lugas.
Dalam kondisi normal, panen bisa dilakukan mulai empat puluh hari hingga dua setengah bulan.
Perjalanan itu tidak selalu mulus. Kegagalan pernah menghantam keras. Sekitar tiga puluh persen ikannya mati mendadak. Kekecewaan mendalam sempat menyelimuti hatinya. Namun ia tidak lari.
Ia justru menyelami penyebab kematian tersebut. Kualitas air menjadi kunci utama. Air payau atau terlalu keruh menjadi musuh besar.
Ia belajar menjaga keseimbangan ekosistem kolam. “Yang penting, terus belajar dan memperbaiki cara budi daya. Kalau sudah memahami pola perawatannya, hasilnya bisa lebih baik,” katanya dengan nada tegas. Pengalaman pahit itu justru menjadi guru terbaik baginya.
Harap Ekonomi Warga
Semangat Abdurrohmen menular cepat. Warga sekitar terpikat melihat potensi usaha ini.
Permintaan pasar terhadap lele sangat tinggi. Warung pecel lele hingga program Makan Bergizi Gratis atau MBG membutuhkan pasokan stabil.
Melihat peluang emas itu, masyarakat membentuk Kelompok Tani Karya Anak Negeri atau Kenari setahun lalu. Agung, paman Abdurrohman, memimpin kelompok ini dengan visi besar.
Dukungan PLN datang tepat waktu. Tiga belas unit kolam bioflok berbentuk bulat dan petak kini berdiri kokoh.
Kapasitas setiap kolam mencapai sepuluh ribu ekor. Fasilitas pakan serta sumur bor melengkapi bantuan tersebut.
Sebelumnya, kelompok hanya mampu memanen dua ratus lima puluh kilogram. Kini ambisi mereka jauh lebih besar.
“Kami memang fokus pada budi daya lele. Sebelumnya berjalan secara sederhana, tetapi dengan bantuan dari PLN kami bisa mengembangkan lebih maksimal,” ungkap Agung penuh keyakinan.
Pasar terbuka lebar. Harga jual langsung mencapai tiga puluh ribu rupiah per kilogram. Melalui agen, harga turun sedikit menjadi dua puluh lima ribu rupiah.
Produk olahan seperti lele marinasi bahkan dihargai empat puluh ribu rupiah. Permintaan bisa mencapai lima ratus kilogram per bulan.
“Saat ini, kami masih belum mampu memenuhi seluruh permintaan,” akui Agung jujur.
Modal delapan juta rupiah per kolam berpotensi menghasilkan penjualan sepuluh juta rupiah. Keuntungan nyata terasa di tangan warga.
Izal Hidayatur Rahman Herman, Asisten Manajer KPPU UPP Kalbagbar 1 PLN, menekankan peran perusahaan.
“PLN bukan hanya agen listrik, tetapi juga memiliki peran dalam mendorong ekonomi masyarakat sekitar. Melalui TJSL ini, kami ingin menciptakan nilai tambah bersama antara perusahaan dan masyarakat,” jelasnya.
Sigit, Kepala Dusun Siak Durian, turut bangga. Bagi warga desa, lele bukan lagi sekadar ikan konsumsi.
Ia menjadi sumber pendapatan baru yang menjanjikan. Dari kegagalan kecil, Abdurrohman kini memimpin perubahan besar. Desa Durian siap menyongsong masa depan lebih sejahtera.***
