Logam Tanah Jarang: Antara Riset, Keberadaan dan Tantangan Pengelolaan

Seminar Tambang di Untan

PONTIANAK, borneoreview.co – Publik di tanah air semakin sering mendengar istilah logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REEs).

Hal itu karena, belakangan, Tiongkok membatasi ekspor LTJ yang sangat penting di dunia industri elektronika modern.

Mineral LTJ menjadi bahan baku industri komponen mesin jet pesawat tempur, pesawat terbang komersial, hingga sistem senjata rudal.

Ia juga merupakan bahan baku komponen elektronik lainnya seperti pendeteksi bawah laut, pertahanan antirudal, alat pelacak, pembangkit energi pada satelit, maupun komunikasi.

Selama ini REEs di alam umumnya dikaji oleh ilmuwan geologi dan pertambangan yang mengeksplorasi sebaran dan kelimpahannya di berbagai wilayah serta teknologi ekstraksi REEs untuk kepentingan industri.

Padahal, sebaran dan kelimpahan REEs tidak hanya di kerak bumi dalam bentuk bearing mineral (mineral pembawa) sebagai batuan yang ekonomis untuk ditambang sebagai bahan baku industri.

Jejak REEs dapat ditemukan juga di tanah yang merupakan hasil pelapukan batuan yang telah berinteraksi dengan makhluk hidup.

Jejak REEs dapat terlihat di tanah yang merupakan selimut tipis di permukaan bumi yang menjadi penopang kehidupan tumbuhan, hewan, manusia, dan lingkungan yang lebih luas.

Ahli ilmu tanah Prof Zeng-Yei Hseu PhD dari Department of Agricultural Science, College of Bioresources & Agriculture, National Taiwan University, mengajak para ilmuwan ilmu tanah, termasuk Indonesia, untuk mengkaji lebih jauh REEs di tanah serta dampaknya pada tumbuhan, hewan, manusia, serta lingkungan.

Menurut Hseu, istilah rare alias jarang kerap mengecoh masyarakat awam yang mengira mineral tersebut benar-benar jarang.

Padahal, sebetulnya REEs tidak benar-benar jarang karena di kerak bumi bisa saja berlimpah, termasuk di tanah, melampaui mineral lainnya seperti timbal dan tembaga.

Istilah rare sebetulnya merujuk pada karakternya yang tidak umum dibanding karakter mineral lain pada umumnya di deret tabel periodik kimia yang dikenal luas.

Karakter tidak umum itu berupa kompleksitas dalam pemisahan dan pengolahannya dibanding logam lain.

Unsur-unsur ini tidak hadir sebagai logam bebas, melainkan terikat dalam mineral seperti monasit, bastnasite, dan xenotim.

Padahal, dalam beberapa tahun terakhir, REEs adalah tulang punggung teknologi modern, mulai baterai kendaraan listrik, turbin angin, hingga perangkat elektronik canggih.

Pada sebuah seminar di Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, baru-baru ini, Hseu mengajak ilmuwan ilmu tanah dan para penerusnya yaitu para mahasiswa ilmu tanah untuk mempelajari lebih dalam REEs.

Tambang Emas Tradisional
Tanah galian yang diayak adalah salah satu bagian proses dalam tambang emas tradisional (ig@tambang.emas.ternate)

Riset REEs

Kajian REEs sangat relevan bagi ilmu tanah dan mendesak karena ahlinya masih terbatas.

Di tengah krisis lingkungan global, perubahan iklim, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pangan dan kesehatan manusia, perilaku REEs di tanah harus dipahami.

Riset global mengungkap China mendominasi cadangan global (48,41 persen), diikuti Brasil (23,11 persen) dan India (7,59 persen). Negara kontributor penting lainnya Australia, Rusia, dan Vietnam.

Negara-negara seperti Amerika Serikat, Greenland, Kanada, dan beberapa negara Afrika memiliki pangsa yang relatif lebih kecil.

Tidak ada data tentang Indonesia. Sehingga muncul pertanyaan, apakah memang cadangan REEs sebetulnya rendah di kerak bumi Indonesia atau tidak ada data tersebut.

Sebab, belum ada kajian mendalam tentang REEs yang terekam dunia.

Di sinilah letak tantangan sekaligus peluang bagi ilmuwan tanah Indonesia. Dibanding negara lain, data dan informasi REEs di sistem tanah Indonesia juga masih sangat terbatas.

Padahal, secara geologis, Indonesia memiliki keragaman bahan induk yang luar biasa dari batuan ultramafik yang kaya logam hingga sedimen aluvial yang kompleks.

Setiap jenis tanah berpotensi memiliki sidik jari REEs yang unik.

Keterbatasan data ini bukan sekadar kekurangan ilmiah, tetapi dapat menjadi kelemahan strategis.

Indonesia memiliki potensi REEs yang cukup besar, terutama sebagai mineral ikutan dari tailing tambang timah, serta dalam kadar lebih kecil pada laterit nikel dan bauksit.

Namun hingga saat ini pemanfaatannya masih terbatas karena kendala teknologi ekstraksi, isu lingkungan, dan minimnya data serta riset terintegrasi, sehingga pengembangan REEs di Indonesia masih berada pada tahap eksplorasi.

Menurut Hseu, di Indonesia kemungkinan besar banyak dijumpai REEs yang berasal dari mineral serpentin, karena sebagian besar wilayah Indonesia berada pada ring of fire dan wilayah patahan yang memungkinkan serpentin terbentuk.

Dalam serpentin sering dijumpai nikel dan krom, dan beberapa REEs yang terbawa.

Dengan demikian Indonesia sangat potensial untuk menjadi objek riset REEs serta dampaknya ke depan.

Di era ketika isu lingkungan, kesehatan, dan keberlanjutan semakin terintegrasi, ketidakpahaman terhadap komponen seperti REEs dapat menghambat pengambilan keputusan berbasis sains.

Sudah saatnya agenda riset ilmu tanah di Indonesia diperluas. Tidak lagi hanya berfokus pada N, P, dan K, tetapi juga mencakup unsur-unsur jejak seperti REEs yang memiliki implikasi lintas sektor.

Tentu hal ini membutuhkan kolaborasi multidisiplin antara ahli tanah, geokimiawan, ahli lingkungan, hingga pakar kesehatan masyarakat. Demikian juga diperlukan dukungan kebijakan.

Pemerintah, melalui lembaga penelitian dan pendidikan, perlu mendorong pengembangan database nasional REEs, termasuk pemetaan distribusi, bioavailabilitas, dan potensi risikonya.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kompetisi global dalam penguasaan sumber daya strategis, logam tanah jarang (REEs) bukan lagi sekadar isu teknis atau akademik, tetapi menjelma menjadi instrumen kekuatan ekonomi dan politik.

Ketika negara seperti Tiongkok mampu memanfaatkan dominasi produksinya untuk mempengaruhi rantai pasok global, Indonesia justru masih berkutat pada tahap eksplorasi data dasar.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran jangan sampai Indonesia kembali mengulang pola lama kaya sumber daya, tetapi miskin nilai tambah.

Potensi REEs

Indonesia memiliki indikasi potensi REEs dari berbagai sumber, mulai dari tailing timah hingga laterit nikel.

Bahkan, kemungkinan besar tersimpan dalam sistem tanah yang selama ini belum banyak disentuh kajian mendalam.

Namun tanpa data yang kuat, tanpa riset yang terarah, dan tanpa keberanian mengambil langkah strategis, potensi tersebut akan tetap menjadi “angka di atas kertas”.

Lebih jauh, pendekatan terhadap REEs tidak boleh semata-mata berorientasi eksploitasi.

Pengalaman global menunjukkan bahwa ekstraksi REEs kerap membawa konsekuensi lingkungan yang serius jika tidak dikelola dengan hati-hati.

Di sinilah Indonesia memiliki peluang untuk mengambil jalan berbeda mengembangkan riset sejak hulu, memahami perilaku REEs dalam sistem tanah, serta merancang strategi pemanfaatan yang berbasis keberlanjutan.

Peran perguruan tinggi dan lembaga riset menjadi sangat krusial. Sudah saatnya kampus tidak hanya menjadi konsumen ilmu dari luar negeri, tetapi juga produsen pengetahuan yang relevan dengan kondisi lokal.

Penelitian REEs di tanah-tanah Indonesia dapat menjadi kontribusi ilmiah yang signifikan di tingkat global, sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia dalam diskursus sumber daya strategis dunia.

Di sisi lain, pemerintah perlu hadir tidak hanya sebagai regulator, tetapi sebagai akselerator.

Investasi pada riset dasar, pembangunan database nasional, serta insentif untuk kolaborasi lintas disiplin harus menjadi prioritas.

Tanpa itu, Indonesia berisiko tertinggal dalam perlombaan teknologi yang sangat bergantung pada REEs; mulai dari energi terbarukan hingga industri pertahanan.

REEs bukan hanya tentang unsur kimia, tetapi tentang pilihan arah masa depan.

Apakah Indonesia akan menjadi pemain aktif yang menentukan arah, atau sekadar pasar yang mengikuti arus? Jawabannya sangat bergantung pada langkah yang kita ambil hari ini.

Pada akhirnya, transformasi ilmu tanah bukan hanya menambah variabel pada analisis tanah, tetapi menggeser cara pandang.

Tanah bukan sekadar media tumbuh tanaman dan produksi pangan, tetapi sistem kompleks yang menghubungkan geosfer, biosfer, dan antroposfer.

REEs dapat menjadi salah satu pintu masuk memahami kompleksitas tersebut.

*) Oleh Nabilla M SP MSi, Leviana SP MSc, Halim Ma’sh
Penulis adalah Dosen Ilmu Tanah di Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *