PONTIANAK, borneoreview.co – Manusia di era media sosial telah bermetamorfosis dari Homo sapiens menjadi Homo commentarius. Manusia berkembang dari hewan yang berpikir bijak menjadi hewan yang hobi berkomentar di jagad media sosial.
Karakter baru itu muncul karena media sosial memberi ruang bagi informasi untuk masuk dengan cepat ke setiap gawai di genggaman tangan serta memungkinkan publik merespons secara interaktif.
Dampaknya, informasi mengalir deras, sehingga terjadi banjir informasi. Sebaliknya komentar pun mengalir cepat, menjadi informasi baru, sehingga terjadi banjir bah informasi.
Harus diakui, ekosistem tersebut cocok di alam demokrasi modern, meskipun tentunya membutuhkan keterampilan manusia untuk berkomentar secara cerdas.
Ekosistem demokrasi bermasyarakat dan bernegara menjadi sehat ketika demokrasi mampu melahirkan kesejahteraan serta kebijaksanaan umat manusia sebagai puncak ciptaan tertinggi Tuhan Yang Maha Esa.
Komentar setiap manusia merupakan wujud dari pikiran dan proses berpikir pemiliknya serta pada ujungnya memengaruhi cara bertindak manusia.
Pada konteks ini ekspresi berkomentar di media sosial menjadi penting karena menjadi penanda pikiran manusia pada zaman sekarang.
Dua Dimensi
Berabad-abad para filsuf telah banyak merumuskan tentang cara berpikir. Paling tidak terdapat dua dimensi penting cara berpikir dan bersikap manusia dalam menerima informasi.
Pertama, berdasarkan cara memproses informasi atau gagasan baru, yaitu kritis dan konformis. Kedua, berdasarkan cara merespons informasi atau gagasan baru, yaitu terbuka dan tertutup.
Pada dimensi pertama, berpikir dan bersikap kritis merupakan cermin pribadi yang memiliki independensi intelektual.
Seseorang yang berpikir dan bersikap kritis tidak sepenuhnya tunduk pada opini mayoritas, propaganda, atau tekanan sosial.
Manusia kritis mampu mengevaluasi informasi, argumen, dan kekuasaan secara mandiri serta rasional.
Ia tidak mudah percaya begitu saja, memeriksa bukti, mempertanyakan asumsi, dan mampu mengoreksi dirinya sendiri.
Pada bentuk paling ekstrem berpikir dan bersikap kritis dapat berubah menjadi sinisme, skeptisisme ekstrem, atau kesombongan intelektual.
Sebaliknya, berpikir dan bersikap konformis merupakan cermin pribadi yang kurang independen secara intelektual.
Pribadi konformis mudah ikut arus, menerima narasi populer pemilik otoritas tanpa verifikasi, dan takut berbeda pendapat.
Pada bentuk paling ekstrem, konformisme membuat seseorang menerima hegemoni sebagai sesuatu yang normal dan tidak perlu dipertanyakan.
Pada dimensi kedua, berpikir dan bersikap terbuka merupakan kesediaan menerima informasi, bahkan gagasan baru.
Sikap paling penting dari pribadi terbuka adalah kesadaran bahwa terdapat kemungkinan diri sendiri dapat berpikir salah dan orang lain mungkin benar.
Keterbukaan berarti bersedia mendengar, berdialog tanpa alergi terhadap perspektif baru. Manusia berpikiran terbuka tidak otomatis setuju dengan semua pendapat, tetapi memberi ruang bagi pendapat untuk dipertimbangkan.
Pribadi berpikir terbuka tetap nyaman dengan perbedaan, bersedia belajar hal baru, bersedia merevisi pandangan yang semula diyakini, serta tidak mudah menghakimi.
Berpikir terbuka penting dalam bidang ilmu pengetahuan, demokrasi, inovasi, dan kehidupan yang multikultural.
Sebaliknya, berpikir dan bersikap tertutup merupakan kecenderungan menolak informasi atau perspektif yang bertentangan dengan keyakinan sendiri.
Pribadi tertutup umumnya defensif terhadap kritik, sulit menerima koreksi, dan nyaman dalam “ruang gema” kelompok sendiri.
Sikap tertutup terbentuk karena rasa takut, identitas kelompok yang kuat, pengalaman traumatis, atau mendapat dogma keyakinan ideologis yang sangat kuat.
Pribadi tertutup sulit mendengar pandangan berbeda, cepat menolak sebelum memahami, menganggap kritik sebagai ancaman, hanya percaya pada kelompok sendiri.
Pada bentuk ekstrem, berpikir tertutup dapat melahirkan dogmatisme, polarisasi, intoleransi, dan fanatisme.
Empat Kuadran
Penulis menawarkan dua dimensi berpikir dan bersikap tersebut diletakkan sebagai sumbu vertikal dan sumbu horizontal yang dapat membentuk empat kuadran.
Posisi di setiap kuadran dapat menjadi alat bantu menggambarkan empat tipologi cara berpikir dan bersikap manusia dalam memproses dan merespons informasi dan gagasan baru.
Kuadran pertama, kritis-tertutup. Tipe ini biasanya sangat analitis dan skeptis, tetapi sulit menerima perspektif lain.
Pada bentuk ekstrem, ia dapat berubah menjadi sinisme intelektual karena merasa semua pihak salah dan dirinya sendiri paling benar.
Kritik berubah bukan menjadi alat mencari kebenaran, melainkan identitas sosial.
Kuadran kedua, konformis-tertutup. Tipe ini merupakan pola pikir yang paling rentan terhadap fanatisme dan propaganda.

Manusia dengan pola ini cenderung menerima narasi kelompok atau otoritas tanpa evaluasi kritis, sekaligus menolak pandangan di luar kelompoknya.
Dalam sejarah politik dunia, pola pikir seperti ini sering menjadi lahan subur bagi otoritarianisme.
Kuadran ketiga, konformis-terbuka. Sekilas tipe ini tampak modern dan toleran karena menerima banyak pandangan. Namun, karena minim refleksi kritis, ia mudah terbawa tren, viralitas media sosial, dan opini populer yang berubah cepat.
Pola pikir seperti ini sangat mudah dipengaruhi algoritma dalam masyarakat digital.
Kuadran keempat, kritis-terbuka yang merupakan tipe berpikir paling sehat bagi demokrasi dan masa depan bangsa. Manusia dengan pola pikir kritis-terbuka mampu berpikir mandiri, tetapi tetap mau menerima koreksi.
Ia tidak mudah termakan propaganda, tetapi juga tidak menolak informasi hanya karena berasal dari pihak yang berbeda pandangan politik.
Sikap ini melahirkan warga negara yang rasional, dialogis, dan konstruktif.
Lalu, pola pikir seperti apa yang dibutuhkan Bangsa Indonesia hari ini?
Jawabannya bukan masyarakat yang selalu setuju dengan pemerintah, tetapi juga bukan masyarakat yang selalu marah terhadap negara.
Bangsa membutuhkan warga yang kritis, sekaligus terbuka. Warga yang mampu mendukung kebijakan baik, tetapi juga berani mengoreksi, ketika kebijakan bermasalah.
Dalam konteks kebijakan publik, seperti program Makan Bergizi Gratis, swasembada pangan, swasembada energi, hingga koperasi merah putih, maka Bangsa Indonesia pada dasarnya paling membutuhkan cara berpikir dan sikap pada kuadran keempat yaitu kritis-terbuka.
Bukan berpikir dan bersikap konformis ekstrem yang menerima semua kebijakan begitu saja atau kritis ekstrem yang otomatis menolak semua kebijakan pemerintah.
Mengapa cara berpikir dan sikap kritis-terbuka penting? Hal itu karena kebijakan publik selalu menghadapi kondisi yang kompleks.
Kebijakan publik secara filosofis tentu memiliki tujuan baik dengan harapan mencapai manfaat besar, tetapi dalam realisasinya selalu terdapat keterbatasan anggaran, risiko implementasi, kemungkinan salah desain.
Warga negara yang sehat secara demokratis seharusnya terbuka dalam makna bersedia memahami tujuan kebijakan, tidak langsung sinis, serta memberi ruang bagi eksperimen negara, sehingga tidak menolak hanya karena sentimen politik.
Sikap kritis juga dibutuhkan untuk mempertimbangkan efektivitas, mengawasi anggaran, menilai data, memeriksa dampak nyata, bahkan mengkritik jika ada penyimpangan.
Misalnya, apakah tepat sasaran? Apakah ada kebocoran? Apakah kualitas output baik? Apakah berkelanjutan secara fiskal? Apakah ada efek ketergantungan?
Sikap ideal warga negara yang paling dewasa adalah warga negara kritis-terbuka yang rasional, independen, tetapi tetap konstruktif.
Bangsa maju biasanya tidak dibangun oleh rakyat yang selalu patuh atau rakyat yang selalu marah, tetapi oleh masyarakat yang mampu mendukung sekaligus mengoreksi negara secara dewasa.
Ekosistem demokrasi yang sehat memerlukan kepercayaan, pengawasan, dialog, dan literasi publik.
Tanpa keterbukaan kritik berubah menjadi kebencian. Tanpa kritik dukungan berubah menjadi kultus. Pada konteks inilah Homo commentarius menjadi bermanfaat untuk peradaban manusia.
*) Dr Destika Cahyana, SP, MSc adalah peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) & Fasilitator di Forum Diskusi Pemuda Rumpin
