Membaca Guruh dari Panggung, Bukan dari Podium Soekarno

Guruh

SLEMAN, borneoreview.co – Seperti diberitakan ANTARA, pada pukul 04.16 WIB, Sabtu, 26 September 2026, Guruh Soekarnoputra mengembuskan napas terakhir di Jakarta dalam usia 73 tahun.

Berita itu segera bergerak dari satu layar ke layar lain, seperti kabar duka pada umumnya. Namun, ada sesuatu yang menarik dalam cara kita memberitakannya, bahwa hampir seketika, nama Guruh disertai keterangan yang sudah begitu akrab, “anak bungsu Soekarno.”

Keterangan itu tentu benar dan relevan secara jurnalistik. Guruh memang putra bungsu Soekarno dan Fatmawati. Namun, ada perbedaan antara fakta biografis dan identitas yang terus-menerus dilekatkan. Fakta biografis menjelaskan asal-usul seseorang, sedangkan identitas yang terlalu lama ditempelkan justru dapat menghalangi kita melihat arah langkahnya sendiri.

Mungkin inilah ironi terakhir dalam hidup Guruh. Bahkan ketika ia telah berpulang, kita masih kesulitan menyebut namanya tanpa terlebih dahulu menyertakan bayang-bayang sang ayah.

Karena itu, berpulangnya Guruh semestinya tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengenang, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki cara kita mengingat.

Kita perlu, setidaknya untuk sesaat, membebaskan Guruh dari kurungan gelar “anak bungsu.” Bukan karena ikatan darah itu tidak penting. Justru karena terlampau penting, sehingga kerap menelan seluruh narasi tentang karya dan kehidupannya sendiri.

Ada kecenderungan dalam cara kita memandang anak-anak tokoh besar; Kita selalu mengukur mereka melalui bayang-bayang orang tuanya. Seolah-olah seorang anak dari tokoh besar harus terus menjawab pertanyaan yang sama: seberapa dekat ia dengan kebesaran ayah atau ibunya?

Guruh menanggung beban itu dengan cara yang spesifik. Ia lahir dari salah satu sosok paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Nama Soekarno bukan sekadar identitas seorang ayah. Ia adalah tanda bagi suatu zaman, simbol lahirnya republik, mitologi politik, hingga imajinasi tentang Indonesia itu sendiri.

Lantas, bagaimana mungkin seorang anak tumbuh melampaui bayang-bayang tokoh sebesar itu?

Di sinilah letak persoalan utamanya. Sering kali kita lupa bahwa seseorang tidak dapat memilih garis keturunannya, sebagaimana ia tidak memilih ukuran sejarah yang digunakan untuk menilainya.

Menjadi “anak Soekarno” adalah fakta biologis dan sejarah. Itu bukan karya. Karya dimulai ketika seseorang mengambil hidupnya sendiri dan memutuskan apa yang hendak ia lakukan dengan warisan yang diterimanya.

Dalam hal ini, Guruh memilih jalan yang tidak sepenuhnya mengikuti jejak ayahnya. Ia masuk ke dunia seni, musik, tari, koreografi, dan pertunjukan. Ia membangun ruang ekspresi yang mempertemukan tradisi dengan modernitas, kebudayaan dengan musik populer, serta masa lalu dengan kemungkinan-kemungkinan baru.

Di sanalah Guruh seharusnya lebih banyak dibaca. Bukan sebagai “Soekarno kecil,” melainkan sebagai “Guruh.”

Guruh memang tumbuh dalam rumah yang sarat politik dan kebudayaan. Namun, karya tidak lahir hanya dari silsilah. Karya lahir dari disiplin, kegelisahan, pencarian, eksperimen, kegagalan, dan kerja panjang.

Guruh Gipsy, misalnya, menunjukkan keberaniannya mempertemukan musik modern dengan idiom gamelan dan bunyi-bunyi tradisional. Berbagai pergelaran karya yang kemudian ia lahirkan memperlihatkan gagasannya bahwa Indonesia dapat menjadi modern tanpa harus kehilangan ingatan kebudayaannya.

Bagi Guruh, tradisi bukan benda mati yang mesti dikurung dalam lemari kaca. Tradisi adalah entitas yang terus bergerak, beradaptasi, dan berdialog dengan zamannya. Karena itu, modernitas tak selalu berarti memunggungi masa lalu. Kadang-kadang, justru masa lalu yang diberi panggung untuk bersuara melalui bahasa baru.

Di sinilah salah satu sumbangan terbesar Guruh. Ia memperlakukan kebudayaan bukan sebagai museum yang beku, melainkan sebagai panggung yang hidup.

Tak Hanya Manusia Panggung

Tentu saja, Guruh bukan hanya manusia panggung. Ia juga melangkah ke gelanggang politik dan menjadi anggota DPR dalam kurun waktu yang panjang. Pilihan itu tentu menariknya kembali ke orbit sejarah keluarga. Di sinilah nama besar Soekarno hadir kembali secara alami.

Kendati demikian, rekam jejak Guruh menegaskan bahwa manusia tidak dapat dibatasi oleh satu label tunggal. Ia merupakan seniman di medan politik, putra Soekarno yang mengukir reputasi melalui seni, figur kreatif di lembaga negara, sekaligus sosok yang peduli pada pendidikan dan perkembangan teknologi.

Oleh karena itu, warisan Guruh tidak sekadar diukur dari kuantitas karya atau catatan dalam buku sejarah seni. Warisan seorang seniman melampaui daftar karyanya dan hidup dalam gagasan serta sudut pandang baru yang ia tawarkan.

Potensi itulah yang acap kali kabur ketika seseorang terus-menerus ditempatkan di bawah bayang-bayang sang ayah.

Istilah “nepotisme sejarah” mungkin terdengar ekstrem, tetapi relevan untuk menggambarkan persoalan ini.

Hal tersebut bukan berarti Guruh meraih posisinya semata-mata karena faktor keluarga. Asumsi demikian memerlukan pembuktian yang kompleks. Hal yang lebih nyata adalah bias publik dalam menilai seseorang hanya melalui silsilahnya.

Masyarakat kita memiliki kecenderungan kuat terhadap garis keturunan dengan selalu mencari hubungan antarnama besar, menelusuri trah, pewaris, dan penerus. Akibatnya, silsilah kerap disalahartikan sebagai ukuran kualitas seseorang.

Padahal, fungsi sejarah justru sebaliknya, yakni memisahkan antara takdir kelahiran dan pencapaian pribadi; antara warisan yang diterima sejak lahir dan kerja keras sepanjang hidup.

Guruh tidak bisa memilih lahir sebagai putra Soekarno, tetapi ia memilih jalan hidupnya sendiri sebagai seniman. Ia memilih musik, tari, panggung pertunjukan, politik, serta mendedikasikan hidupnya pada pengembangan budaya. Pilihan-pilihan objektif inilah yang layak dinilai ketika kita membicarakan warisannya.

Seseorang tidak semestinya direduksi menjadi sekadar catatan kaki tokoh lain hanya karena ia lahir dari keluarga yang telah mengukir sejarah lebih awal.

Sudah saatnya kita mengubah sudut pandang dalam menilai sosok Guruh.

Jangan mengukurnya dari podium, melainkan dari panggung pertunjukannya. Di podium, ia akan selalu dibayang-bayangi oleh nama Soekarno. Namun, di atas panggung, ia berdiri di bawah cahayanya sendiri.

Podium sang ayah adalah ranah sejarah politik yang diisi oleh orasi, revolusi, kemerdekaan, dan ideologi bernegara. Warisan tersebut sudah memiliki tempat tersendiri dalam sejarah bangsa. Guruh tidak bertugas untuk mengalahkan atau meniru pencapaian itu.

Di sinilah letak keunikan peran Guruh. Ia menunjukkan bahwa keturunan tokoh besar tidak wajib menjadi salinan orang tuanya untuk dianggap relevan. Ia berhak memilih media yang berbeda, menciptakan ruang baru, serta memberikan kontribusi yang tidak ditawarkan oleh ayahnya.

Jika Soekarno membentuk Indonesia melalui retorika, gagasan, dan keputusan politik, Guruh merajut Indonesia lewat komposisi bunyi, olah gerak, rupa, dan seni panggung. Satu bersuara dari podium, satu lagi berkarya dari panggung. Keduanya, melalui jalan masing-masing dalam mengekspresikan kecintaan pada Indonesia.

Kini Guruh telah berpulang. Hal yang tersisa adalah karya, ingatan, dan sebuah pertanyaan retoris: Apakah kita akan terus mengingatnya sekadar sebagai anak Soekarno, atau mulai mencoba mengenang Soekarno juga sebagai ayah dari seorang Guruh?

Pertanyaan itu sama sekali bukan untuk membalik hierarki sejarah, melainkan pengingat bahwa martabat seorang manusia tak sepenuhnya dapat didefinisikan oleh garis keturunannya.

Dengan segala karya dan karsanya, sudah saatnya nama Guruh berdiri tegak tanpa penyangga nama besar sang ayah; tak perlu terus-menerus dibaca melalui lembar silsilah. Biarlah publik mengenalnya melalui musik yang ia lahirkan, tari yang ia gerakkan, panggung yang ia bangun, gagasan kebudayaan yang ia perjuangkan, serta jejak inspirasi yang ia tinggalkan.

Itulah cara paling adil untuk mengenang Guruh: bukan sebagai figur yang redup di balik nama besar sang proklamator, melainkan sebagai sosok yang berhasil menciptakan panggungnya sendiri.

Selamat jalan, Guruh. Biarkan panggung seni itu tetap menyala.(Ant)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *