JAKARTA, borneoreview.co – Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni mengatakan pihaknya sudah melakukan persiapan untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghadapi potensi kemarau lebih kering di tahun ini dan fenomena El Nino dini.
Menhut Raja Juli Antoni pun menyampaikan pihaknya sudah menerima laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait potensi musim kemarau yang lebih kering dan El Nino dini di bulan Juni.
“Tahun ini akan menjadi tahun latihan kita, termasuk mempersiapkan infrastruktur. Karena tahun depan sudah pasti El Nino,” kata Menhut seperti diberitakan Antara, Kamis (12/3/2026).
“Operasi modifikasi cuaca (OMC) hampir tidak mungkin dilakukan karena tidak ada awan untuk menyemai hujan,” tambahnya saat diitemui usai membuka kegiatan sterilisasi kucing dan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Ramah Hewan di Jakarta.
Pemerintah sudah melakukan rapat koordinasi antisipasi karhutla yang dipimpin oleh Menko Polkam Djamari Chaniago pada awal Maret lalu bersama Menhut dan kementerian/lembaga terkait.
Dia memastikan bahwa upaya pemadaman karhutla juga tengah dilakukan oleh Kemenhut lewat Manggala Agni di sejumlah provinsi, termasuk Riau dan Kalimantan Barat.
“Karena, kalau kita belajar dari sejarah, antisipasi dan kolaborasi itu yang menjadi sangat penting. Kalau sudah mulai terbakar baru kita bergerak, itu sulit. Jadi, Kalimantan dan Riau sudah mulai OMC,” tuturnya.
Sebelumnya, BMKG menyampaikan prediksi musim kemarau pada 2026 di wilayah Sumatera dimulai secara bertahap, pada Mei di Aceh bagian utara, sebagian Sumatera Utara, Riau bagian tenggara, sebagian Jambi, Sumatera Selatan bagian tengah, dan Lampung.
Musim kemarau kemudian akan dirasakan ke sebagian besar Aceh, Sumatera Barat, Riau, Jambi bagian tengah, sebagian Bengkulu, dan sebagian Sumatera Selatan pada Juni.
BMKG juga memberikan peringatan terkait prediksi terjadinya El Nino yang sebelumnya diprediksi akan muncul di tahun 2027, diperkirakan maju pada semester II tahun 2026.***
