PONTIANAK, borneoreview.co – Sebuah rumah besar bernama Kalimantan Barat. Di dalamnya, dua puluh empat suku bersandar pada akar yang sama.
Di tengah riuh langkah pembangunan, suara kepemudaan Batak menggema lewat musyawarah pertama.
Bukan sekadar formalitas, ini panggilan persatuan. Wakil Gubernur (Wagub) Krisantus Kurniawan hadir bukan hanya membuka acara, melainkan menegaskan perbedaan bukan tembok, melainkan jendela menuju Kalbar yang maju.
Sabtu (28/3/2026), udara Kota Pontianak terasa hangat disapa sinar pagi. Namun, denyut semangat yang lebih hangat lagi bergema di dalam Ruang Utama Hotel Maestro.
Puluhan pasang mata pemuda, napas masa depan, tertuju pada satu panggung. Mereka datang dari berbagai penjuru Bumi Khatulistiwa, memakai pakaian adat dengan aksen ulos yang melingkar di bahu, menyiratkan kebanggaan yang tak sekadar simbolis.
Mereka adalah bagian dari Pemuda Batak Bersatu (PBB) sebuah organ yang baru menginjak tapak pertama konsolidasi formal di daerah ini.
Di sinilah, Musyawarah Daerah (Musda) I Pemuda Batak Bersatu Tahun 2026 menjadi saksi sejarah.
Bukan sekadar agenda organisasi biasa. Ini tentang bagaimana sebuah kelompok etnis yang dikenal dengan kerasnya dalihan natolu dan filosofi mardalan do hula-hula merajut benih kebersamaan di tanah bukan hanya milik satu suku.
Sosok Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, melangkah masuk. Pria yang akrab disapa Wagub Kris ini tidak membawa serta hiruk-pikuk birokrasi semata.
Ia datang membawa pesan yang menohok, lugas, dan terukur seperti gaya kepemimpinannya yang dikenal tegas.
Di hadapan pemuda duduk rapi, ia berdiri. Bukan sebagai pejabat yang memberi instruksi sepihak, melainkan sebagai dongan tubu (saudara semarga dalam konteks luas) mengingatkan.
“Saya mengapresiasi terselenggaranya Musyawarah Daerah Pemuda Batak Bersatu yang pertama ini,” ucap Wagub Krisantus Kurniawan di hadapan peserta.
Kalimat itu bukan basa-basi. Di balik apresiasi, tersirat makna besar. Musda pertama adalah titik nol dari babak baru peran pemuda Batak di Bumi Kalimantan Barat.
Di tengah gejolak globalisasi dan tarikan kepentingan sektoral, konsolidasi adalah senjata paling tajam untuk menjaga keutuhan.
Di tengah sambutannya, satu kalimat Wagub Kris mengiris sekat-sekat semu yang kerap menggoda pikiran kolektif.
Ia dengan sadar menegaskan. “Batak yang ada di Kalimantan Barat adalah Batak Kalimantan Barat, bagian dari masyarakat Kalimantan Barat.”
Frasa Batak Kalimantan Barat bukan sekadar penyematan nama geografis. Ini adalah deklarasi filosofis.
Bahwa setelah kaki menginjak tanah ini, setelah napas menyatu dengan udara Khatulistiwa, maka setiap individu adalah bagian dari ekosistem sosial lebih besar.
Bukan lagi pendatang. Bukan lagi kelompok yang eksklusif. Melainkan bagian dari 24 suku telah lama hidup berdampingan.
Di Provinsi Kalimantan Barat, menurut catatan sosial yang hidup, adalah laboratorium toleransi.
Di sini, Melayu, Dayak, Tionghoa, Sunda, Jawa, Madura, Sunda, dan termasuk Batak, tidak hidup dalam kotak-kotak homogen yang tertutup.
Mereka bertukar cerita di warung kopi, berbagi ruang di pasar tradisional, dan saling mengisi dalam denyut pembangunan.
Wagub Krisantus Kurniawan melanjutkan dengan nada yang lebih dalam. Ia mengingatkan sebuah fakta fundamental yang kerap dilupakan.
Sebab, manusia itu tidak pernah memilih dilahirkan ke dalam suku, agama, atau budaya tertentu.
“Kita terlahir dengan suku, agama, dan budaya sebagai anugerah Tuhan. Itu bukan perbedaan yang memecah, tetapi justru menjadi pemersatu kita dalam membangun Kalimantan Barat,” ucap Wagub Krisantus Kurniawan mengingatkan.
Kalimat ini menggema di ruang sidang. Ia menyentuh pangkal akal sehat perbedaan adalah given, sedangkan persatuan adalah kerja.
Tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang bisa memprotes langit atas kodrat kelahirannya.
Maka, jalan paling mulia adalah menjadikan kodrat itu sebagai fondasi untuk saling memperkuat, bukan pijakan untuk saling menjatuhkan.
Tembok Tak Terlihat
Kala mengamati gerak sosial, maka, ada tembok tak terlihat yang sering membahayakan harmoni.
Tembok itu bernama eksklusivisme kelompok. Ketika sebuah komunitas terlalu larut dalam kebanggaan primordial tanpa membuka mata pada realitas kebersamaan, maka perlahan akan muncul jarak.
Jarak yang kemudian memicu kecurigaan, dan kecurigaan yang dibiarkan akan melahirkan konflik.
Wagub Krisantus Kurniawan, dengan pengalamannya memimpin birokrasi dan merangkul masyarakat, memahami hal ini.
Karena itu, ia mengeluarkan pernyataan yang tidak lazim disampaikan di forum organisasi etnis.
Dengan tegas, ia berkata, “Saya tidak akan mentolerir kelompok atau organisasi mana pun yang berpotensi memicu konflik di Kalimantan Barat.”
Pernyataan ini adalah garis batas. Ini pula bukan ancaman, melainkan komitmen kolektif semata.
Bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat di bawah kepemimpinannya bersama Gubernur tidak akan memberi ruang sedikit pun bagi narasi-narasi memecah belah.
Di sinilah Pemuda Batak Bersatu mendapatkan panggung strategis. Organisasi ini, dalam definisi Wagub Krisantus Kurniawan, harus menjadi agent of change dan agent of unity.
Sebab, agen perubahan itu bukan agen kemacetan sosial. Agen pemersatu, bukan agen sektarian.
Logika Gotong Royong
Dalam budaya Batak, ada falsafah hagabeon (keberhasilan) yang hanya bisa dicapai jika ada hamoraon (kekayaan/kemakmuran) dan hasangapon (kehormatan/martabat).
Ketiga unsur ini tidak akan pernah terwujud tanpa partuturan ikatan kekerabatan yang kuat.
Namun, ikatan itu dalam konteks Kalimantan Barat tidak boleh berhenti pada garis keturunan Batak. Ia harus meluas menjadi partuturan lintas suku.
Nilai-nilai luhur budaya Batak seperti gotong royong, kekeluargaan, dan persaudaraan adalah modal sosial yang sudah terbukti.
Di tanah perantauan, nilai-nilai ini justru menemukan bentuknya yang paling murni. Tidak ada lagi beban struktur adat kaku. Yang tersisa adalah jiwa solidaritas.
“Saya minta Pemuda Batak Bersatu tetap semangat di Kalimantan Barat. Mari kita bersatu padu membangun Kalimantan Barat menjadi provinsi yang maju,” ajak Wagub Krisantus Kurniawan.
Ajakan ini bukan sekadar seruan moral. Ia adalah panggilan untuk bergerak. Dalam pembangunan daerah, peran pemuda sangat dibutuhkan.
Mulai dari mengelola potensi sumber daya alam melimpah, memperkuat ketahanan pangan, hingga menciptakan ruang ekonomi kreatif inklusif.
Wagub Krisantus Kurniawan menegaskan bahwa pemerintah provinsi selalu membuka ruang kolaborasi.
Sinergi antara pemerintah dan organisasi masyarakat adalah kunci. Tidak ada pembangunan berkelanjutan jika masyarakat hanya menjadi penonton. Sebaliknya, tidak ada harmoni yang kokoh jika pemerintah berjalan sendiri.
Mengelola Sumber Daya
Kalimantan Barat menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Dari hasil hutan, perkebunan kelapa sawit, pertambangan, emas, hingga potensi perikanan dan pariwisata.

Namun, seringkali kekayaan ini menjadi sumber konflik jika tidak dikelola dengan kesadaran kolektif.
Di sinilah Pemuda Batak Bersatu bisa mengambil peran. Bukan sekadar menjadi pekerja di sektor-sektor ekonomi, melainkan menjadi pelaku utama bertanggung jawab.
Pemuda Batak, dengan etos kerja keras dan jiwa kewirausahaan kental, dapat menjadi garda depan dalam menggerakkan ekonomi daerah. Tentu saja, dengan semangat kebersamaan lintas suku.
Wagub Krisantus Kurniawan mengingatkan bahwa kesejahteraan masyarakat adalah tujuan akhir.
Tidak ada artinya pembangunan fisik jika manusia di dalamnya tetap dilanda kesenjangan sosial.
Oleh karena itulah, maka, organisasi kepemudaan harus mampu menerjemahkan program pembangunan dalam aksi-aksi nyata di lapangan.
Harmoni dalam Narasi Besar
Perihal ini tidak hendak meromantisasi perbedaan. Tapi memang, dalam realitas Kalimantan Barat, perbedaan adalah sesuatu yang hidup.
Dari perbedaan suku, lahir kekayaan budaya. Dari perbedaan agama, lahir toleransi diuji setiap hari. Dari perbedaan pilihan politik, lahir dinamika demokrasi yang dewasa.
Wagub Krisantus Kurniawan, dalam sambutannya, secara tidak langsung mengajak seluruh elemen untuk merawat narasi besar itu.
Bahwa pembangunan daerah bukan hanya urusan infrastruktur dan investasi. Lebih dari itu, pembangunan adalah tentang bagaimana 24 suku yang ada di Kalbar bisa merasa menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri.
Musda I Pemuda Batak Bersatu menjadi titik awal yang baik. Organisasi ini lahir bukan untuk menonjolkan eksklusivitas, melainkan untuk menjadi jembatan.
Jembatan antara nilai-nilai luhur budaya Batak dengan kebutuhan harmoni masyarakat Kalimantan Barat majemuk.
Dengan dibukanya musyawarah oleh Wagub Krisantus Kurniawan, ada sinyal kuat bahwa pemerintah mendukung inisiatif positif dari komunitas.
Namun, dukungan itu disertai pesan tegas: jangan sampai organisasi mana pun menjadi alat pemecah belah.
Seperti api yang tak boleh dibiarkan padam, persatuan di Kalimantan Barat adalah bara yang harus terus dijaga.
Di tengah angin perubahan yang kadang berhembus kencang, butuh tangan-tangan muda kuat untuk menggenggamnya.
Wagub Krisantus Kurniawan menutup sambutannya dengan nada optimistis. Bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah kepercayaan yang diberikan pada generasi muda.
Bahwa mereka mampu. Bahwa mereka akan menjadi pemilik masa depan yang tidak hanya sukses secara individu, tetapi juga mampu menjaga harmoni di sekitarnya.
Musda I Pemuda Batak Bersatu di Pontianak ini akan tercatat dalam sejarah. Bukan karena besarnya jumlah peserta, bukan karena gemerlap acara.
Tapi karena di forum inilah, seorang pemimpin daerah dengan tegas mengingatkan persatuan adalah segalanya.
Dan perbedaan adalah anugerah harus dirayakan, bukan dipertentangkan. Musti dirawat. Abadi. Kekal.
Di akhir, ketika doa bersama dipanjatkan di ruang pertemuan itu, ada satu harapan yang menggantung di langit Khatulistiwa.
Semoga Kalimantan Barat, rumah bersama bagi 24 suku, terus menjadi laboratorium harmoni yang menginspirasi Indonesia.***
