PONTIANAK, borneoreview.co – Udara di Timika terasa pekat, bukan saja oleh embun pagi menggantung di hutan-hutan sagu, namun oleh debu-debu kemilau diam-diam membentuk urat nadi perekonomian bangsa.
Di sini, di perut bumi Mimika, raksasa tambang Grasberg tertidur sekaligus berdetak kencang, menyimpan sebuah teka-teki angka yang fantastis.
Antara 1,76 juta ton hingga 1,87 miliar ton cadangan bijih emas. Sebuah rentang angka lebih mirip puisi epik ketimbang laporan eksplorasi, menggambarkan betapa misterius sekaligus besarnya karunia alam di tanah Papua.
Namun, Indonesia bukan cuma Papua. Ia adalah archipelago of gold, kepulauan emas yang berserakan dari barat hingga timur.
Lumbung Emas Nusantara
Jika kita terbang ke arah barat, melintasi garis Wallacea, pulau Sumbawa di Nusa Tenggara Barat menyambut dengan cadangan lain. Batu Hijau, namanya.
Tambang ini menyimpan sekitar 2,7 juta ton cadangan emas. Angka ini menempatkannya sebagai cadangan terbesar kedua, sebuah mahkota kerap terlupakan dalam bayang-bayang raksasa Papua.
Penerusan jelajah ke utara Kalimantan membawa kita pada estimasi lain. Pulau besar ini disebut menyimpan potensi sekitar 40 juta ton material emas.
Namun, datanya masih berserakan, belum terhimpun rapi dalam satu peta induk kekayaan.
Ia bagai cerita-cerita rakyat tentang gunung emas, baru separuh terbukti, separuh lagi masih jadi legenda yang menunggu pembuktian geologis.
Di Halmahera Utara, Maluku Utara, Gosowong telah melahirkan 20 juta ons logam mulia.
Sementara di ujung timur Jawa, Tujuh Bukit di Banyuwangi berdiri megah sebagai salah satu tambang terbesar, meski angka pastinya masih tertutup rapat.
Begitu pula Gunung Pongkor di Bogor, telah lama menjadi penambang andalan, meski cadangannya perlahan menipis.
Setiap wilayah punya cerita, punya potongan puzzle kekayaan yang bila disatukan, membentuk gambaran negeri yang sangat kaya.
Paradoks Produsen Besar
Pada tahun 2023, Indonesia memproduksi 132,5 ton emas murni. Sebuah angka yang menempatkannya di posisi ketujuh produsen emas global.
Peringkat prestisius. Namun, di balik angka gemilang itu, tersembunyi sebuah paradoks yang menyayat.
Direktur Hubungan Investor PT Hartadinata Abadi Tbk, Thendra Chrisnanda, memaparkan realitas pahit.
“Kita masih berada di rantai nilai bawah,” katanya, menyitir fakta bahwa ekspor gold dore atau emas kasar Indonesia mencapai $5 miliar, sementara di saat bersamaan harus mengimpor kembali emas batangan olahan senilai $2 miliar per tahun.
Indonesia menjual bahan mentah, lalu membeli barang jadi dengan harga berlipat. Kekayaan itu mengalir keluar, hanya menyisakan sedikit nilai tambah di dalam negeri.
Presiden RI, Prabowo Subianto, dalam sebuah kesempatan menegaskan pentingnya lompatan. “Peluncuran bank emas merupakan capaian positif,” ujarnya, menyambut momentum menjelang hari ulang tahun ke-80 Republik ini.
Bank emas, atau bullion bank, diyakini sebagai salah satu solusi memutus paradoks tersebut.
Thendra Chrisnanda menjelaskan peran strategis lembaga ini. “Bank bullion bukan lagi sekadar brankas megah”.
Ia adalah panggung tempat emas dalam perut bumi berubah jadi kekuatan di papan catur keuangan global.
Indonesia tak lagi hanya memungut remah-remah logam mentah, tapi mulai merajut mahkota dari setiap gramnya.
Balada Tantangan Regulasi
Data World Gold Council mencatat, cadangan emas resmi Indonesia pada 2023 mencapai sekitar 2.600 ton, peringkat keenam dunia.
Sebuah pundi-pundi yang sangat besar. Namun, monetisasinya terhambat oleh tembok regulasi yang berbelit dan literasi keuangan masyarakat masih terbatas.
Bank bullion diharap menjadi jembatan. Memberi alternatif bagi masyarakat untuk memiliki rekening emas secara aman dan terkontrol, menciptakan ekosistem likuiditas emas dalam negeri, sekaligus mendorong industri hilirisasi.
PT Hartadinata Abadi, misalnya, telah berkolaborasi dengan Bank Syariah Indonesia meluncurkan emas batangan eksklusif standar SNI, sebuah langkah kecil menuju kemandirian.
Namun, jalan masih panjang. Tantangan regulasi, tata kelola tambang berkelanjutan, dan distribusi manfaat bagi masyarakat sekitar lokasi tambang adalah pekerjaan rumah kolosal.
Emas-emas itu terbaring di bawah tanah, dari Grasberg hingga Tujuh Bukit, menunggu diolah bukan hanya menjadi logam mulia, tetapi menjadi fondasi kedaulatan ekonomi sesungguhnya.
Negeri ini menyimpan El Dorado-nya sendiri. Bukan kota legenda yang hilang, tetapi kekayaan nyata yang tersebar dari timur ke barat.
Pertanyaannya kini, mampukah kita mengubah cahaya kuning kemilau itu menjadi cahaya kemakmuran bagi seluruh anak bangsa?
Jawabannya, terpateri pada pilihan regulasi, keberanian berinovasi, dan kecerdasan mengelola anugerah terbesar bumi pertiwi.***
