Pasokan Batu Bara untuk Industri Semen Terganggu, ESDM: Nyari dari Tempat Lain

Batu Bara

TANGERANG, borneoreview.co – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berupaya untuk mengalihkan pasokan batu bara dari tempat lain guna memenuhi kebutuhan industri semen yang terganggu akibat surutnya sungai.

Melansir Antara, Rabu (23/9/2026), Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara (Dirjen Minerba) Tri Winarno mengatakan terganggunya pasokan batu bara karena karena sungai surut.

“Tetapi kami di (Ditjen) Minerba berupaya untuk mengalihkan atau nyari dari tempat lain,” ujarnya setelah menghadiri acara Electricity Connect 2026 yang digelar di Tangerang, Banten, Selasa kemarin.

Tri berharap permasalahan pasokan batu bara untuk industri semen dapat teratasi pekan ini atau pekan depan.

“Mudah-mudahan solved minggu. Minggu ini atau minggu depan sudah tuntas,” kata Tri Winarno.

Diwartakan sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menyampaikan angkutan batu bara di Kalimantan Timur (Kaltim) terhambat imbas penurunan debit air sungai atau sungai yang surut.

Kekeringan sungai di Kalimantan tak hanya berdampak pada mobilitas angkutan batu bara.

Kementerian ESDM juga mengidentifikasi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Kalimantan disebabkan oleh sungai yang surut, sehingga menjadi kendala bagi kapal distribusi energi.

“Di Kalimantan ini banyak terjadi. Saat ini, sungai ini mengalami kondisi surut, sehingga kapal-kapal yang biasanya mengirimkan melalui jalur sungai terkendala untuk proses pengiriman BBM,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman, Rabu lalu.

Laode menyampaikan permasalahan tersebut telah dimitigasi dengan memperbanyak truk-truk pengiriman BBM yang menggunakan jalur darat. Akan tetapi, volume angkut truk pengiriman BBM tidak sebesar angkutan sungai.

Wali Kota Samarinda, Kalimantan Timur Andi Harun meminta masyarakat menghemat penggunaan air bersih menyusul penyusutan debit Sungai Mahakam dan meningkatnya kadar klorida di air akibat kemarau panjang.

Andi Harun di Samarinda, Sabtu (30/8/2026), menegaskan kondisi Sungai Mahakam yang menyusut turut mempengaruhi operasional sejumlah fasilitas penyadapan (intake) air bersih di wilayah Palaran, Pulau Atas, Bukuan dan Bantuas.

Selain penurunan debit air, peningkatan kadar klorida menjadi faktor krusial karena berkaitan langsung dengan kualitas dan kelayakan air yang didistribusikan kepada masyarakat.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *