Pep Guardiola: Sisi Lain Legenda Manchester City dan Sir Alex Ferguson

Pep-Guardiola-Sir-Alex-Ferguson

PONTIANAK, borneoreview.co – Masih teringat jelas gambaran di Wembley pada 28 Mei 2011. Malam itu, Manchester United tertinggal 3-1 dari Barcelona di final Liga Champions, dan Sir Alex Ferguson tampak berbeda dari biasanya.

Kamera menyorot kedua tangannya yang bergetar. Sesaat kemudian, sorotan berpindah ke wajah Ferguson yang tetap mengunyah permen karet seperti ciri khasnya, tetapi kegugupan di raut mukanya sulit disembunyikan.

Di atas lapangan, Barcelona racikan Pep Guardiola yang diperkuat Lionel Messi muda, David Villa, Xavi, dan Andres Iniesta benar-benar mengobrak-abrik pertahanan Setan Merah yang dihuni nama-nama besar.

Seperti, Rio Ferdinand, Nemanja Vidic, Patrice Evra, Wayne Rooney, hingga Cristiano Ronaldo.

Sesudah pertandingan, Ferguson melontarkan kalimat yang sangat jarang keluar dari mulutnya.

“Belum pernah ada tim yang mempermalukan kami seperti itu.”

Selama puluhan tahun, Ferguson biasa memberi pelajaran. Malam itu, ia yang dipaksa belajar.

Pep Guardiola baru menjalani musim ketiganya bersama Barcelona, tetapi sudah mengoleksi dua gelar Liga Champions dan delapan trofi.

Dialah sosok yang memopulerkan tiki-taka legendaris yang kemudian melekat kuat pada identitas permainan Barcelona saat itu.

Gaya bermain itu pula yang dua kali membuat Sir Alex Ferguson, manajer paling berpengalaman di Eropa ketika itu, kewalahan di final kompetisi yang sama.

Setahun kemudian, Guardiola mengumumkan pengunduran dirinya dari Barcelona dan mengambil jeda panjang dari dunia kepelatihan dengan menetap di New York.

Ferguson memanfaatkan momen tersebut. Setelah Guardiola meninggalkan Barcelona pada pertengahan 2012, Ferguson mengajaknya makan malam di New York.

Saat itu, Ferguson memang belum mengumumkan pensiun, tetapi ia sudah mulai menyiapkan sejumlah kandidat penerusnya di Manchester United, dan Guardiola menjadi salah satu nama yang dipertimbangkan.

Dalam bukunya berjudul Leading, Ferguson mengaku sempat meminta Guardiola untuk menghubunginya sebelum menerima tawaran dari klub lain.

Namun, telepon itu tak pernah berdering. Guardiola akhirnya bergabung dengan Bayern Munich pada Juli 2013.

Guardiola sendiri merespons episode itu dengan nada setengah bercanda. Ia mengaku mungkin saja ada sinyal yang terlewat dalam makan malam itu.

Alasannya sederhana: kemampuan bahasa Inggrisnya saat itu belum terlalu baik, sementara Ferguson berbicara cepat dengan aksen Skotlandia yang kental sehingga tidak semua maksudnya bisa ia tangkap.

Guardiola menambahkan, ia tidak pernah merasa Ferguson secara langsung memintanya datang ke Old Trafford.

Menurutnya, mereka hanya berbincang tentang sepak bola, Premier League, dan kehidupan secara umum, tanpa ada tawaran resmi untuk melatih Manchester United.

Satu hal yang paling ia ingat justru hal yang lain: Ferguson memilih restoran yang sangat bagus, dan Ferguson pula yang membayar makan malam tersebut.

Apakah Guardiola memang tidak menangkap sinyal itu, atau memang sudah mantap menuju Jerman, tidak pernah terjawab sepenuhnya.

Yang jelas, tiga tahun setelah Bayern Munich, Guardiola justru memilih kota yang sama dengan Ferguson, tapi di sisi yang berbeda.

sir-alex-ferguson-untuk-pep-guardiola-setelah-laga-terakhir-bersama-manchester-city-
Pelatih Manchester City, Pep Guardiola dan legenda pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson.(MU)

Tahun Pertama Tanpa Piala

​​​​​​​Pada Februari 2016, Guardiola diumumkan sebagai manajer baru Manchester City untuk menggantikan Manuel Pellegrini. Etihad menyambutnya dengan antusiasme sebesar ambisi klub saat itu.

City yang tengah agresif menggelontorkan dana demi membangun dominasi meyakini Guardiola adalah sosok paling tepat, terlebih ia datang dengan reputasi mentereng: 21 trofi bersama Barcelona dan Bayern Munich.

Guardiola memulai dengan luar biasa. City memenangi 10 pertandingan pertama di semua kompetisi, termasuk menundukkan Manchester United asuhan Jose Mourinho di Old Trafford. Namun, di situlah euforia awal perlahan mulai meredup.

Serangkaian hasil buruk kemudian datang silih berganti. Puncaknya terjadi saat City dihajar Everton 4-0 di Goodison Park.

Yang saat itu menjadi kekalahan terbesar Guardiola di liga sepanjang karier kepelatihannya.

Dari tribun tuan rumah, nyanyian you’ll be sacked in the morning (kau akan dipecat besok pagi) menggema mengiringi malam buruk tersebut.

Untuk pertama kalinya sebagai pelatih, Guardiola menutup musim tanpa satu pun trofi. Manchester City hanya finis di posisi ketiga Liga Inggris.

Bagi Guardiola, yang meraih 14 trofi dalam empat musim bersama Barcelona dan tujuh trofi dalam tiga musim di Bayern Munich, situasi itu menjadi bentuk ketidaknyamanan yang sudah lama tidak ia rasakan.

The Centurions

Musim 2017/2018 menjadi jawaban atas semua keraguan, yang muncul pada tahun pertama Guardiola di Manchester City.

City menutup Premier League dengan 100 poin, rekor yang belum pernah dicapai tim mana pun dalam sejarah Liga Inggris. Mereka juga mencetak 106 gol sepanjang musim.

Dari situlah julukan The Centurions melekat pada City. Raihan poin mereka terasa tidak masuk akal untuk ukuran kompetisi seketat Premier League. Tidak ada tim sebelumnya yang mampu mendekati angka tersebut.

City bahkan mengakhiri musim dengan selisih 19 poin dari rival sekota sekaligus runner-up, Manchester United.

Dominasi itu berlanjut pada musim 2018/2019. City kembali menjuarai Premier League, lalu melengkapinya dengan gelar FA Cup dan EFL Cup.

Treble domestik tersebut menjadikan Manchester City sebagai tim pertama dalam sejarah sepak bola Inggris yang mampu menyapu tiga trofi itu dalam satu musim.

Guardiola juga mengukuhkan dominasi City di ajang EFL Cup dengan meraih empat gelar beruntun pada periode 2018 hingga 2021.

Namun, masih ada satu trofi yang terasa seperti utang bagi Guardiola di Manchester City: Liga Champions.

City mencapai final untuk pertama kalinya dalam sejarah klub pada musim 2020/2021, tetapi kalah 1-0 dari Chelsea di Porto.

Dua tahun kemudian, jawaban itu akhirnya datang dari Istanbul.

Sang Treble

Juni 2023. Stadion Olimpiade Ataturk, Istanbul. Manchester City mengalahkan Inter Milan 1-0 lewat gol Rodri pada menit ke-68 untuk merebut gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub.

Namun pencapaian itu bukan sekadar soal trofi Liga Champions. City juga memastikan treble setelah sebelumnya menjuarai Premier League dan FA Cup pada musim yang sama.

Guardiola kembali mencatatkan sejarah dengan menjadi pelatih pertama yang mampu meraih treble Eropa dua kali bersama dua klub berbeda, setelah sebelumnya melakukannya bersama Barcelona pada musim 2008/2009.

Sir Alex Ferguson, yang meraih pencapaian serupa bersama Manchester United pada 1999, menyaksikan langsung ketika Guardiola memenangkan treble pertamanya di Roma pada 2009, dalam musim debutnya melatih Barcelona.

Menjelang final di Istanbul, Ferguson bahkan mengirim pesan kepada Guardiola. Sang pelatih asal Spanyol mengungkapkan bahwa ia menerima pesan tersebut pada pagi hari sebelum pertandingan.

Bagi Guardiola, disejajarkan dengan Ferguson dalam sejarah treble Eropa merupakan kehormatan tersendiri.

Sebuah lingkaran yang tidak sederhana: Ferguson dua kali dikalahkan Guardiola di final Liga Champions, lalu pada momen puncak berikutnya, justru Ferguson yang mengirim ucapan selamat atas keberhasilan Guardiola meraih treble bersama Manchester City.

Empat Gelar Beruntun

Tidak berhenti di situ. Pada musim 2023/2024 menambahkan dimensi yang berbeda bagi Guardiola.

City dinobatkan sebagai juara Premier League sekaligus menjadi tim pertama dalam sejarah sepak bola Inggris yang memenangi empat gelar divisi teratas berturut-turut.

Ini melampaui rekor tiga kali beruntun Liverpool era 1980-an dan Manchester United di era Ferguson.

Guardiola menjelaskan bahwa motivasi tambahan tersebut justru lahir setelah keberhasilan di Istanbul. Setelah merasa seperti “sudah selesai” usai memenangkan Liga Champions, ia terdorong oleh kenyataan.

Bahwa, belum pernah ada tim dalam sejarah Liga Inggris yang mampu mengubah tiga gelar beruntun menjadi empat.

Di tengah dominasi itu, ada satu rivalitas yang ikut mendefinisikan era Premier League modern: persaingan Guardiola dengan Jurgen Klopp.

Selama delapan tahun, duel Manchester City kontra Liverpool selalu menjadi pertandingan yang paling ditunggu.

Pertemuan keduanya menghadirkan kualitas taktik, intensitas, dan level permainan yang dianggap melampaui banyak era sebelumnya di Liga Inggris.

Dua gelar Premier League berhasil direbut City dengan selisih hanya satu poin dari Liverpool. Klopp membalas dengan membawa Liverpool menjuarai Liga Champions 2019 dan Premier League 2020.

Sepanjang karier kepelatihan mereka, Klopp dan Guardiola sudah saling berhadapan sebanyak 29 kali. Klopp meraih 11 kemenangan, jumlah terbanyak yang pernah dicatat seorang manajer atas Guardiola.

Di sisi lain, Guardiola juga membalas dengan 10 kemenangan, yang menjadi jumlah kemenangan terbanyaknya atas satu manajer sepanjang karier.

Guardiola sendiri menyebut Klopp sebagai rival terbesar dalam karier kepelatihannya. Ia juga mengakui bahwa Klopp membuatnya berkembang menjadi pelatih yang lebih baik.

Musim Terakhir

Setelah musim 2024/2025 yang berat, yang menjadi salah satu musim terburuk City di bawah Guardiola dengan hanya menjuarai Community Shield, Guardiola memperbarui kontrak hingga 2027.

Keputusan Guardiola bertahan selama dua tahun tambahan sempat mengejutkan banyak pihak, terutama karena rumor kepergiannya sudah berembus kencang sejak lama. Namun, perjalanan itu pada akhirnya tidak benar-benar diselesaikan.

Seperti Jurgen Klopp yang mengaku kehabisan energi sebelum meninggalkan Liverpool, Guardiola juga mulai berbicara soal kelelahan dan kebutuhan untuk beristirahat dari intensitas dunia kepelatihan.

Pada musim terakhirnya tahun ini, Guardiola masih sempat mempersembahkan dua trofi: EFL Cup dan FA Cup.

Dua gelar itu melengkapi koleksi trofinya bersama Manchester City menjadi 20 piala.

Terdiri atas enam Premier League, tiga FA Cup, lima Carabao Cup, tiga Community Shield, satu Liga Champions, satu UEFA Super Cup, dan satu FIFA Club World Cup.

Pada 22 Mei 2026, Manchester City resmi mengonfirmasi kepergian Guardiola.

Ia meninggalkan Etihad dengan catatan 416 kemenangan dari 592 pertandingan, rasio kemenangan 70,3 persen, serta total 1.422 gol yang dicetak timnya sepanjang satu dekade kepemimpinannya.

Voicemail dari Ferguson

Beberapa hari sebelum laga kandang terakhirnya melawan Aston Villa, Pep Guardiola menerima sebuah pesan suara.

Pengirimnya adalah Sir Alex Ferguson, legenda Manchester United yang kembali memberikan ucapan selamat kepadanya.

Guardiola mengungkapkan secara singkat isi pesan tersebut. Ferguson, katanya, menyampaikan ucapan selamat atas perjalanan panjangnya bersama Manchester City dan seluruh pencapaian yang berhasil diraih.

Lalu Guardiola mengulang ucapan yang sama tentang Ferguson. “Dengan aksen Skotlandianya, saya kesulitan untuk mengerti. Itu pesan suara, saya akan menelponnya balik nanti.”

Ada ironi kecil yang terasa melingkari hubungan keduanya. Pada 2012, di sebuah restoran mahal di New York, Guardiola kemungkinan gagal menangkap sinyal dari Ferguson karena aksen Skotlandia yang sulit ia pahami sepenuhnya.

Empat belas tahun kemudian, pada 2026, saat Ferguson mengirim pesan suara untuk memuji pencapaian Guardiola bersama Manchester City.

Guardiola kembali mengaku tidak memahami semua kata-katanya—dengan alasan yang persis sama.​​​​​​​

Guardiola juga mengutip satu kalimat yang pernah dilontarkan Ferguson soal derby Manchester.

Dari hubungannya dengan sang legenda United itu, Guardiola yakin Ferguson masih akan menyebut Manchester City sebagai “tetangga yang berisik”.

Guardiola sendiri menarik perbandingan antara Ferguson dan mentornya, Johan Cruyff, yang meninggal pada 2016.

Dia merefleksikan pencapaian-pencapaiannya yang tidak pernah bisa dilihat oleh Cruyff.

“Saya sangat merindukan Johan Cruyff. Tapi saya senang Sir Alex, pelatih terbaik itu, masih bisa menyaksikan ini.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *