JAKARTA. borneo review.co – Membaca kisah orang-orang Jawa yang menjadi kuli kebun di Suriname, sedikit mengingatkan saya pada para keturunan transmigran di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Menjaga rindu pada kampung halaman meski jauh hidup di negeri orang.
Tahun 2011 adalah perjalanan pertama saya ke Kalimantan -Pontianak tepatnya. Beberapa kali mendapat kesempatan melakukan perjalanan kerja ke Papua, saya membayangkan Kalimantan Barat sesuatu yang berbeda.
Entah kenapa meski sudah beberapa kali mengunjungi daerah di luar Jawa, saya masih punya semacam kegelisah kecil menghadapi lingkugan baru. Membayangkan perbedaan bahasa, budaya, dan adat kebiasaan setempat.
Jejak Peradaban Jawa di Johor, Antara Persaudaraan dan Pembauran Budaya
Dari jendela sebelah kanan Lion Air tipe McDonell Douglas DC-10 saya melihat permukaan sungai yang asing. Panjang. Keperakan memantulkan sinar matahari.
Siang itu, begitu keluar dari pintu bandara, saya membuktikan perumpamaan “matahari tepat di atas kepala”. Di bumi Katulistiwa matahari benar-benar menjilat ubun-ubun. Panas. Lebih panas dari Jakarta.
Belum tuntas saya mencerna pengalaman baru itu, seorang laki-laki setengah baya mengulurkan tangan. Menyapa dalam bahasa yang saya kenal sejak kecil: Jawa.
Mendadak saya merasa berada di rumah. Naluri saya bilang, saya berada di tengah orang-orang yang tidak asing.
Ternyata selain dihuni warga asli Dayak dan Melayu, Kalimantan Barat -terutama Kubu Raya- juga menjadi rumah kedua bagi komunitas Jawa. Kebanyakan mereka adalah keturunan para transmigran asal Kebumen, Banyumas dan Yogyakarta yang tiba pada gelombang pertama tahun 1955.
Wamentrans Sebut Sawit bagi Warga Transmigran adalah Rejeki dari Tuhan
Gelombang awal transmigrasi tercatat di daerah seperti Dusun Sidomulyo, Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya. Menyusul tahun 1969–1970 yang mengawali pembukaan kawasan transmigrasi besar di daerah seperti Rasau Jaya dan Parit Keladi. Kemudian kedatangan gelombang besar transmigran secara intensif dari berbagai daerah di Pulau Jawa tahun 1971 sampai 1979.
Keluarga lelaki setengah baya yang menyambut saya di pintu bandara, asal Kebumen dan salah satu transmigran yang tiba paling awal. Saat keluarganya sampai di Sungai Raya, usianya belum genap lima tahun.
Lucu juga rasanya berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa di tanah yang terpisah jarak 1.400 kilometer dari asalnya. “Di rumah kami pakai bahasa Jawa dan Melayu. Saya bisa sedikit-sedikit bahasa Dayak,” katanya.
Tidak hanya mempertahankan bahasa, para keturunan transmigran juga masih sering menanggap kesenian-kesenian Jawa. Mereka yang sukses secara ekonomi bahkan tidak segan mendatangkan grup wayang kulit atau campur sari langsung dari Jawa.
Kuli Jawa di Suriname
Disinilah saya melihat irisan kebiasaan para keturunan transmigran di Kalimatan Barat dengan para kuli perantau Suriname di Amerika Selatan. Meskipun padangan saya soal ‘merantau’ para transmigran, jauh berbeda dengan alasan orang-orang Jawa yang terdampar di Suriname.
Sejak tahun 1890 hingga 1939 pemerintah Kerajaan Belanda mengirimkan 32.956 tenaga kerja asal Jawa ke Suriname. Kedudukan Suriname dan Indonesia saat itu sama-sama negara jajahan Belanda.
Belanda Segera Pulangkan Arca Shiva dan Prasasti Damalung ke Indonesia
Mereka dikirim untuk menambal kekurangan tenaga kerja perkebunan di Suriname. Sejak dihapuskan aturan perbudakan 1 Juni 1863 jumlah buruh perkebunan berkurang drastis. Dampaknya, banyak perkebunan terlantar. Perekonomian Suriname yang semula tergantung dari hasil perkebunan, turun drastis.
Ada juga spekulasi yang menyebut pengiriman orang Jawa ke Suriname untuk mengatasi kepadatan populasi dan rendahnya perekonomian akibat meletusnya Gunung Merapi. Teori itu dibantah Prof. DR. Yusuf Ismail melaui desertasi di Universitas Leiden, Belanda tahun 1949.
Menurut Prof Yusuf Ismail, bukan kelebihan penduduk yang menjadi alasan eremigrasi ke Suriname. Melainkan kepentingan perkebunan-perkebunan di Suriname. Kebanyakan para tenaga kerja berasal dari Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur dan paling sedikit dari Jawa Barat.
Gelombang pertama pengiriman tenaga kerja diberangkatkan dari Batavia (Jakarta) pada 21 Mei 1890 naik kapal SS Koningin Emma. Setelah singgah di Belanda, kapal tiba di Suriname pada 9 Agustus 1890.
Sebagian masyarakat Indonesia baik yang sekarang masih tinggal di Suriname maupun di Belanda, selalu mengenang dan memperingati tanggal 9 Agustus sebagai Hari Kedatangan Orang Jawa.
Benteng Amsterdam: Melihat Saksi Kejayaan Perdagangan Rempah di Negeri Hila
Tenaga kerja gelombang pertama sebanyak 94 orang, terdiri dari 61 orang pria, 31 orang wanita dan dua anak-anak. Mereka ditempatkan di perkebunan tebu dan pabrik gula Marienburg.
Konon beberapa dari mereka membawa sejumput tanah dari Jawa untuk mengobati rindu. Selain ada keyakinan tanah dari Jawa akan membawa keberuntungan jika disebar di perantauan.
Ketika orang Jawa tiba, sudah datang lebih dulu pekerja perkebunan etnis Tionghoa tahun 1853 dan orang-orang Hindustan tahun 1873. Orang Croela dari Afrika menempati Suriname sebagai budak sejak abad ke-16.
Tenaga kerja gelombang kedua sebanyak 582 orang, tiba di Suriname pada 16 Juni 1894 diangkut kapal SS Voorwaarts. Karena muatan kapal kedua melebihi kapasitas, sebanyak 64 orang meninggal dan 85 lainnya harus dirawat di rumah sakit begitu tiba di pelabuhan Paramaribo, Suriname.
Kejadian menyedihkan ini tidak mendapat tanggapan dari pemerintah Belanda. Pengiriman tenaga kerja bahkan terus berjalan sepanjang tahun hingga pengiriman terakhir sebanyak 990 orang yang tiba di Suriname pada 13 Desember 1939.
Pengiriman para tenaga kerja menggunakan 77 kapal laut, dilaksanakan oleh perusahaan pelayaran swasta, De Nederlandsche Handel Maatschappij. Namun sejak tahun 1897 pengiriman tenaga kerja dilaksanakan sendiri oleh pemerintah Hindia Belanda.
Upah Murah
Pengiriman tenaga kerja ke Suriname dianggap berhasil mengurangi kepadatan penduduk di Pulau Jawa. Maka bulan November 1905 pemerintah Kerajaan Belanda meniru langkah itu dengan memindahkan 155 keluarga asal Keresidenan Kedu: Karanganyar, Kebumen dan Purworejo ke Gedong Tataan di Keresidenan Lampung.
Ini adalah awal mula sejarah transmigrasi di Indonesia pada zaman kolonisasi Belanda.
Kejati Kaltim Tahan Bos Tambang yang Rusak Ratusan Rumah Transmigran
Hingga tahun 1930, para pekerja asal Jawa dipekerjakan di perkebunan tebu, cacao, dan pertambangan bauxite. Mereka dibayar murah antara 40 sen hingga 60 sen per hari.
Para pekerja dikontrak 5 tahun dengan ketentuan bekerja 6 hari dalam seminggu. Setiap hari mereka wajib bekerja 8 jam di perkebunan atau 10 jam di pabrik. Setelah masa kontrak berakhir, mereka dijanjikan diberi hak untuk pulang ke Indonesia atas biaya pemerintah Belanda.
Keinginan para pekerja untuk pulang ke Indonesia baru terwujud 4 Januari 1954. Sebanyak 1.018 orang (316 kepala keluarga) pulang sebagai repatrian menumpang kapal barang MS Langkoeas menggunakan biaya sendiri.
Mereka tidak kembali ke Jawa tapi ditampung di lokasi repatriasi di Desa Lingkin Baru, Kabupaten Pasaman, Sumatera Tengah, sekitar 180 kilometer dari Kota Padang, Sumatera Barat.
Jika Belanda akhirnya meminta maaf atas perlakuan buruk yang dialami 12.500 tentara KNIL beserta keluarganya yang dipindah secara paksa ke Belanda, tidak begitu dengan orang Jawa yang ‘dibuang’ ke Suriname.
Meski para keturunan pekerja asal Jawa tidak lagi memiliki keinginan pulang ke Indonesia, bukan berarti hubungan dengan tanah leluhur itu benar-benar putus.
Bagi mereka Jawa tidak pernah sepenuhnya menjadi masa lalu. Ia tetap hidup melalui nama, bahasa, makanan, gamelan, wayang, selametan, lagu dan cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bahkan ketika jarak geografis membuat pulang menjadi semakin tidak masuk akal, ingatan tentang Jawa tetap menemukan cara untuk tinggal.
