PONTIANAK, borneoreview.co – Petani hortikultura di Kalimantan Barat (Kalbar) mulai kembali mengolah lahan untuk meningkatkan produksi sayuran setelah aktivitas budidaya tertekan kemarau panjang dan kondisi El Nino dalam beberapa bulan terakhir.
“Mulai Oktober ini petani baru mulai mengolah tanah. Selama kemarau panjang, sebagian besar budidaya ditahan dan kalaupun ada yang menanam, produksinya rendah karena petani kesulitan mendapatkan sumber air,” ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar, Herti Herawati, Jumat (2/10/2026).
Ia mengatakan kondisi tersebut terjadi terutama dalam dua bulan terakhir ketika kemarau dan El Nino berlangsung cukup panjang.
Keterbatasan air membuat sebagian petani menunda penanaman komoditas hortikultura, sementara tanaman yang tetap dibudidayakan tidak mampu menghasilkan produksi secara optimal.
Dampaknya, pasokan sejumlah sayuran di pasar menurun sehingga harga mengalami kenaikan cukup signifikan. Herti mencontohkan harga buncis yang mencapai sekitar Rp50 ribu per kilogram, sedangkan kangkung berada pada kisaran Rp35 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.
“Sayuran lainnya juga mengalami kenaikan harga lebih dari tiga kali lipat. Untuk cabai bahkan sudah di atas Rp100 ribu per kilogram,” kata dia.
Menurut dia, kondisi kemarau juga menyebabkan petani meminta penundaan bantuan berupa benih sayuran karena tidak memungkinkan untuk segera ditanam.
“Petani meminta bantuan benih sayuran ditunda karena saat kemarau panjang tidak bisa ditanam secara optimal,” katanya.
Herti berharap prediksi kondisi cuaca yang mulai normal pada November dapat menjadi momentum bagi petani untuk memaksimalkan kegiatan budidaya sehingga produksi hortikultura kembali meningkat dan harga di tingkat konsumen dapat lebih stabil.
Namun, ia mengingatkan tantangan berikutnya adalah memasuki musim penghujan pada akhir tahun.
Curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan ketersediaan air berlebihan dan berpotensi menimbulkan banjir di sejumlah sentra pertanian.
“Kita berharap tidak terjadi banjir karena kalau air melimpah dan terjadi banjir juga akan berpengaruh terhadap tanaman hortikultura,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, Herti mendorong petani menyesuaikan waktu tanam dan pengelolaan lahan dengan kondisi cuaca agar peningkatan produksi hortikultura dapat berlangsung secara berkelanjutan.***
