Polemik LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar Viral, Keputusan Juri Dipertanyakan

LCC 4 Pilar MPR RI

PONTIANAK, borneoreview.co – Ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat yang seharusnya menjadi arena adu pengetahuan mendadak berubah menjadi sorotan publik. Keputusan juri dalam babak final menuai protes dari peserta, guru, dan warganet, membuat kompetisi ini viral di media sosial.

Sorotan tertuju pada pertandingan final yang mempertemukan tiga sekolah, salah satunya SMAN 1 Pontianak. Pada sesi krusial, tim dari sekolah tersebut menjawab pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Jawaban peserta menyebut bahwa anggota BPK dipilih oleh DPR dengan mempertimbangkan masukan DPD, kemudian diresmikan oleh Presiden, sesuai ketentuan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Namun, juri menyatakan jawaban itu salah.

Keputusan tersebut langsung memicu keberatan dari tim SMAN 1 Pontianak, guru pendamping, dan pihak sekolah yang menilai jawaban sudah tepat secara konstitusional. Respons pembawa acara (MC) yang dianggap kurang sensitif ikut menjadi sorotan, sehingga suasana semakin memanas.

Video momen itu pun menyebar luas di media sosial. Dalam hitungan jam, akun resmi MPR RI dibanjiri komentar warganet yang menuntut evaluasi dan keadilan dalam penilaian.

“Kalau jawabannya benar, kenapa dianggap salah?” tulis salah satu netizen.
“Ajang pendidikan harus menjunjung objektivitas,” komentar netizen lainnya.
“Kasihan peserta sudah belajar keras, tapi hasilnya dipertanyakan,” tambah akun lain.

Polemik ini juga mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Sekretaris Daerah meminta agar penilaian benar-benar memperhatikan rasa keadilan bagi seluruh peserta. Plt Kepala Disdikbud Kalbar, Syarif Faisal Alkadrie, mendorong SMAN 1 Pontianak untuk mengajukan surat resmi jika merasa ada kejanggalan, sehingga evaluasi dapat dilakukan secara objektif dan prosedural.

“Kalau memang ada keberatan, silakan ajukan peninjauan ulang secara resmi. Nanti akan kami pelajari dan koordinasikan dengan pihak terkait,” ujarnya.

SMAN 1 Pontianak menilai keputusan juri merugikan tim mereka, terlebih karena hasil akhir menempatkan mereka di posisi runner-up, sedangkan juara pertama diraih SMAN 1 Sambas yang akan mewakili Kalbar ke tingkat nasional di Jakarta pada Agustus mendatang.

Tim SMAN 1 Pontianak menegaskan, jawaban mereka memiliki substansi yang sama, namun nilainya dikurangi. Mereka juga menilai dewan juri kurang fokus pada beberapa momen penilaian, sehingga objektivitas terpengaruh. Dugaan relasi kuasa dalam pengambilan keputusan tanpa proses klarifikasi juga menjadi sorotan.

“Kami minta juri memberikan klarifikasi resmi, dengan penjelasan transparan dan evaluasi terhadap proses penilaian, demi menjaga integritas dan kredibilitas LCC 4 Pilar ke depannya,” kata perwakilan SMAN 1 Pontianak.

LCC 4 Pilar MPR RI merupakan kompetisi nasional yang menguji pemahaman siswa terhadap Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Polemik ini memicu desakan publik agar panitia dan MPR RI memberikan klarifikasi terbuka, untuk memastikan keadilan dan menjaga reputasi lomba yang selama ini menjadi ajang bergengsi bagi pelajar.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *