JAKARTA, borneoreview.co – Kebutuhan minyak sawit untuk kebutuhan pangan diperkirakan mencapai 10 juta ton. Jumlah itu meningkat ditengah naiknya keperluan minyak sawit untuk biodiesel.
Tingginya permintaan sawit antara lain untuk pemenuhan minyak nabati serta industri eleokimia. Sawit menjadi primadona karena mampu menghasilkan sekitar 3,36 ton per hektar lahan. Jauh lebih banyak dibanding kedelai, rapeseed, dan bunga matahari.
Sehingga untuk menghasilkan volume minyak yang sama, kelapa sawit membutuhkan lahan jauh lebih sedikit dibanding tanaman penghasil minyak nabati lainnya.
CPO Perkuat Kinerja Ekspor Pertanian, Mentan Sebut Indonesia Pemain Utama Minyak Sawit Dunia
Produksi minyak sawit dipasarkan sebagai minyak nabati terutama ke Asia Selatan, Afrika, dan Timur Tengah. Di kawasan ini minyak sawit banyak dipakai sebagai minyak goreng dan bahan baku industri makanan.
Sehingga gangguan pasokan sawit dapat langsung memengaruhi harga dan ketersediaan pangan secara global.
Selain dipakai sebagai bahan baku minyak nabati, sawit juga digunakan dalam industri oleokimia. Pabrik eleokimia mengubah bahan baku lemak dan minyak nabati seperti minyak kelapa dan sawit -juga minyak hewani- menjadi berbagai senyawa kimia turunan yang bernilai tambah tinggi.
Sudah sejak lama menjadi polemik penggunaan minyak nabati menjadi bahan bakar biodiesel berpotensi mengancam kebutuhan pangan. Ada kekhawatiran terjadi kelaparan -minimal kekurangan pangan- akibat pengalihan produksi minyak nabati menjadi biodiesel.
Prioritaskan Penguatan Hulu Sawit Berkelanjutan, Kemenko Pangan: Hulu Itu Penting
Menurut keterangan Program Pangan Dunia PBB, terdapat 800 juta manusia menderita kelaparan dan kekurangan gizi akut. Jumlahnya kini bertambah akibat perang di Ukraina yang memicu krisis pangan.
Meskipun organisasi pangan dunia mengingatkan peliknya masalah pasokan dan kenaikan harga bahan makanan pokok seperti sereal dan minyak goreng, beberapa negara tetap menggunakan jutaan ton bahan makanan untuk memproduksi bahan bakar nabati bagi kendaraan.
Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa, Brazil, Indonesia, China, Kanada, Malaysia dan Argentina, secara keseluruhan menggunakan sekitar sepersepuluh hasil panen sereal dunia dan sepertiga tanaman yang mengandung karbohidrat (misalnya jagung dan tebu) untuk produksi etanol.
Sedangkan seperlima minyak nabati digunakan untuk biodiesel. Di Amerika hampir 100 juta ton jagung diolah setiap tahun menjadi etanol.
Setip tahun diproduksi sekitar 110 miliar liter etanol dan 52 miliar liter biodiesel untuk dicampur dalam bahan bakar bensin dan diesel.
Tak hanya untuk Pangan dan Ketahanan Energi, Akademisi Sebut Potensi Sawit Perbaiki Status Gizi
Budi daya tanaman yang digunakan untuk produksi energi, membutuhkan lahan yang sangat luas. Di Indonesia lahan sawit sekitar dua kali lebih luas dari lahan sawah atau sekitar 12 persen dari luas daratan Indonesia.
Di wilayah tropis pembangunan perkebunan sawit, kedelai, dan tebu untuk biodiesel dan etanol menyebabkan penebangan hutan hujan secara masif.
Gerakan menolak memasukkan bahan makanan ke tangki bahan bakar kendaraan, menjadi isu yang serius di tingkat global. Di sisi lain kebutuhan terhadap sumber energi nonfosil yang terus menyusut juga membutuhkan jalan keluar.
