Satarudin Ingatkan Etika Bermedia Sosial dan Literasi Digital Cegah Hoaks

Etika

PONTIANAK, borneoreview.co – Sabtu pagi itu, langit Pontianak berubah menjadi kanvas kelabu. Kabut asap pekat turun perlahan, menyelimuti rumah panggung dan jalan protokol. Tetapi di sebuah ruang lebar, kursi kursi tersusun rapi. Semangat tidak ikut memudar.

Di tengah ruangan, Satarudin berdiri tegak. Ketua DPRD Pontianak itu menyapa para mahasiswa dengan nada rendah namun menusuk. Ia tidak membawa naskah tebal, hanya suara jernih dan tatapan yang menuntut perhatian.

Perayaan ulang tahun Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Kalimantan Barat ke tujuh berlangsung hangat di rumah dinas ketua dewan.

Usia organisasi yang menginjak dua puluh delapan tahun tingkat pusat menjadi latar pertemuan dua generasi jurnalis senior dan mahasiswa.

“Perkembangan teknologi, arus informasi, media sosial, kecerdasan buatan, itu keniscayaan,” ucap Satarudin membuka sesi.

Kalimatnya pendek, tetapi meninggalkan gema. Ia menekankan mahasiswa wajib menyikapi perubahan dengan pengetahuan memadai.

Jemarinya sesekali menunjuk layar ponsel, lalu menatap peserta satu per satu. Gestur itu seperti mengingatkan bahwa perangkat kecil di tangan bisa menjadi berkah atau petaka.

“Keterampilan dan etika dalam bermedia sosial harus menjadi pengetahuan mendasar,” lanjutnya.

Suaranya tetap datar, namun setiap kata terasa seperti palu kecil yang mengetuk kesadaran.

Ruang itu hening sejenak. Beberapa mahasiswa mencatat. Sebagian lain mengangguk pelan. Satarudin berbicara bukan tentang larangan, melainkan tentang arah: agar generasi muda tidak tersesat di rimba digital.

Ia lantas mengingatkan bahaya laten yang mengintai di balik kemudahan berbagi informasi. Hoaks dan berita palsu, katanya, adalah jebakan nyata bagi mereka yang tidak punya pijakan etika.

“Tujuannya supaya mahasiswa tidak terjebak menyebarkan hoaks,” tegasnya. Pernyataan itu menutup sesi dengan nada optimistis sekaligus waspada.

Bekal Lebih Jernih

Di luar, kabut asap mulai menipis. Cahaya matahari menyelinap lewat celah jendela. Para mahasiswa keluar ruangan dengan kepala penuh pertanyaan baru, tetapi juga bekal yang lebih jernih.

Ketua DPRD Pontianak Satarudin mendorong mahasiswa membekali diri dengan keterampilan serta etika bermedia sosial.

Literasi digital dianggap tameng utama menangkal hoaks dan berita palsu di tengah derasnya arus kecerdasan buatan serta media sosial.

Kabut asap tidak menghentikan diskusi penting di Pontianak tentang etika digital, hoaks, dan masa depan mahasiswa.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *