JAKARTA, borneoreview.co – Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) meminta pemerintah memperkuat sektor hulu perkebunan sawit dengan mempercepat program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Melansir Antara, Sabtu (25/4/2026), percepatan Peremajaan Sawit Rakyat ini untuk mendorong hilirisasi sawit melalui kebijakan biodiesel B50 yang akan berlaku pada 1 Juli 2026.
“Program PSR merupakan kunci utama untuk meningkatkan produktivitas sawit rakyat sekaligus menjamin pasokan bahan baku bagi program energi nasional,” kata Ketua SPKS Sabarudin, kemarin.
Menurut dia hingga saat ini, pelaksanaan PSR dinilai masih berjalan lambat dengan tingkat serapan yang rata-rata di bawah 50 persen setiap tahun.
“Selama ini realisasi peremajaan sawit rakyat masih jauh dari target,” kata dia.
Padahal, lanjutnya program ini sangat penting untuk meningkatkan produktivitas petani dan mendukung kebutuhan bahan baku biodiesel ke depan.
Ia mengatakan program PSR telah menjadi strategi pemerintah sejak 2015 untuk meningkatkan produktivitas tanpa membuka lahan baru, dengan target sekitar 180 ribu hektare per tahun.
Namun berbagai kendala di lapangan membuat implementasinya belum optimal.
SPKS mencatat sejumlah hambatan utama yang dihadapi petani, mulai dari persoalan legalitas lahan hingga kesulitan ekonomi selama masa replanting. Satu persoalan krusial adalah hilangnya pendapatan petani selama masa tanaman belum menghasilkan.
Pihaknya mendesak pemerintah melalui Kementerian Pertanian agar meningkatkan dana bantuan PSR dari saat ini sebesar Rp60 juta per hektare menjadi Rp90 juta per hektare.
Ia menilai kenaikan tersebut penting agar pendanaan PSR tidak hanya mencakup biaya teknis peremajaan kebun, tetapi juga mampu menopang kebutuhan hidup petani selama masa tunggu produksi.
“Selama masa replanting, petani kehilangan penghasilan. Karena itu skema pembiayaan harus mencakup biaya hidup, bukan hanya biaya tanam,” kata dia.
Ia menilai PSR terbukti mampu meningkatkan produktivitas kebun sawit rakyat secara signifikan.
Menurut dia dengan peremajaan, produktivitas dapat meningkat hingga dua kali lipat, dari sekitar 10 ton menjadi 20 ton TBS per hektare per tahun atau lebih.
SPKS bahkan menilai potensi produktivitas bisa mencapai 20–30 ton Tandan Buah Sawit (TBS) per hektare per tahun jika didukung praktik budidaya yang baik.
Menurut dia peningkatan produktivitas ini dinilai sangat strategis dalam mendukung implementasi program biodiesel B50 yang akan mulai diterapkan pada 2026.
“Program B50 sendiri membutuhkan pasokan CPO dalam jumlah besar dan menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional,” kata dia.***
