PONTIANAK, borneoreview.co – Pada Sabtu, 28 Februari 2026, dunia dikejutkan oleh eskalasi militer dalam konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. Serangan ini berlangsung saat bulan suci Ramadan, memicu reaksi keras dari pemerintah Iran dan kekhawatiran komunitas internasional akan konflik berskala lebih luas.
1. Serangan Udara Israel terhadap Iran
Militer Israel mengumumkan telah melancarkan serangan udara terhadap wilayah Iran, operasi yang mereka sebut sebagai serangan pendahuluan. Ledakan dilaporkan terjadi di Ibu Kota Tehran pagi itu, dengan kepulan asap terlihat dari beberapa titik.
Israel juga menetapkan keadaan darurat nasional dan menutup wilayah udaranya sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan balasan.
2. AS Ikut Turut dalam Serangan
Tak lama setelah serangan Israel, Amerika Serikat mengumumkan keterlibatannya dalam serangan ini, yang dinyatakan sebagai operasi gabungan dengan militer Israel. Operasi AS diyakini menargetkan fasilitas militer Iran.
Pernyataan dari Washington menyebut serangan ini sebagai bagian dari upaya untuk menghancurkan kapasitas militer Iran yang dianggap ancaman terhadap keamanan AS dan sekutunya.
3. Respons Iran
Pemerintah Iran mengecam serangan tersebut sebagai agresi yang melanggar hukum internasional dan klaim kedaulatannya. Iran kemudian meluncurkan serangan balasan terhadap sasaran-sasaran militer Israel dan pangkalan AS di beberapa negara Teluk sebagai bentuk pembelaan.
Selain itu, otoritas Iran menutup wilayah udaranya setelah rentetan ledakan dilaporkan di Tehran dan kota-kota lain, sementara rakyat diperingatkan untuk menjauhi area-area yang berpotensi menjadi target.
4. Dampak Warga Sipil dan Situasi di Belakang Garis Depan
Serangan ini telah memicu kepanikan luas di Iran, terutama di kota-kota besar seperti Tehran, dimana warga bergegas mencari perlindungan dan mencoba mengamankan kebutuhan dasar mereka. Banyak sekolah dan institusi umum ditutup sementara demi keselamatan publik.
Selain itu, laporan awal menyebut ada korban sipil akibat serangan rudal yang terjadi di jawatan strategis Iran, termasuk di sekolah dan kawasan sipil, memperlihatkan dampak kemanusiaan dari konflik ini.
5. Reaksi Internasional
Reaksi dari masyarakat internasional terhadap serangan ini bermacam-macam:
Rusia mengecam keras serangan AS dan Israel, menyebutnya sebagai aksi agresi tak beralasan dan pelanggaran terhadap kedaulatan Iran.
Negara-negara lain mendesak penahanan eskalasi dan kembalinya diplomasi.
Beberapa negara mengutuk keras serangan tersebut sebagai bertentangan dengan hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
6. Potensi Eskalasi dan Ketidakpastian Masa Depan
Serangan ini terjadi di tengah situasi global yang sudah tegang, dengan meningkatnya konflik di Timur Tengah dan stagnannya negosiasi diplomatik mengenai program nuklir Iran. Konflik ini berpotensi memperluas pertempuran menjadi perang terbuka lebih luas, melibatkan negara-negara regional dan kekuatan global lainnya.
Serangan militer AS dan Israel terhadap Iran saat Ramadan bukan hanya sebuah kejadian taktis militer, tetapi juga momen geopolitik yang memicu respons luas, baik di tingkat regional maupun internasional. Dampaknya tidak hanya pada front militer, tetapi juga pada kehidupan warga sipil dan hubungan diplomatik di seluruh dunia.
Krisis ini masih terus berkembang, dan akan menjadi salah satu titik penting dalam sejarah konflik Timur Tengah.***
