PONTIANAK, borneoreview.co – Dalam lanskap pembangunan daerah, momen kultural sering kali melampaui sekadar tradisi.
Ia menjelma ruang dialog. Ruang negosiasi kepentingan, hingga ruang penyatuan visi dan misi yang membumi.
Momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah di Kalimantan Barat, menghadirkan potret tersebut secara utuh.
Bukan sekadar kunjungan Lebaran semata. Ini melahirkan panggung konsolidasi arah pembangunan merata, adil, dan setara.
Di tengah suasana hangat itu, Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, hadir bukan hanya sebagai kepala daerah. Ia tampil sebagai simpul komunikasi.
Bersama Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kalimantan Barat, Erlina, langkah kaki keduanya menembus batas formalitas birokrasi, menuju relasi kemanusiaan.
Kata kunci utama bukan sekadar silaturahmi. Kata kunci utama adalah, sinergi tanpa basa-basi.
Silaturahmi Bangun Sinergi
Pagi itu terasa berbeda. Rumah-rumah tokoh masyarakat menjadi titik temu antara kebijakan dan harapan. Percakapan ringan mengalir, namun memuat makna strategis.
Erlina menegaskan komitmen nyata. “Kami siap bergerak selaras dengan pemerintah pusat dan daerah, serta terus mendukung program pembangunan, demi kesejahteraan masyarakat Kalimantan Barat”.
Pernyataan tersebut bukan sekadar formalitas. Ia menjadi refleksi posisi strategis TP PKK, dalam struktur sosial.
Organisasi ini tidak berdiri di pinggir, melainkan berada di jantung keluarga. Dari dapur rumah tangga, arah pembangunan bisa dimulai.
Fokus utama tertuju pada tiga sektor vital: keluarga, kesehatan, serta ekonomi rumah tangga.
Tiga sektor tersebut merupakan fondasi dasar kualitas hidup masyarakat. Tanpa penguatan di titik ini, pembangunan hanya akan menjadi angka statistik tanpa makna.

Sementara itu, Gubernur Ria Norsan memaknai silaturahmi sebagai instrumen strategis.
“Sinergitas adalah kunci untuk mencapai tujuan bersama,” tutur Gubernur Ria Norsan, Jumat (27/3/2026).
Kalimat itu terdengar sederhana, namun memiliki bobot kebijakan. Sinergi berarti menyatukan langkah pemerintah, masyarakat, hingga sektor nonformal.
Tanpa itu, pembangunan akan berjalan parsial, terfragmentasi, serta kehilangan arah.
Momentum Idul Fitri dimanfaatkan sebagai jembatan. Jembatan antara kebijakan dan kebutuhan riil masyarakat.
Peran Keluarga Ekonomi
Di balik agenda besar pembangunan, terdapat unit kecil bernama keluarga. Dari sinilah semua bermula. Dari sinilah ketahanan sosial dibangun.
Erlina memahami hal tersebut secara mendalam. Fokus pemberdayaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Ia diarahkan pada penguatan kapasitas keluarga.
Program kesehatan keluarga menjadi prioritas. Akses layanan kesehatan, edukasi gizi, hingga pola hidup sehat menjadi bagian integral. Tanpa kesehatan, produktivitas tidak akan tumbuh.
Di sisi lain, ekonomi rumah tangga menjadi isu krusial. Ketahanan ekonomi keluarga, menentukan stabilitas sosial.
Program pemberdayaan perempuan, pelatihan keterampilan, serta penguatan usaha mikro menjadi langkah konkret.
Dalam konteks ini, TP PKK Kalimantan Barat berperan sebagai katalis. Ia menghubungkan kebijakan pemerintah dengan realitas lapangan. Ia memastikan program tidak berhenti di meja rapat.
Pendekatan ini menunjukkan pola pembangunan berbasis masyarakat. Bukan top-down semata, melainkan kolaboratif.
Kehadiran TP PKK menjadi bukti bahwa, pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar.
Ia bisa dimulai dari dapur sederhana. Dari tangan ibu rumah tangga, dari ekonomi kecil namun berdampak luas.
Pembangunan Daerah Menanjak
Di tengah dinamika tersebut, Gubernur Ria Norsan menegaskan arah kebijakan. Infrastruktur, pendidikan, kesehatan, serta ekonomi menjadi pilar utama.
Namun, pembangunan tidak hanya soal fisik. Ia membutuhkan kohesi sosial. Ia butuh kepercayaan publik. Ia membutuhkan komunikasi efektif.
Silaturahmi menjadi alat untuk membangun kepercayaan. Dalam setiap kunjungan, terjadi dialog dan interaksi.
Dalam setiap dialog, terdapat aspirasi. Dalam setiap aspirasi, terdapat bahan evaluasi kebijakan.
“Mengajak seluruh elemen masyarakat, untuk terus menjaga persatuan dan semangat gotong royong,” kata Gubernur Ria Norsan.
Ajakan tersebut relevan dalam konteks saat ini. Tantangan pembangunan kekinian semakin kompleks.
Mulai dari ketimpangan wilayah, hingga tekanan ekonomi global. Tanpa persatuan, semua akan menjadi beban berat.
Sinergi menjadi jawaban. Kehadiran Forkopimda dalam rangkaian silaturahmi, memperkuat pesan tersebut.
Pemerintah tidak berjalan sendiri. Ada koordinasi lintas sektor. Ada kolaborasi antar lembaga.
Hal ini menunjukkan pendekatan integratif. Pendekatan ini penting, agar program berjalan efektif, serta tepat sasaran.
Narasi Kebersamaan Sosial
Suasana hangat dalam setiap pertemuan, bukan sekadar simbol. Ia mencerminkan kondisi sosial. Ia menunjukkan bahwa, hubungan antara pemerintah dan masyarakat, berada dalam kondisi harmonis.
Saling berjabat tangan. Saling memaafkan. Saling berbagi cerita. Semua menjadi bagian dari narasi kebersamaan.
Dalam konteks komunikasi publik, momen ini memiliki nilai strategis. Ia membangun citra positif pemerintah. Ia memperkuat legitimasi kebijakan.
Namun lebih dari itu, ia membangun rasa memiliki. Masyarakat merasa menjadi bagian dari proses pembangunan.
Hal ini penting. Tanpa rasa memiliki, partisipasi akan rendah. Tanpa partisipasi, pembangunan akan stagnan.
Silaturahmi menjadi medium efektif untuk membangun rasa tersebut. Jika ditarik lebih dalam, terdapat beberapa poin strategis dari peristiwa ini.

Pertama, penguatan komunikasi informal. Dalam banyak kasus, komunikasi informal lebih efektif, dibanding forum resmi. Ia lebih cair, lebih jujur, serta lebih terbuka.
Kedua, konsolidasi lintas sektor. Kehadiran berbagai elemen, menunjukkan adanya upaya menyatukan visi. Hal ini penting dalam menghadapi tantangan pembangunan.
Ketiga, penguatan peran organisasi masyarakat. TP PKK menjadi contoh nyata, bagaimana organisasi berbasis komunitas dapat berkontribusi signifikan.
Keempat, pembangunan berbasis keluarga. Pendekatan ini relevan dengan kondisi sosial Indonesia. Keluarga menjadi unit terkecil, sekaligus terpenting.
Kelima, simbol politik sosial. Silaturahmi menjadi alat untuk memperkuat, posisi pemerintah di mata masyarakat.
Semua poin tersebut, menunjukkan bahwa peristiwa ini bukan sekadar tradisi tahunan. Ia merupakan strategi pembangunan.
Di balik angka, proyek, serta kebijakan, terdapat sisi manusia. Sisi inilah yang sering kali terlupakan.
Seorang ibu rumah tangga, mungkin tidak memahami istilah sinergi. Namun, ia merasakan dampaknya, saat ekonomi keluarga membaik.
Seorang anak mungkin tidak memahami kebijakan pendidikan. Namun, ia merasakan dampaknya, saat akses sekolah lebih mudah.
Seorang warga mungkin tidak memahami konsep pembangunan daerah. Namun, ia merasakan dampaknya, saat jalan desa diperbaiki.
Di sinilah pentingnya pendekatan human interest. Pembangunan harus dirasakan, bukan sekadar dilaporkan.
Silaturahmi menghadirkan dimensi tersebut. Ia mendekatkan pemerintah dengan realitas masyarakat.
Idul Fitri selalu membawa pesan kembali ke fitrah. Dalam konteks ini, fitrah pembangunan adalah kesejahteraan masyarakat.
Gubernur Ria Norsan serta Erlina, mencoba menerjemahkan pesan tersebut, dalam tindakan nyata. Silaturahmi menjadi awal.
Sinergi menjadi proses. Kesejahteraan menjadi tujuan. Perjalanan tentu tidak mudah. Tantangan akan terus hadir.
Namun, dengan komunikasi, kolaborasi, serta komitmen, arah pembangunan dapat tetap terjaga.
Pada akhirnya, pembangunan bukan soal siapa paling kuat. Pembangunan soal siapa mampu bekerja bersama.
Dan di Provinsi Kalimantan Barat, cerita itu kini sedang ditulis. Perlahan, namun pasti.***
