Tahura Kalsel Perkuat Pemandu Wsata Flora Berbasis Konservasi-Edukasi

Konservasi-Edukasi

BANJARBARU, borneoreview.co – Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam Kalimantan Selatan (Kalsel) memperkuat kapasitas pemandu wisata flora berbasis konservasi dan edukasi untuk meningkatkan pengelolaan ekowisata di kawasan hutan konservasi yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi sebagai destinasi wisata alam unggulan.

Kepala UPTD Tahura Sultan Adam Ainun Jariah di Banjarbaru, Jumat, (15/5/2026), mengatakan penguatan kapasitas dilakukan dengan membentuk pemandu wisata yang tidak hanya mengenali jenis-jenis flora di kawasan hutan, tetapi juga mampu memberikan edukasi ilmiah kepada wisatawan mengenai fungsi ekologis, serta nilai konservasi dalam menjaga ekosistem hutan tropis.

“Penguatan sumber daya manusia pemandu wisata menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan kawasan untuk wisata dan fungsi utama sebagai kawasan konservasi,” ujarnya.

Menurut dia, pemandu wisata memiliki peran strategis karena menjadi pihak yang berinteraksi langsung dengan wisatawan di lapangan, sehingga kualitas pemahaman dan cara penyampaian informasi akan sangat menentukan tingkat kesadaran pengunjung terhadap upaya pelestarian lingkungan di kawasan Tahura.

Terlebih lagi, kata dia, kawasan Tahura Sultan Adam dikenal memiliki potensi wisata alam yang kuat, khususnya pada lanskap hutan tropis dan keanekaragaman flora yang menjadi daya tarik utama ekowisata berbasis konservasi di wilayah Kalimantan Selatan.

Penguatan kapasitas pemandu tersebut melibatkan kelompok sadar wisata (pokdarwis) di sekitar kawasan, yang selama ini berperan dalam aktivitas wisata berbasis masyarakat, sehingga diharapkan tercipta standar pemahaman yang lebih seragam dalam pengelolaan wisata alam di lapangan.

Narasumber dari Universitas Lambung Mangkurat Dr Abdi Fitria, memberikan materi terkait teknik pemanduan wisata flora berbasis konservasi, termasuk cara mengidentifikasi keanekaragaman tumbuhan serta metode komunikasi edukatif yang ramah lingkungan kepada pengunjung.

Ia menekankan bahwa pemandu wisata tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai agen perubahan perilaku wisatawan agar lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat merusak ekosistem hutan.

Melalui penguatan kapasitas ini, Tahura Sultan Adam menargetkan terbentuknya pemandu wisata flora yang profesional, komunikatif, dan berorientasi konservasi, sekaligus memperkuat pengembangan ekowisata yang berkelanjutan tanpa mengurangi fungsi utama kawasan sebagai wilayah perlindungan hutan.(Ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *