Tambang Emas Gosowong Halmahera Utara Klaim Hemat Air, Sungai Tetap Menangis Pilu

Tambang

GOSOWONG, borneoreview.co – Di kedalaman Halmahera Utara, tempat hutan-hutan purba merapat pada urat bumi yang kaya emas, mesin-mesin raksasa PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) terus menggerus batuan.

Di balik deru itu, tersimpan kisah tentang air tetangga paling setia sekaligus korban paling bisu dari industri ekstraksi.

Kini, PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) mengklaim merajut kembali hubungannya dengan air melalui proyek bernama DST Water Recovery & Recycling Project.

Angka yang mereka sebut tak main-main. Kebutuhan air proses di Tambang Emas Gosowong menyentuh 5.400 meter kubik per hari.

Dari angka itu, PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) menargetkan efisiensi 20–30 persen, atau setara 1.680–1.920 meter kubik per hari.

Target itu bukan sekadar angka; ia adalah upaya melepaskan ketergantungan pada aliran sungai yang selama ini menjadi urat nadi operasi.

Langkah ini dijalankan bertahap. Fokus pertama menyasar Raw Water Mill Process, jantung penggilingan bijih.

Kajian berlanjut pada UG Water Consumption dan pembersihan area pabrik, lengkap dengan persiapan pipa, katup, dan sambungan.

Namun, ada wilayah yang tak tersentuh air domestik untuk kamp dan kantor, serta proses elusi emas.

Di titik-titik itu, air sungai tetap menjadi primadona—bukan karena tak ada alternatif, melainkan standar kejernihan yang diminta terlalu tinggi untuk ditawar.

Assistant Superintendent DST & Water Management PT Nusa Halmahera Minerals (NHM), Yoga Mei Rizal, membuka cara pandang itu dengan kalimat terukur.
“Prinsip yang kami terapkan adalah menggunakan air sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kebersihannya masing-masing,” kata Yoga Mei Rizal.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyiratkan hierarki baru dalam tata kelola air tambang. Air olahan dari DST, Polishing Pond, dan RSPK dialirkan ke kolam penjernihan sebelum menyentuh mesin penggiling.

Sementara itu, proses yang menuntut air paling murni tetap menengadahkan tangan ke sungai.

Di balik ambisi ini, NHM mengakui sejumlah batu sandungan. Variasi elevasi tanah, panjang jalur distribusi, konsistensi kualitas air olahan, kapasitas tampung fasilitas, hingga risiko gangguan pada produksi yang sedang berjalan—semuanya menuntut ketelitian yang tak boleh lengah.

Ini bukan proyek abal-abalsekali jadi, ia adalah kerja panjang yang menuntut kesabaran rekayasa.

Namun, pertanyaan yang lebih dalam tak berhenti pada efisiensi. Apakah klaim konservasi ini cukup untuk menebus puluhan tahun eksploitasi yang telah mengubah lanskap dan kehidupan di sekitarnya?

General Manager Geology Resources & Support PT Nusa Halmahera Minerals (NHM), Denny Lesmana, mengklaim air sebagai “salah satu aset paling penting bagi keberlangsungan operasional tambang.”

Dia menambahkan, proyek ini adalah langkah nyata untuk menjaga ketersediaan air jangka panjang sekaligus mengurangi tekanan pada sumber air sekitar.

Kata-kata itu terdengar anggun. Tetapi di tanah yang sama, masyarakat adat dan petani di hilir sungai masih menatap air yang keruh oleh tailing.

Klaim ramah lingkungan sering kali berhenti di ruang presentasi, sementara realitas di lapangan berbicara dengan bahasa yang berbeda.

PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) juga mengklaim, bahwa DST kini bukan sekadar fasilitas pengeringan limbah, melainkan bagian dari sistem pengelolaan air terpadu.

Perusahaan berkomitmen mengoptimalkan setiap tetes air daur ulang demi operasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Namun, sejarah panjang industri ini mengajarkan satu hal: janji perusahaan sering kali lebih cepat menguap daripada air yang mereka hemat.

Tata Kelola Air

Proyek ini berjalan di atas fondasi kepemilikan yang kokoh. Indotan Grup menguasai 75 persen saham melalui PT Indotan Halmahera Bangkit, sementara 25 persen sisanya dipegang PT Aneka Tambang Tbk.

Struktur ini menempatkan NHM dalam orbit modal nasional yang besar, dengan otoritas penuh atas nasib air di salah satu kawasan tambang emas paling produktif di Indonesia Timur.

Sistem daur ulang ini memang menawarkan harapan: mengurangi beban sungai, memperpanjang umur operasi, dan menyelaraskan tambang dengan tuntutan lingkungan.

Tetapi harapan itu hanya bermakna jika diikuti transparansi data, pemantauan independen, dan keterbukaan pada publik.

Tanpa itu, proyek daur ulang air hanyalah pertunjukan teknis yang dibungkus istilah asing.

Air tetaplah saksi paling jujur. Ia tak peduli pada laporan keberlanjutan atau skor PROPER Hijau.

Ia hanya mengalir jernih atau keruh sebagai cermin dari janji yang ditepati atau dikhianati.

Gosowong tinggal menunggu akankah klaim efisiensi ini benar-benar mengubah nasib sungai, atau sekadar mempercantik wajah perusahaan di atas kertas kusam gosong.*

Deskrips//

Tags//

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *