JAKARTA, borneoreview.co – Pameran dan Konferensi “4th Technology & Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026” siap menjadi solusi dalam mengantisipasi tantangan yang dihadapi pabrik kelapa sawit di dalam negeri.
Ketua Bidang Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI) Posma Sinurat menyatakan tantangan masa depan pabrik kelapa sawit tidak lagi sekadar mengejar kapasitas produksi.
Namun, lanjut dia dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (4/6/2026), bagaimana menciptakan operasional yang super efisien guna mempertahankan rendemen tinggi kebun, menekan emisi menuju dekarbonisasi, serta memangkas limbah secara signifikan.
TPOMI yang akan digelar di Bandung pada 8 – 10 Juli 2026, lanjutnya, mendorong adopsi teknologi yang langsung menyentuh profititablitas yaitu losses turun, downtime turun, energi lebih efisien dan keputusan lebih akurat. Teknologi meliputi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), IoT, otomatisasi, predictive maintenance dan sustainability.
“Prinsipnya teknologi harus aplikatif, terukur dan memberi dampak nyata terhadap efisiensi, produktivitas, K3 dan keberlanjutan pabrik,” ujar Posma yang juga Ketua Panitia TPOMI 2026.
Dengan mengusung tema “Hilirisasi Komoditi Perkebunan Menuju Sawit Pilar Indonesia Emas 2045”, TPOMI fokus pada pembaruan teknologi dan talenta (Updating Technology & Talent Palm Oil Mill and Downstream).
Menurut Posma kecanggihan teknologi tidak akan memberikan hasil optimal tanpa didukung oleh kualitas manusianya, oleh karena itu, pembaruan teknologi di dalam forum TPOMI selalu berjalan beriringan dengan pembaruan kompetensi sumberdaya manusia (SDM) agar talenta industri mampu mengoperasikan sistem modern secara disiplin dan akurat.
“TPOMI adalah forum transformasi dan talenta pabrik kelapa sawit Indonesia. Ajang ini menjembatani praktisi, akademisi, pelaku usaha, pemerintah, vendor teknologi, media, hingga mahasiswa,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut juga disoroti inovasi teknologi pengolahan sawit ramah lingkungan, efisiensi rantai pasok, hingga tantangan krusial di sektor hulu.
Salah satunya lompatan teknologi dari konvensional (wet process) menuju proses kering (dry process) diharapkan menjadi kunci dekarbonisasi sekaligus hilirisasi produk bernilai tambah tinggi.
Direktur Industri Kemurgi, Oleokimia, dan Pakan Kementerian Perindustrian Krisna Septiningrum menjelaskan teknologi baru ini jauh lebih efisien karena beroperasi pada suhu yang lebih rendah dan memanfaatkan proses enzimatis serta penambahan mineral.
Selama ini, PKS di Indonesia mayoritas mengandalkan wet process yang membutuhkan uap panas (steam) intensif. Konsekuensinya, proses ini menghasilkan emisi tinggi serta limbah cair yang masif berupa Palm Oil Mill Effluent (POME).
Melalui dry process, produk yang dihasilkan bukan lagi Crude Palm Oil (CPO), melainkan Degummed Palm Mesocarp Oil (DPMO) atau Palm Mesocarp Oil (PMO).
Beberapa keunggulan utama dari dry process lanjutnya, yakni ramah lingkungan karena menurunkan emisi karbon sekitar 7 persen dibanding proses basah dan memangkas limbah cair secara drastis karena tidak menggunakan steam.
Kaya Nutrisi, yakni mampu menjaga kandungan Vitamin A dan E tetap tinggi. Inovasi ini dapat menjadi substitusi impor bahan baku suplemen softgel di Indonesia.
Desain Modular dimana mesin dirancang dalam skala kecil (5 –10 ton per jam), karena tidak membutuhkan sumber air besar, pabrik bisa didirikan langsung di dekat perkebunan.
“Saat ini, proyek percontohan berskala laboratorium hingga gudan telah berjalan di Yogyakarta dan Sukabumi, dengan rencana ekspansi ke Labuhan Batu,” ujar Krisna.
Jika penandatanganan MoU rampung tahun ini, pembangunan fisik ditargetkan mulai berjalan tahun depan, menurut dia untuk skala miniplant berkapasitas 2 ton per jam, estimasi belanja modal berada di kisaran Rp13 miliar (belum termasuk biaya operasional/opex).(Ant)
