SEMARANG, borneoreview.co – Kota Semarang Jawa Tengah menjelma etalase harapan. Kamis pagi itu, 6 Agustus 2026, lobi Hotel Horison Ultima Sentraland tak lagi sekadar ruang transit.
Ia berubah menjadi ruang resonansi gagasan, tempat 210 pemikir terbaik negeri ini merajut masa depan pendidikan.
Mereka adalah guru besar, dosen, hingga mahasiswa dari 33 perguruan tinggi, hadir dalam Temu Kolegial Asosiasi Program Studi Teknologi Pendidikan Indonesia (APS TPI) ke 11 serta Konferensi Internasional Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI).
*Lonceng Adaptasi Kampus*
Di tengah gegap gempita kehadiran delegasi dari UNJ, UNESA, UPI, hingga Universitas Negeri Manado, kekhawatiran justru menyelimuti optimisme.
Wakil Rektor 4 Bidang Perencanaan dan Kerja Sama UNNES, Prof. Dr. Nur Qudus, M.T., IPM., melontarkan sebuah keresahan intelektual.
Ia menekankan bahwa kecepatan adaptasi kurikulum kini terlampau jomplang dibanding lompatan perangkat keras digital serta kecerdasan buatan.
“Berharap kegiatan ini dapat melahirkan solusi nyata bagi pengembangan media belajar yang relevan,” ujarnya, suaranya tenang menusuk kesadaran.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa gelar sarjana tak lagi cukup. “Lulusan kita harus mampu berpikir kritis dan kreatif untuk mengisi posisi strategis seperti perancang instruksional yang sangat dibutuhkan industri saat ini,” tegas Nur Qudus, menegaskan urgensi lompatan kompetensi.
Semangat kolaborasi ini terasa begitu organik. UNNES selaku tuan rumah berhasil memanggungkan silaturahmi intelektual yang langka.
Ketua Panitia Doktor Yuli Utanto, M.Si. tak kuasa menyembunyikan kebanggaannya harunya itu.
“Kami bangga Semarang menjadi titik temu kolaborasi antara pengelola program studi dan praktisi profesi untuk memajukan teknologi pendidikan nasional,” kata Yuli Utanto.
Cetak Biru Masa Depan
Di sesi berbeda, Ketua APS TPI, Prof. Dr. Andi Kristanto, S.Pd., M.Pd., membongkar cetak biru yang tak lagi abstrak.
Asosiasi tidak sekadar beretorika. Mereka merilis standarisasi kurikulum inti serta meluncurkan program mikrokredensial. Strategi ini membuka jalan bagi mahasiswa agar gesit belajar di luar tempurung kampus.
“Kami juga meluncurkan tiga buku referensi baru dan memperkuat kolaborasi untuk akreditasi serta pengembangan jurnal internasional bereputasi,” ungkap Profesor Andi Kristanto, membeberkan taktik menjemput pengakuan global.
Namun, di tengah euforia digitalisasi, sebuah pesan etis menggema dalam. Kepala Brida Jawa Tengah, Drs. Mohammad Arief Irwanto, M.Si., mewakili pemerintah provinsi, mengingatkan seluruh peserta bahwa kecerdasan mesin tak boleh menenggelamkan sentuhan kemanusiaan.
“Teknologi harus menjadi sarana untuk menciptakan pembelajaran yang efektif, inklusif, dan menjangkau daerah terpencil, namun etika serta kemanusiaan harus tetap menjadi fondasi utama,” demikian Mohammad Arief Irwanto mengingatkan.
Ia juga menyiratkan bahwa guru, sebagai penanam nilai, tak tergantikan oleh algoritma secanggih apa pun.
Semangat membangun jejaring ini turut dimeriahkan penganugerahan tokoh inspiratif serta lomba inovasi mahasiswa.
Dari ruang konferensi ini, para pakar tidak hanya merumuskan taktik, melainkan meneguhkan nurani.
Dengan sinergi yang matang, mereka memproyeksikan teknologi pendidikan sebagai pilar kokoh menuju Indonesia Emas 2045.***
