DLHK Kalbar Latih KUPS Enam Kabupaten Kembangkan Potensi Hutan

pelatihan

PONTIANAK, borneoreview.co – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalimantan Barat memberikan dukungan kepada Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dari enam kabupaten di Kalimantan Barat melalui pelatihan peningkatan kualitas hasil hutan bukan kayu (HHBK), khususnya produk madu kelulut, sebagai bagian penguatan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan.

“Pelatihan ini juga sekaligus mendukung upaya mitigasi perubahan iklim,” kata Kepala Bidang Rehabilitasi dan Pemberdayaan Masyarakat DLHK Kalbar, Setiyo Haryani, usai membuka pelatihan di Pontianak, Kamis (19/2/2026).

Dia mengatakan, pelatihan ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan usaha para peternak madu kelulut agar mampu mengelola usaha secara berkelanjutan tanpa merusak hutan.

“Pelatihan dilakukan agar peternak madu kelulut di sekitar kawasan hutan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan usaha sehingga dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarga tanpa harus merusak hutan,” tuturnya.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Pelaksanaan Aksi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim di Provinsi Kalimantan Barat yang didanai melalui skema Results-Based Payment (RBP) REDD+ GCF Output 2 periode 2014–2016, dengan penyaluran melalui Lembaga Perantara Bentang Kalimantan Tangguh.

Menurut Setiyo, jumlah kelompok peternak madu kelulut di Kalbar cukup banyak sehingga perlu penguatan kapasitas dan pengorganisasian secara kolaboratif serta terintegrasi agar pengembangan usaha memberikan dampak ekonomi dan kesehatan bagi masyarakat.

Ia menambahkan, pelatihan difokuskan pada pembentukan mental wirausaha pengelola KUPS, penguatan manajemen usaha, serta peningkatan kemampuan teknis produksi madu kelulut berkualitas.

“Harapannya peserta memperoleh tambahan pendapatan tanpa merusak lingkungan, sehingga hutan tetap lestari,” katanya.

Dari sisi pendampingan lapangan, perwakilan KPH Melawi, Hario Pamungkas, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pendampingan pengembangan madu kelulut di berbagai desa sejak 2020. Menurut dia, berbagai tantangan dihadapi dalam proses budidaya, namun menjadi bagian dari tahapan menuju keberhasilan usaha.

Salah satu instruktur, Syarif. M. Syaifudin, menilai pengembangan kelulut atau trigona di Kalbar memiliki sejumlah keunggulan, antara lain kemampuan adaptasi yang baik, produksi relatif konsisten setiap bulan, serta kualitas dan khasiat madu yang tinggi. Selain itu, lebah trigona tidak mudah bermigrasi dan relatif mudah dibudidayakan.

Ia mendorong keseragaman branding produk dengan penamaan “Madu Trigona Kalbar” agar lebih mudah dikenal di pasar nasional maupun internasional, mengingat perbedaan penyebutan kelulut di berbagai daerah menjadi tantangan tersendiri dalam pemasaran.

Instruktur lain, Trino, menekankan bahwa peluang pasar madu kelulut cukup besar seiring tren gaya hidup sehat alami. Namun, peternak perlu memastikan kualitas produk, kesinambungan produksi, serta ketepatan segmentasi pasar.

“Kuncinya produk berkualitas, produksi rutin, dan memahami model bisnis. Karena itu peserta juga diperkenalkan dengan penyusunan business model canvas,” kata dia.

Untuk penguatan praktik teknis, peserta pelatihan juga melakukan kunjungan lapangan ke Farm Edukasi Lebah Trigona di Kabupaten Kubu Raya. Di lokasi tersebut, peserta mempelajari teknik pemecahan koloni untuk pengembangan budidaya tanpa harus mengambil koloni dari alam atau menebang pohon di kawasan hutan.

Salah satu peserta, Rupinus, pengurus KUPS dari Kabupaten Bengkayang, menyatakan pelatihan memberi tambahan pengetahuan, keterampilan, dan motivasi bagi kelompoknya untuk terus mengembangkan usaha madu kelulut berbasis prinsip keberlanjutan.(Ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *