Dunia Kehilangan “Ibu Orangutan”, Dedikasi Biruté Mary Galdikas Abadi untuk Alam

Ibu Orangutan

PONTIANAK, borneoreview.co – Dunia konservasi internasional kembali berduka. Sosok ilmuwan sekaligus pejuang lingkungan yang dikenal sebagai “Ibu Orangutan”, Biruté Mary Galdikas, dikabarkan meninggal dunia di Los Angeles, Amerika Serikat.

Kabar duka tersebut menyebutkan bahwa ia wafat pada Selasa, 24 Maret 2026 di sebuah rumah sakit di Los Angeles. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi komunitas ilmiah global, tetapi juga bagi Indonesia yang menjadi ladang pengabdiannya selama puluhan tahun.

Semasa hidupnya, Galdikas dikenal sebagai salah satu primatolog terkemuka dunia yang mendedikasikan lebih dari lima dekade hidupnya untuk penelitian dan pelestarian orangutan, khususnya di Kalimantan.

Sejak awal 1970-an, ia aktif melakukan penelitian di Taman Nasional Tanjung Puting, kawasan yang kemudian menjadi pusat konservasi orangutan dunia. Di sana, ia tidak hanya meneliti perilaku satwa tersebut, tetapi juga melakukan rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan yang terancam punah.

Melalui Orangutan Foundation International yang didirikannya, Galdikas berperan besar dalam menyelamatkan habitat hutan hujan tropis serta mengedukasi masyarakat global tentang pentingnya menjaga keberlangsungan spesies ini.

Lahir di Wiesbaden pada 10 Mei 1946, Galdikas kemudian dikenal sebagai bagian dari trio ilmuwan perempuan legendaris “Trimates”, bersama Jane Goodall dan Dian Fossey.

Ketiganya merupakan murid dari Louis Leakey dan dikenal atas kontribusi besar dalam penelitian kera besar di habitat aslinya.

Di Indonesia, khususnya Kalimantan Tengah, sosok Galdikas sangat dihormati. Dedikasinya menjadikan wilayah tersebut dikenal dunia sebagai pusat konservasi orangutan.

Ucapan belasungkawa pun mengalir dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan pegiat lingkungan. Banyak yang menilai kepergian Galdikas sebagai kehilangan besar bagi upaya pelestarian satwa liar dan hutan tropis.

Kepergian Biruté Mary Galdikas bukan hanya kehilangan seorang ilmuwan, tetapi juga simbol perjuangan panjang dalam menjaga keseimbangan alam.

Warisan pemikiran, penelitian, serta aksi nyata dalam pelestarian lingkungan akan terus menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk menjaga bumi—terutama hutan tropis dan satwa yang hidup di dalamnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *