SEMARANG, borneoreview.co – Peneliti Universitas Negeri Semarang (Unnes) memanfaatkan limbah daun dari berbagai tanaman yang ada di sekitar kampus menjadi zat pewarna alam yang bisa digunakan untuk pewarna tekstil.
Hasil penelitian itu dipamerkan pada kegiatan “Diseminasi Kain Ecoprint dan Diversifikasinya berbasis Tanaman Lokal dan Zat Warna Alam” di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah, Semarang, Selasa (14/4/2026).
Koordinator tim peneliti, Widowati, M.Pd menjelaskan bahwa Unnes sebagai kampus konservasi memiliki banyak limbah daun yang bisa dimanfaatkan sebagai zat pewarna alami, seperti mahoni dan ketapang.
“Kan banyak banget loh (limbah daun, red.). Unnes kan kampus konservasi. Jadi, saya menggunakan limbah-limbah daun yang ada di situ,” kata pengajar Pendidikan Tata Busana (S1) Fakultas Teknik Unnes itu.
Ia menjelaskan zat pewarna alam selama ini banyak dimanfaatkan pelaku UMKM, termasuk pengrajin batik, tetapi mereka menghadapi kendala karena perbedaan karakter dengan pewarna sintetis.
“Kesulitan mereka bahwa zat warna alam itu kan terbatas, warnanya juga gampang luntur, misalnya. Nah, kami sebagai akademisi meneliti supaya warnanya bisa lebih tajam, lebih awet, dan bervariasi,” katanya.
Diakuinya, harga produk, seperti busana yang menggunakan zat pewarna alam memang lebih mahal ketimbang pewarna sintetis, tetapi permintaan konsumen di luar negeri justru sangat besar.
Prof Margareta Rahayuningsih selaku ketua panitia kegiatan menyampaikan bahwa hasil penelitian perguruan tinggi harus dihilirisasi dan didiseminasi sehingga dapat berdampak kepada masyarakat luas.
Berbagai praktisi, pelaku UMKM, instansi, dan komunitas diundang, termasuk Komunitas Omah Sawah yang selama ini menjadi binaan Unnes.
“Kegiatan ini merupakan diseminasi rangkaian kegiatan riset zat pewarna alam yang sudah berlangsung beberapa tahun ini,” kata Ketua Gugus Green Techno Park LPPM Unnes tersebut.
Kegiatan diseminasi itu didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program EQUITY Unnes 2025/2026, serta bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jateng.
Selain pameran, ada pula peragaan busana yang menggunakan zat pewarna buatan, serta diskusi menghadirkan narasumber dari Kementerian Investasi/Badan
Koordinasi Penanaman Modal
(BKPM).
Sementara itu, Program Manager Omah Sawah Dania Sindy mengatakan sudah sekitar empat tahunan bekerja sama dengan Unnes dalam pemanfaatan zat pewarna alam.
Komunitas yang berada di lereng Gunung Ungaran itu memanfaatkan zat pewarna alam untuk berbagai produk, seperti batik dan ecoprint, serta juga memberikan edukasi kepada masyarakat, siswa sekolah, hingga mahasiswa luar negeri.
“Kebetulan, ‘based’ Omah Sawah ini adalah gerakan sosial dan konservasi. Jadi, hasil penjualan produk dari zat pewarna alam ini berapa persen kami gunakan untuk konservasi,” katanya.(Ant)
