Bakso dan Nugget Ikan Bikinan Ibu-Ibu di Pelapis, Mengalir Lancar ke Kawasan Industri Pulau Penebang

Membuat Nugget Ikan

KAYONGUTARA, borneoreview.co – Bakso dan nugget ikan bikinan ibu-ibu di Pulau Pelapis di Kayong Utara, mengalir dengan lancar ke Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP).

Program membuat bakso dan nugget ikan, merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Dharma Inti Bersama (DIB), yang merupakan pengelola KIPP.

Program CSR membuat bakso dan nugget ikan, bertujuan mendukung perempuan dalam menggerakkan ekonomi keluarga pesisir.

Program berbasis potensi lokal, program pengolahan ikan di Desa Pelapis, kini tidak hanya menciptakan produk bernilai jual. Juga menghadirkan peluang penghasilan bagi ibu rumah tangga.

Program ini melibatkan lebih dari tiga puluh ibu rumah tangga, yang terbagi dalam beberapa kelompok usaha. Mulai dari produksi bakso ikan, nugget, penggilingan bahan baku, hingga lele marinasi.

Aktivitas ini menjadi solusi, atas keterbatasan lapangan kerja di wilayah pulau, sekaligus mengoptimalkan hasil tangkapan nelayan.

Mardiana, Ketua Kelompok Bakso Ikan dari Dusun Raya, menceritakan perjalanannya bergabung dalam program tersebut.

Awalnya, ia diajak oleh teman-teman untuk membentuk kelompok. Kebetulan di pulau tempatnya tinggal, memang minim lapangan pekerjaan.

“Tim CSR PT DIB memberikan saran, untuk membuat produk bakso ikan. Saya sangat tertarik dan memutuskan untuk ikut,” ujarnya awal Mei 2026.

Dalam kegiatan produksi yang berlangsung dua hingga tiga kali seminggu, Mardiana bertanggung jawab pada proses pengukusan.

Ia memastikan, bakso yang diproduksi matang sempurna sebelum dipasarkan. Dari aktivitas tersebut, ia mendapatkan tambahan penghasilan langsung.

Biasanya, ia dan kelompok mulai bekerja dari pukul 09.00 pagi. Selesai sekitar pukul 12.00 atau 13.00 siang.

“Tugas utama saya di bagian pengukusan,” kata Mardiana.

Setelah adonan ikan digiling dan dibentuk jadi bulatan-bulatan bakso dalam jumlah banyak, Mardiana yang bertanggung jawab mengukus sampai matang.

Dari hasil penjualan, ia telah merasakan tambahan penghasilan yang signifikan.

“Sejauh ini, saya sudah dua kali terima bagi hasil. Penghasilan ini sangat membantu dapur tetap ngepul,” tuturnya.

Ia bisa membantu suami memenuhi kebutuhan harian, terutama sewaktu suami belum mengirimkan uang.

Uang ini biasanya digunakan untuk membeli bahan makanan, sabun, garam, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Pengalaman serupa dirasakan Latipah, Ketua Kelompok Nugget Ikan. Ia menilai, kegiatan ini tak hanya membantu ekonomi keluarga. Juga memberikan ruang bagi perempuan untuk tetap produktif.

“Daripada waktu luang hanya diam di rumah, lebih baik berkumpul dengan ibu-ibu lain,” ujarnya.

Produk Nugget Ikan
Ibu-ibu Desa Pelapis, Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, membuat bakso menggunakan ikan hasil tangkapan nelayan sekitar. Program pengolahan hasil perikanan merupakan program CSR PT Dharma Inti Bersama yang bertujuan meningkatkan pendapatan rumah tangga di Desa Pelapis.(Ist)

Dari berkumpul dengan ibu-ibu lainnya, menghasilkan sesuatu yang menghasilkan uang. Dari bagi hasil penjualan nugget, ia dapat tambahan uang tunai.

Uang itu belum tetap setiap bulannya. Tapi setiap bulan, ia bisa mendapatkan uang ratusan ribu rupiah.

“Yang kami terima sangat berarti, buat kami yang tinggal di pulau,” ungkapnya.

Latipah menambahkan, produk nugget ikan yang dihasilkan memiliki keunggulan dari segi kualitas.

Keunggulan nugget ibu-ibu di Pelapis, menggunakan ikan segar asli tanpa banyak bahan pengawet.

“Rasanya lebih gurih dan tentunya lebih sehat, karena kandungan protein ikannya yang tinggi,” jelasnya.

Seluruh hasil produksi nugget, bakso, dan lele marinasi dijual untuk konsumsi di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP).

Kawasan Industri yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) ini, dipersiapkan menjadi pusat pengolahan dan pemurnian biji bauksit untuk produksi alumina, dan aluminium yang berkelanjutan.

External Relation Manager PT DIB, Sugeng Sulistiyo, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab tantangan ekonomi masyarakat pesisir.

Ia melihat potensi besar pada perempuan pesisir. Selama ini perannya dalam ekonomi keluarga, masih bisa dioptimalkan.

“Bagaimana pun mereka adalah kunci perubahan di tingkat rumah tangga,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebelumnya pengolahan ikan di Desa Pelapis masih bersifat tradisional dengan nilai tambah yang terbatas.

Melalui program ini, masyarakat diperkenalkan pada teknik pengolahan modern, standar keamanan pangan, serta diversifikasi produk yang lebih kompetitif di pasar.

Saat ini, kapasitas produksi kolektif telah mencapai rata-rata 200 kilogram per bulan, dengan produk unggulan berupa nugget ikan dan lele marinasi.

Dari sisi ekonomi, program ini mampu meningkatkan pendapatan anggota hingga 40 persen, sekaligus memperkuat kerja sama dan solidaritas antarwarga.

Ke depan, perusahaan akan terus mendorong keberlanjutan program, melalui penguatan infrastruktur dan pengelolaan produksi.

“Termasuk mengatasi tantangan terkait ketersediaan bahan baku, dan stabilitas listrik di pulau terpencil ini,” kata Sugeng Sulistiyo.(ril)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *