Rumah Panggung Kalimantan: Masyarakat yang Memahami Sungai

Rumah panggung Kalimantan penanda masyarakat sungai.

TENGGARONG, borneoreview.co – Arsitektur rumah panggung di Kalimantan lahir dari pengetahuan dan pengalaman hidup ratusan tahun. Kearifan masyarakat adat membaca lingkungan.

Masyarakat Kalimantan secara turun temurun hidup di sepanjang sungai-sungai besar. Mereka belajar memahami siklus pasang-surut sungai sehingga kehidupan di rumah tidak terganggu banjir.

Kebiasaan semacam itu terlihat biasa di sejumlah wilayah Kalimantan. Rumah-rumah berdiri di atas tonggak kayu, menyisakan ruang kosong di bawah lantai.

Dari kejauhan, bentuknya tampak sederhana. Menyebutnya sekadar rumah tradisional membuat kita kehilangan nilai yang lebih penting.

Rumah panggung sebenarnya adalah hasil dari cara manusia membaca lingkungan. Penelitian tentang rumah tradisional di tepian Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, menunjukkan bahwa kondisi alam dan lingkungan menjadi faktor penting dalam penyesuaian bentuk rumah tinggal.

Pada kawasan panas dan lembap, lantai yang ditinggikan tidak hanya menjaga rumah tetap kering ketika banjir, tetapi juga memungkinkan manusia tetap hidup dekat dengan lingkungan sungai.

Tiang-tiang yang menopang rumah bukan sekadar bagian dari konstruksi. Tapi menyimpan pengalaman dan pengetahuan berusia tua.

Masyarakat yang hidup di tepian sungai mengetahui bahwa air tidak selalu bisa dipaksa mengikuti kehendak manusia. Ketika permukaan sungai naik, pilihannya bukan melawan air dengan tembok beton. Tapi mengangkat kehidupan beberapa meter dari atas tanah.

Di Sungai Kahayan, Palangkaraya, hubungan antara rumah dan air bahkan membentuk tiga tata ruang permukiman: Rumah di atas air atau lanting, rumah panggung di kawasan transisi antara air dan daratan, serta rumah yang sepenuhnya berada di darat.

Perbedaan tata ruang permukiman itu menunjukkan rumah sebenarnya bisa dibaca sebagai peta hubungan manusia dengan air. Semakin dekat dengan sungai, semakin besar kebutuhan untuk beradaptasi.

Rumah panggung bukan benda mati yang diwariskan begitu saja dari generasi ke generasi. Ia berubah ketika lingkungannya dinamis.

Penelitian mengenai rumah vernakular Kutai di Tenggarong, Kalimantan Timur, menemukan berbagai penyesuaian pada tempat tinggal di kawasan rawan banjir. Penghuninya menambahkan balok pengaku pada tiang, sebagai penghalang agar sedimentasi dan sampah tidak memenuhi kolong rumah.

Mereka juga menyesuaikan bentuk dan tinggi tangga serta jembatan menuju rumah induk. Jika diperlukan mereka mengganti sejumlah material bangunan.

Ironi Rumah Vernakular

Kita sering menganggap arsitektur tradisional sebagai sesuatu yang statis atau bentuk lama yang dipertahankan karena adat. Padahal rumah Kutai memperlihatkan hal sebaliknya. Desain rumah bertahan justru karena kemampuannya untuk berubah.

Ketika arus air semakin kuat, konstruksi rumah diperkuat. Ketika material tertentu semakin sulit diperoleh, bahan bangunan diganti.

Tradisi, dengan demikian bukan berarti menolak perubahan. Tradisi bisa berarti mengetahui apa yang harus dipertahankan dan apa yang harus berubah agar kehidupan tetap berlangsung.

Penelitian lain soal rumah warga Dayak dan Melayu di Kalimantan Barat memperlihatkan bahwa rumah panggung merupakan bagian dari sistem pengetahuan ekologis yang lebih luas.

Ketinggian rumah dan pemilihan material berkaitan dengan pengalaman menghadapi banjir. Rumah juga berfungsi sebagai tempat menyimpan makanan, perlindungan, dan pusat koordinasi sosial ketika banjir datang.

Artinya, yang diwariskan sebenarnya bukan hanya bentuk rumah. Yang diwariskan adalah pengetahuan tentang bagaimana bertahan hidup di lingkungan tertentu.

Pengetahuan semacam ini sering luput ketika kita memandang rumah panggung hanya sebagai peninggalan budaya. Kita melihat bentuknya, tetapi tidak membaca alasan di balik bentuk tersebut.

Kita menyebutnya arsitektur tradisional, tetapi lupa bahwa arsitektur tersebut lahir dari percobaan panjang manusia menghadapi alam. Di sinilah rumah panggung menjadi relevan bagi kehidupan modern.

Kota-kota berkembang dengan cara yang berbeda. Tanah ditinggikan, permukaan ditutup beton, rawa dikeringkan, drainase dibangun, dan rumah-rumah dibuat semakin rapat. Alam kemudian dianggap sebagai sesuatu yang harus dikendalikan.

Ketika air datang lebih banyak dari yang diperkirakan, kita menyebutnya bencana. Sementara itu, rumah panggung dibangun dari kesadaran yang berbeda.

Bahwa manusia tidak selalu bisa mengendalikan air. Kadang yang lebih masuk akal adalah memberi ruang bagi air untuk lewat.

Tentu saja, ini bukan berarti rumah tradisional selalu lebih baik daripada rumah modern. Rumah panggung bukan solusi ajaib untuk semua banjir. Lingkungan Kalimantan sendiri terus berubah akibat urbanisasi, perubahan tata ruang, sedimentasi, dan berbagai tekanan ekologis.

Justru karena itulah pengetahuan lama perlu dibaca kembali. Bukan untuk kembali tinggal di rumah-rumah panggung, tapi mewarisi kebijaksanaan luluhur yang memberi ruang untuk alam.

Pelajaran paling sederhana dari rumah panggung Kalimantan adalah manusia tidak selalu harus menang melawan alam. Kadang-kadang, bertahan hidup berarti mengetahui kapan harus memberi jalan.

Sebab itu rumah panggung tidak dibangun untuk mengalahkan air. Ia dibangun karena penghuninya sudah lebih dulu belajar memahami air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *