PONTIANAK, borneoreview.co – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Universitas Tanjungpura (UNTAN) melalui inovasi Norjemah Pihtar mengunjungi Balai Bahasa Kalimantan Barat untuk membahas pemanfaatan teknologi sebagai salah satu upaya mendukung pelestarian Bahasa Dayak Serawai Ambalau.
Norjemah Pihtar merupakan perangkat penerjemah suara dua arah yang dirancang untuk menerjemahkan Bahasa Dayak Serawai Ambalau ke Bahasa Indonesia maupun sebaliknya secara real-time dan offline.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memperoleh masukan dari pihak Balai Bahasa dalam pengembangan alat, khususnya dari sisi penggunaan bahasa.
Norjemah Pihtar dikembangkan oleh Muhammad Zulkifli selaku ketua tim bersama Daffa Naufal A’bari, Tarisa Arselia, dan Selsa, di bawah bimbingan Khairul Hafidh, S.T., M.Kom. Program pengembangan Norjemah Pihtar ini mendapat sumber pendanaan dari Belmawa Kementerian Sains dan Teknologi (Kemensaintek).
Perangkat tersebut menggunakan pendekatan Edge Computing dengan Raspberry Pi sebagai pusat komputasi serta mengintegrasikan teknologi Speech-to-Text, Neural Machine Translation (NMT) berbasis Transformer, dan Text-to-Speech.
Salah satu pegawai Balai Bahasa Kalimantan Barat, Ibu Ida Herawati, menilai Norjemah Pihtar sebagai alat yang bagus dari segi tampilan maupun kemampuannya menerjemahkan tanpa jaringan internet.
“Alat ini sangat bagus, bisa dilihat dari tampilannya dan juga bisa menerjemahkan tanpa sinyal. Mungkin ke depannya bisa dikembangkan lagi dengan menambahkan fitur-fitur yang dapat mempermudah penggunaannya,” ujar Ibu Ida Herawati.
Ibu Ida Herawati juga menilai Norjemah Pihtar dapat membantu masyarakat Dayak Serawai Ambalau yang berada di wilayah yang cukup jauh dan mungkin agak terpencil.
“Alat ini sangat membantu, khususnya bagi masyarakat Dayak Serawai Ambalau yang letaknya cukup jauh dan mungkin agak terpencil,” katanya.
Ibu Ida Herawati mengatakan Balai Bahasa Kalimantan Barat mendukung pengembangan Norjemah Pihtar karena dinilai memiliki manfaat bagi masyarakat, khususnya masyarakat Dayak Serawai Ambalau.
“Kami mendukung penuh program ini karena program ini sangat bagus dan sangat bermanfaat untuk masyarakat, terutama masyarakat Dayak Serawai Ambalau,” ujar Ibu Ida Herawati.
Sebelumnya, tim telah melakukan pengujian prototipe Norjemah Pihtar kepada mahasiswa di Asrama Sintang. Pengujian tersebut dilakukan sebagai bagian dari evaluasi kemampuan alat dalam menerjemahkan tuturan Bahasa Dayak Serawai Ambalau dan Bahasa Indonesia secara langsung.
Melalui pengembangan Norjemah Pihtar, tim berupaya menghadirkan alat yang dapat membantu komunikasi lintas bahasa sekaligus mendukung pemanfaatan teknologi dalam upaya memperkenalkan dan melestarikan Bahasa Dayak Serawai Ambalau di era digital.***
