CILACAP, borneoreview.co – Peneliti khawatir perubahan iklim dan kerusakan lingkungan memicu meningkatnya kejadian hiu paus terdampar di pantai. Ditemukan sampah plastik pada bangkai hiu paus yang terdampar.
Berdasarkan jurnal Scientific Reports, setidaknya terjadi 112 kasus hiu paus terdamparan selama kurun waktu 2011-2023. Rata-rata ada dua kasus hiu terdampar setiap tahun.
Menurut data Balai Pengelolaan Kelautan (PK) Wilayah Kerja Yogyakarta, selama 2022-2025 terjadi 24 kali hiu paus terdampar. Tujuh di antaranya terjadi di Kabupaten Cilacap.
Pada periode Desember 2025 hingga Juli 2026, terjadi setidaknya 8 kasus hiu paus terdampar di pesisir selatan Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dua diantaranya dalam kondisi hidup.
Kepala Stasiun PSDKP Kabupaten Cilacap, Dwi Santoso mengaku prihatin spesies yang dilindungi itu secara beruntun harus mati akibat terdampar.
Menurut Dwi Santoso, sampai hari ini belum diketahui penyebab pasti hiu paus terdampar. Sehingga memerlukan dukungan terutama dari para peneliti agar dapat melakukan mitigasi dan penanganan hiu paus terdampar.
Kejadian Luar Biasa
Fenomena hiu paus terdampar secara beruntun di pesisir Selatan Jawa, khususnya di Kabupaten Cilacap, merupakan kejadian yang tidak biasa. Kejadian hiu paus terdampar biasanya terjadi pada akhir tahun -September hingga Desember- atau awal tahun (Januari-Februari).
“Tapi yang terjadi sekarang ini justru pada pertengahan tahun,” kata Petugas Balai Pengelolaan Kelautan (Balai PK) Pontianak Wilayah Kerja Jawa Tengah, Darmawan.
Darmawan menyebut beberapa faktor penyebab hiu paus terdampar. Di antaranya fenomena oseanografi berupa upwelling yang ditandai penurunan suhu permukaan laut dan peningkatan produktivitas perairan serta perubahan iklim. Faktor lain bisa berupa antropogenik seperti by-catch, tertabrak kapal, atau pencemaran perairan.
Karhutla Kalimantan: Hilangnya Rumah Orangutan dan Satwa Liar
Pada bedah bangkai atau nekropsi terhadap empat dari lima kasus hiu paus terdampar di Kabupaten Cilacap, ditemukan potongan plastik dan karet dalam saluran pencernaan.
Namun keberadaan potongan sampah plastik belum dapat disimpulkan sebagai penyebab utama kematian. Diperlukan analisis laboratorium untuk mengetahui kaitannya dengan kondisi kesehatan satwa.
“Hasil pemeriksaan laboratorium diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai penyebab kematian. Termasuk apakah terdampar karena dipicu oleh faktor alami, aktivitas manusia, atau kombinasi keduanya,” kata Marine Megafauna Specialist Yayasan Sealife Indonesia, drh. Dwi Suprapti.
Penelitian Lanjutan
Peneliti dari Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Dr. Nuning Vita Hidayati mengatakan, berdasarkan hasil pengukuran lapangan, parameter kualitas air dasar, seperti suhu, pH, oksigen terlarut (DO), salinitas, dan TDS, masih berada dalam kisaran normal.
Hasil tersebut belum dapat dijadikan dasar menyimpulkan bahwa perairan bebas dari tekanan lingkungan maupun pencemaran. Parameter tersebut hanya menggambarkan kondisi perairan pada saat pengukuran dan belum mencerminkan keseluruhan kondisi lingkungan perairan.
“Berbagai kontaminan, seperti logam berat, senyawa organik persisten, maupun polutan lainnya, tidak dapat dideteksi melalui pengukuran parameter fisika-kimia dasar sehingga masih memerlukan analisis laboratorium yang lebih spesifik.”
Setiap kejadian satwa laut terdampar, termasuk hiu paus, perlu dipandang sebagai sinyal ekologis (ecological warning signal) yang memerlukan investigasi ilmiah secara komprehensif melalui pendekatan multidisiplin.
Perubahan Iklim Dapat Pengaruhi Sistem Fisik Pesisir, Ini Solusi dari Pakar
Hiu paus adalah salah satu spesies ikan terbesar di dunia. Ukuran tubuhnya bisa mencapai 18 hingga 20 meter dengan bobot hingga puluhan ton.
Hiu paus terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah ditemukan di Taiwan, mencapai berat 34 ton dan memiliki panjang sekitar 20 meter.
Meski berukuran besar, spesies ini merupakan filter feeder yang tidak aktif memburu mangsa besar. Makanan utamanya berupa organisme kecil, termasuk plankton, ikan kecil dan telur ikan.
