BERAU, borneoreview.co – Asap akibat karhutla masih pekat ketika tim penyelamat menemukan orangutan, tergeletak lemas di sekitar kebun sawit di Dusun Sampurna, Laman Satong, Ketapang, Kalimantan Barat.
Orangutan jantan dewasa itu tidak ditemukan dengan tubuh penuh luka bakar. Ia nyaris tak berdaya setelah berhari-hari terjebak di tengah kawasan yang dilalap api.
Sehari sebelumnya, kebakaran hutan dan lahan terjadi cukup parah di sekitar lokasi. Ketika BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) datang mengevakuasinya, asap masih menggantung tebal.
BKSDA Kalbar : Orangutan Jantan Ditemukan Lemas akibat Asap Karhutla
Oragutan itu kemudian diberi oksigen dan infus karena dokter hewan menemukan gangguan pada pernapasan.
Kasus orangutan ini menjadi salah satu gambaran bagaimana karhutla mempengaruhi kehidupan satwa liar. Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pohon-pohon. Tapi tempat hewan mencari makan, berlindung, menemukan air, hingga jalur migrasi yang ikut rusak.
Satwa yang kehilangan ruang hidup akhirnya dipaksa bergerak —kadang menuju perkebunan, permukiman, bahkan kawasan perkotaan.
Di Berau, Kalimantan Timur, sebuah peristiwa pada 21 Agustus 2026 memperlihatkan sisi lain dari persoalan itu. Seekor kangkareng hitam jantan ditemukan warga bertengger di pohon yang relatif rendah di pusat Kota Tanjung Redeb sekitar pukul 18.15 WITA.
Warga melaporkannya kepada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Berau. Petugas BKSDA Kalimantan Timur Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I Berau kemudian mengamankan burung tersebut.
Pemeriksaan menunjukkan kangkareng dalam kondisi sehat dan aktif. BKSDA menduga burung itu sebelumnya dipelihara secara ilegal.
Namun, kemunculan satwa liar di luar habitatnya tetap menyisakan persoalan: Apa yang terjadi ketika ruang hidup satwa Kalimantan terus terdesak oleh api?
Penyelamatan orangutan, di Dusun Sampurna bukan kejadian tunggal. Ia merupakan orangutan ketujuh yang diselamatkan BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI akibat ancaman karhutla sepanjang Agustus 2026.
Filipina dan Malaysia Tutup Sekolah Akibat Kabut Asap Karhutla
Jumlah itu memberi gambaran bahwa api tidak hanya menghilangkan tutupan hutan, tetapi juga mulai mengubah perilaku dan pergerakan satwa yang hidup di dalamnya.
Ketika hutan terbakar, satwa kehilangan lebih dari sekadar pepohonan. Ketika ruang tersebut rusak atau tertutup asap, satwa dapat berpindah ke kawasan yang lebih terbuka dan mendekati perkebunan atau permukiman manusia.
Di titik itu, persoalan konservasi berubah menjadi persoalan konflik manusia dan satwa. Orangutan yang keluar dari habitatnya dapat dianggap mengganggu kebun warga.
Satwa yang masuk ke kota dapat dianggap membahayakan atau justru menjadi sasaran penangkapan. Padahal, perpindahan tersebut bisa merupakan konsekuensi dari menyusutnya ruang hidup mereka.
Karena itu, penyelamatan satwa yang ditemukan di luar habitat menjadi pekerjaan darurat. BKSDA dan YIARI menyiagakan tim untuk merespons laporan masyarakat, mengevakuasi satwa, memberikan pertolongan medis, lalu merehabilitasi sebelum satwa dikembalikan ke alam.
Tetapi ada batas dari pekerjaan tersebut. Menyelamatkan satu orangutan tidak otomatis menyelamatkan hutannya. Memindahkan satwa dari kebun warga tidak menyelesaikan persoalan jika habitat asalnya terus terbakar.
Di Berau, BKSDA mengingatkan bahwa rangkong, orangutan, dan satwa khas Kalimantan merupakan bagian penting dari kekayaan hayati sekaligus daya tarik wisata alam. Karena itu, kerusakan habitat bukan sekadar kehilangan tutupan vegetasi. Ada rantai kehidupan yang ikut terputus.
Karhutla dengan demikian seharusnya tidak dihitung hanya dari luas areal yang terbakar. Ada ukuran lain yang jauh lebih samar terlihat: Berapa banyak ruang hidup satwa yang hilang, berapa banyak sumber pakan yang lenyap, dan berapa jauh satwa harus bergerak untuk menemukan tempat yang aman.
Penemuan orangutan di Dusun Sampurna adalah salah satu jawabannya. Orangutan ditemukan lemas bukan karena terbakar, melainkan setelah habitatnya diselimuti asap dan api. Rangkong di Tanjung Redeb menunjukkan sisi lain dari persoalan, meski penyebab kemunculannya belum dapat dipastikan.
Keduanya mengingatkan bahwa hutan bukan ruang kosong yang terbakar lalu selesai setelah api padam. Di dalamnya ada satwa yang membutuhkan rumah.
Jika rumah itu terus menyusut, evakuasi hanya menjadi pekerjaan yang berulang. Api padam, satwa diselamatkan, lalu kebakaran datang lagi.
Menhut: Hotspot Naik, Kalbar dan Kalteng Prioritas Penanganan Karhutla
Karena itu, melindungi satwa langka di Kalimantan pada akhirnya bukan hanya soal menyelamatkan hewan dari api. Pekerjaan yang lebih penting adalah memastikan mereka tidak kehilangan habitat yang membuat mereka tidak perlu lagi lari menyelamatkan diri.
Sebab, bagi satwa liar, habitat bukan sekadar hamparan hutan di peta konservasi. Habitat adalah ruang untuk mencari makan, berkembang biak, membesarkan anak, dan berpindah tanpa harus berhadapan dengan manusia.
Ketika fungsi-fungsi itu hilang, tekanan ekologis akhirnya muncul dalam bentuk satwa yang sakit, kelaparan, tersesat, atau masuk ke permukiman manusia. Dan ketika itu terjadi, manusia pun ikut menghadapi konsekuensinya.

3 thoughts on “Karhutla Kalimantan: Hilangnya Rumah Orangutan dan Satwa Liar”