JAKARTA, borneoreview.co – Adopsi perkebunan kelapa sawit dapat memengaruhi ketahanan pangan dan keragaman pola makan masyarakat. Ancaman serupa juga terjadi pada perkebunan monokultur skala besar.
Sebuah penelitian tahun 2023 membandingkan metode perkebunan sawit di Indonesia dan Kamerun. Kedua negara ini sama menjadi penghasil minyak sawit dunia, namun memiliki dampak yang berbeda.
Kelapa sawit merupakan sumber minyak nabati terbesar di dunia. Sawit menggunakan 10 persen dari 275,3 juta hektare lahan yang diperuntukkan bagi tanaman penghasil minyak dan biji minyak, namun menyumbang 40 persen dari total produksi minyak nabati (1.062,7 juta ton).
Petani Mengejar Ketahanan Pangan: Ayam Mati di Lumbung Padi
Indonesia adalah produsen dan eksportir minyak sawit mentah terbesar di dunia. Pada tahun 2020, Indonesia menghasilkan produksi tahunan sebesar 256 juta ton tandan buah segar.
Sedangkan Kamerun merupakan produsen minyak sawit terbesar ketiga di Afrika dan kesembilan di dunia. Produksinya mencapai 2,5 juta ton tandan buah segar pada tahun 2020.
Di kedua negara tersebut, rumah tangga petani terus mengadopsi kelapa sawit yang membawa implikasi signifikan terhadap pembangunan perdesaan dan ketahanan pangan.
Adopsi perkebunan sawit menyebabkan perubahan pendapatan, baik di tingkat usaha tani maupun rumah tangga. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa adopsi kelapa sawit menguntungkan dan berkaitan dengan pendapatan rumah tangga yang lebih tinggi.
Peningkatan pendapatan tersebut dapat memungkinkan rumah tangga untuk mengatasi kendala likuiditas dan membeli beragam bahan pangan dari pasar. Sehingga konsumsi keluarga petani menjadi lebih stabil.
Bengkayang Pertahankan Budaya Berladang Perkuat Ketahanan Pangan
Ditemukan adanya hubungan positif antara adopsi kelapa sawit dan pengeluaran konsumsi di Indonesia. Adopsi kelapa sawit juga dikaitkan dengan keragaman pola makan rumah tangga yang lebih baik serta peningkatan konsumsi kalori, buah-buahan, dan sayuran.
Produksi kelapa sawit di Indonesia semata-mata bertujuan untuk menghasilkan pendapatan tunai. Sedangkan di Kamerun, komoditas ini merupakan bagian penting dari pola makan rumah tangga.
Konsumsi minyak sawit merah —yang tergolong dalam kategori lemak dan minyak— dapat meningkatkan ketahanan pangan serta menyediakan mikronutrien esensial seperti vitamin A.
Namun, hal ini juga dapat mengurangi keragaman konsumsi dari hasil produksi sendiri, karena budidaya kelapa sawit sering kali meluas dengan mengorbankan lahan tanaman pangan tradisional.
Akibatnya, rumah tangga yang mengadopsi budidaya kelapa sawit mungkin mengurangi budidaya tanaman pangan lain. Sehingga membatasi keragaman tanaman pangan serta ketersediaan pangan untuk konsumsi rumah tangga.
Adopsi kelapa sawit yang mempengaruhi ketahanan pangan dan keragaman pola makan adalah melalui peluang kerja di luar usaha tani (off-farm). Produksi kelapa sawit dan rantai nilai yang terkait dengannya dapat bersifat padat karya, bergantung pada konteksnya.
BRIN Kembangkan AI untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Di Kamerun misalnya, rantai nilai minyak sawit tergolong panjang dan melibatkan banyak anggota keluarga. Sebab proses pengolahan biasanya dilakukan di lokasi pertanian. Budidaya sawit di Kamerun umumnya bersifat padat karya dengan penggunaan penggilingan skala kecil atau tradisional (artisanal mills).
Sebaliknya, di Indonesia, budidaya kelapa sawit cenderung tidak terlalu padat karya dibandingkan komoditas perkebunan lainnya, seperti karet dan padi.
Proses pengolahan minyak sawit juga berbeda di kedua konteks: Indonesia memiliki sistem penggilingan yang lebih terindustrialisasi dan terorganisasi, sementara Kamerun sepenuhnya bergantung pada penggilingan skala kecil atau tradisional.
Sistem pemasaran di kedua negara juga berbeda. Banyak petani Indonesia menjajaki rantai nilai modern, sementara petani di Kamerun mengandalkan rantai pasok tradisional.
Perbedaan dalam aktivitas rantai nilai ini dapat memiliki kaitan yang berbeda terhadap pekerjaan di luar usaha tani. Sumber pendapatan tunai sering digunakan petani untuk membeli pangan, terutama selama masa paceklik.
Adopsi kelapa sawit juga menyebabkan perubahan peran gender, yang berpotensi berdampak pada ketahanan pangan dan keragaman pola makan. Meskipun laki-laki mendominasi produksi kelapa sawit, perempuan juga terlibat dalam industri ini -baik sebagai kepala rumah tangga maupun sebagai pasangan.
Namun, bias budaya dan kendala sosial-ekonomi lainnya dapat menghambat perempuan untuk memproduksi kelapa sawit sebagai kepala rumah tangga serta berpartisipasi penuh dalam berbagai tahapan rantai nilai kelapa sawit.
Bagaimanapun, adopsi kelapa sawit dapat memengaruhi ketahanan pangan dan keragaman pola makan—baik secara positif maupun negatif— melalui dampaknya terhadap alokasi waktu untuk kegiatan seperti berkebun di pekarangan dan penyiapan makanan, yang keduanya relevan bagi ketahanan pangan dan keragaman pola makan.
Peralihan dari produksi tanaman pangan ke tanaman komersial dapat menyebabkan beralihnya pengelolaan dan kendali pendapatan rumah tangga dari perempuan ke laki-laki.
Mengingat peran perempuan yang lebih erat kaitannya dengan ketahanan pangan dan kebutuhan gizi rumah tangga, perubahan terkait pendapatan dan alokasi waktu ini dapat berdampak negatif terhadap ketahanan pangan dan gizi.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mendefinisikan ketahanan pangan sebagai “kondisi di mana semua orang, setiap saat, memiliki akses fisik, sosial, dan ekonomi terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi yang memenuhi kebutuhan serta preferensi pangan mereka demi kehidupan yang aktif dan sehat”.
Mempertahankan Sagu sebagai Identitas dan Ketahanan Pangan Lokal Papua
Definisi ini menekankan pentingnya menjamin akses terhadap pangan, mendorong pola makan sehat dan pemenuhan gizi, serta mengatasi faktor-faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan yang mendasar yang dapat memengaruhi ketersediaan dan akses pangan.
FAO juga mendefinisikan keragaman pangan sebagai “jumlah jenis pangan atau kelompok pangan berbeda yang dikonsumsi dalam periode acuan tertentu”. Istilah ini mengacu pada variasi jenis pangan dan kelompok pangan yang dikonsumsi oleh individu atau populasi dalam jangka waktu tertentu.
Pola makan yang beragam sangat penting untuk menjaga pola makan yang sehat dan seimbang, karena hal ini memastikan individu memperoleh berbagai zat gizi esensial yang diperlukan bagi kesehatan yang optimal.
Sehingga menjadikan sawit -juga perkebunan monokultur skala besar lainnya- sebagai satu-satunya sumber ekonomi masyarakat, berpotensi mengancam ketahanan pangan dari segi keanekaragaman bahan makanan.
