BENGKAYANG, borneoreview.co – Pemerintah Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, mengajak masyarakat mempertahankan budaya berladang dan bertani sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga warisan budaya masyarakat adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Menurut Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis, tradisi “Ngarantek Sawa’ Bahu” yang dilaksanakan masyarakat Dayak Bakati di Kecamatan Lumar tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya sektor pertanian dalam menopang kehidupan masyarakat.
“Tradisi ini mengingatkan kita bahwa kehidupan masyarakat Dayak sejak dahulu sangat dekat dengan pertanian. Para leluhur telah mewariskan nilai kerja keras, gotong royong, kebersamaan, serta sikap menghargai dan menjaga alam sebagai sumber kehidupan,” kata Darwis saat menghadiri kegiatan Ngarantek Sawa’ Bahu Ke-10 di Ramin Adat Banua Lumar, Kabupaten Bengkayang, Selasa (9/6/2026).
Ia mengatakan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi berladang masih relevan di tengah berbagai tantangan saat ini, termasuk upaya menjaga ketahanan pangan daerah.
Menurut dia, kemajuan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh karakter masyarakat dan kemampuan menjaga kearifan lokal yang telah terbukti menopang kehidupan masyarakat selama bertahun-tahun.
Darwis menilai semangat bercocok tanam yang diwariskan leluhur perlu terus dijaga dan ditanamkan kepada generasi muda agar tidak terjadi penurunan minat terhadap sektor pertanian.
“Tradisi seperti ini tidak boleh hanya menjadi acara tahunan, tetapi harus menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran dan kebanggaan masyarakat terhadap pertanian dan budaya yang menjadi identitas daerah,” ujarnya.
Ia menegaskan ketahanan pangan merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan daerah. Karena itu, pemerintah daerah mendukung berbagai upaya yang mendorong masyarakat tetap memanfaatkan lahan pertanian dan mempertahankan tradisi bercocok tanam.
Menurut dia, masyarakat adat selama ini telah menunjukkan peran penting dalam menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam melalui berbagai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Selain berfungsi sebagai tradisi adat, Ngarantek Sawa’ Bahu juga menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami nilai gotong royong, kebersamaan, dan tanggung jawab dalam menjaga sumber-sumber kehidupan masyarakat.
Darwis mengatakan hilangnya budaya sering kali berawal dari hilangnya praktik-praktik yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, termasuk aktivitas berladang dan bertani yang selama ini menjadi dasar lahirnya berbagai tradisi adat.
“Hilangnya budaya bukan karena zaman berubah, tetapi karena generasinya berhenti mengenal, mempelajari dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Karena itu, ia berharap tradisi Ngarantek Sawa’ Bahu dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan, memperkuat identitas budaya, dan menumbuhkan semangat generasi muda untuk melanjutkan warisan leluhur.
Pemerintah Kabupaten Bengkayang, lanjut Darwis, berkomitmen mendukung pelestarian budaya dan penguatan sektor pertanian sebagai fondasi pembangunan daerah yang berkelanjutan.(Ant)
