Percepatan Hilirisasi Dinilai jadi Langkah Wujudkan Kedaulatan Energi

Hilirisasi

JAKARTA, borneoreview.co – Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Satya Hangga Yudha Widya Putra menilai percepatan hilirisasi menjadi langkah konkret dalam mewujudkan kedaulatan energi di tanah air.

Menurut dia, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, (9/6/2026), Indonesia harus memastikan bahwa sumber daya alam dikelola di dalam negeri untuk menciptakan nilai tambah bagi bangsa dan bukan sekadar mengekspor bahan mentah.

“Percepatan hilirisasi melalui Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional yang dipimpin Pak Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, merupakan langkah konkret kita untuk berdaulat secara energi,” ujar Hangga saat kuliah umum di hadapan mahasiswa Universitas Pertamina dan Universitas Budi Luhur di Jakarta, Selasa.

Kuliah umum, yang diselenggarakan Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) bekerja sama dengan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina ini menghadirkan para pakar dan praktisi energi nasional untuk membedah posisi strategis Indonesia dalam menghadapi eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

Hangga, dalam pemaparannya menegaskan bahwa sektor energi saat ini berada dalam kondisi yang sangat dinamis.

Dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dan jumlah penduduk yang mencapai 280 juta jiwa, konsumsi energi nasional dipastikan akan terus meningkat secara signifikan.

“Ketahanan energi adalah pilar utama Astacita nomor 2, sementara nomor 5 berfokus pada hilirisasi,” ujarnya.

Hangga juga menyoroti tantangan lifting minyak nasional.

Meskipun Indonesia pernah mencapai puncak produksi sebesar 1,5 juta barel per hari pada 1977, saat ini angka tersebut berada di level 600.000 barel per hari akibat lapangan yang sudah matang (mature).

Sebagai solusi, pemerintah terus mengoptimalkan penyerapan minyak dari sumur-sumur rakyat serta memangkas impor solar melalui RDMP Kilang Balikpapan.

Namun, ketergantungan pada LPG impor yang masih mencapai 80 persen tetap menjadi prioritas yang harus diintervensi melalui substitusi gas pipa dan pengembangan CNG untuk sektor industri.

Menjawab pertanyaan mahasiswa soal dampak penutupan Selat Hormuz terhadap harga BBM bersubsidi, Hangga mengatakan sebagai negara nonblok, Indonesia terus memperluas kerja sama dengan berbagai negara di luar Timur Tengah untuk mendiversifikasi sumber energi.

Pemerintah juga sudah menjamin bahwa hingga akhir 2026, stok energi akan tetap aman dan harga BBM bersubsidi akan dijaga stabil guna melindungi daya beli masyarakat, meskipun dinamika kurs rupiah terhadap dolar terus dipantau secara ketat.

Pada kesempatan itu, Hangga mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa untuk proaktif berkontribusi melalui riset dan kajian kebijakan.

“Masa depan energi nasional berada di tangan anak muda dan tidak boleh ada ego sektoral. Kita butuh sinergi lintas generasi antara regulator, akademisi, dan pelaku usaha untuk memecahkan tantangan kedaulatan energi nasional,” sebutnya.(Ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *