Kekurangan Pasokan Air Akibat El Nino, Smelter Nikel di Sulawesi Kurangi Jumlah Produksi

Smelter nikel kurangi produksi akibat kekeringan.

JAKARTA, borneoreview.co – Berkurangya pasokan air sungai dan danau akibat fenomena El Nino menurunkan jumlah produksi nikel di sejumlah smelter. Ketersediaan air menjadi bagian vital dalam proses produksi nikel.

Kemarau panjang akibat El Nino berpotensi memangkas jumlah produksi nikel. Terutama di sejumlah kawasan pusat industri nikel di Sulawesi.

Beberapa pabrik nikel di Morowali Industrial Park (IMIP) mengurangi produksi nickel pig iron (NPI) akibat keterbatasan air. Nickel pig iron adalah bahan baku stainless steel.

Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdanakusuma mengatakan pihaknya menerima laporan beberapa lokasi proyek pengolahan dan pemurnian nikel mulai mengurangi produksi akibat kesulitan mendapatkan air.

Pasokan air menjadi penunjang produksi yang vital untuk industri nikel, baik melalui proses pirometalurgi maupun hidrometalurgi.

Proses pirometalurgi membutuhkan pasokan air untuk sistem pendinginan (cooling system). Air dalam jumlah konstan digunakan untuk mendinginkan dinding tungku pembakaran agar tidak retak atau meledak.

Air bertekanan tinggi juga dipakai untuk menyemprot terak logam atau slag cair hasil peleburan. Terak logam yang membeku akibat semprotan air akan pecah menjadi butiran kecil (granular), sehingga mudah memudahkan pengolahan selanjutnya.

Proses pirometalurgi juga memanfaatkan air untuk menangkap debu, partikel halus, dan gas dari cerobong asap sebelum dibuang ke luar pabrik.

Proses produksi nikel menggunakan metode hidrometalurgi jauh lebih banyak membutuhkan air. Air menjadi media utama seluruh reaksi, di antaranya sebagai media pelarut dan reaksi kimia proses pencucian dan pemisahan logam, juga proses pengenceran.

“Metode hidrometalurgi seperti teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) mengolah biji limonit kadar rendah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) untuk bahan baku baterai,” kata Arif.

Terlebih saat ini smelter nikel umumnya menggunakan pembangkit listrik mandiri (captive power plant) bertenaga uap. Turbin uap pada PLTU membutuhkan pasokan air yang masif untuk mendorong turbin.

Pasokan air juga diperlukan untuk mendinginkan kondensor pembangkit listrik. Beberapa kawasan industri nikel memanfaatkan atau sedang bertransisi ke Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) untuk memenuhi kebutuhan energi bersih.

Penurunan debit air sungai dan danau akibat kemarau panjang saat ini menurunkan kapasitas produksi listrik PLTA secara drastis.

Fenomena El Nino tahun ini menyebabkan musim kemarau lebih panjang terutama di sebagian besar wilayah Sulawesi dan Maluku Utara. Hingga kini belum ada hitungan pasti terkait dampak El Nino terhadap penurunan jumlah produksi nikel dan nilai ekspornya.

“Masing-masing proyek pengolahan dan pemurnian mengalami dampak dan tingkatan yang berbeda-beda. Tergantung lokasi, kebutuhan air, dan ketersediaan sumber air,” ujar Arif.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *