Penuhi Mandat Biodiesel, Grup Wilmar Minta Tambahan Kapasitas Produksi Sawit

Ilustrasi biodiesel B50.

JAKARTA, borneoreview.co – Perusahaan pemasok bahan bakar nabati meminta penambahan kapasitas produksi minyak kelapa sawit untuk memenuhi mandat pencampuran biodiesel.

Kapasitas produksi minyak sawit saat ini hanya cukup untuk memenuhi pencampuran 50 persen biodiesel (B50). Butuh tambahan investasi dan analisa baru ekonomi jika biodiesel akan meningkat menjadi B60.

“Bahkan pada tingkat B50 saja, kita mulai mendekati batas maksimal pemanfaatan kapasitas yang ada di Indonesia,” kata Kepala Grup Bahan Bakar Nabati (biofuel) Wilmar, Rahul Kale.

Tingkat profitabilitas dalam program biodiesel akan mendukung investasi yang diperlukan guna mencapai mandat campuran yang lebih tinggi. “Tantangan akan muncul pada tahap B60. Pada dasarnya sangat bergantung pada ketersediaan kapasitas.”

Indonesia secara resmi meluncurkan program B50 pada 1 Juli 2026. Meningkatkan kadar campuran biodiesel dalam pasokan solar untuk kewajiban layanan publik (PSO) menjadi 50 persen.

Sementara segmen non-PSO tetap pada tingkat B40. Langkah ini merupakan bagian dari upaya mengurangi impor bahan bakar dan meningkatkan ketahanan energi.

S&P Global Energy Horizons memperkirakan permintaan biodiesel domestik Indonesia meningkat menjadi 13,85 juta metrik ton pada tahun 2026. Naik dari perkiraan sebelumnya 13,2 juta metrik ton yang dipicu percepatan penerapan B50.

Namun, perkiraan peningkatan permintaan itu tidak diimbangi penambahan kuota produksi biodiesel untuk tahun 2026. Jumlah kuota produksi tidak berubah, sebesar 15,646 juta kiloliter (setara 13,77 juta metrik ton).

Hal itu mengindikasikan terbatasnya ruang bagi pertumbuhan permintaan tanpa adanya penambahan kapasitas.

Menurut Kepala Grup Bahan Bakar Nabati (biofuel) Wilmar, Rahul Kale, Indonesia sudah menjadi negara konsumen biodiesel terbesar di dunia selain sektor etanol.

Dia memperkirakan mandat bahan bakar nabati Indonesia mencapai sekitar 17 juta metrik ton per tahun.

Dukungan Ekonomi

Terlepas kekhawatiran soal kebutuhan kapasitas di masa depan, Rahul menyatakan bahwa kondisi ekonomi biodiesel saat ini mendukung program yang sedang berjalan di Indonesia.

“Harga gas oil lebih mahal dari biodiesel. Jadi sama sekali tidak ada masalah untuk mempertahankan kondisi (Indonseia) saat ini,” ujarnya.

Selisih harga POGO —ukuran perbedaan harga CPO dan bahan bakar fosil- di Bursa Malaysia Derivatives dan harga ICE Gasoil Singapore MOC berada di angka minus US$123,25 per metrik ton pada 10 September.

Angka ini turun dari level tertinggi tahun 2026 sebesar US$424,88 per metrik ton yang tercatat pada 27 Januari.

Mandatori biodiesel Indonesia didanai oleh pungutan dan bea ekspor minyak kelapa sawit. Mekanisme ini memberikan kompensasi kepada produsen ketika harga biodiesel lebih tinggi daripada harga solar konvensional.

Mekanisme itu membantu menjaga kelayakan ekonomi pencampuran bahan bakar minyak sawit ke solar (biodiesel). “Kita sedang membicarakan program biofuel paling sukses di dunia,” kata Rahul Kale.

Pungutan ekspor minyak kelapa sawit menghasilkan dana sekitar US$2,5 miliar per tahun. Saat ini mendukung mandat biodiesel sebesar kurang lebih 17 juta metrik ton.

Pangan Vs Bahan Bakar

Rahul Kale mengingatkan peningkatan konsumsi biodiesel akan mengalihkan lebih banyak minyak kelapa sawit untuk penggunaan domestik, yang berpotensi mengurangi ketersediaan untuk ekspor.

Kebijakan wajib biofuel pada akhirnya mendorong investasi pertanian tambahan dan pertumbuhan produksi. “Saya mengajak semua pihak untuk memandang biofuel sebagai cadangan pangan, bukan hal lain.”

Peluang Etanol

Secara terpisah, Kale mengatakan bahwa Wilmar sedang mengevaluasi peluang sektor etanol di Indonesia yang sedang berkembang.

Termasuk metode yang memanfaatkan bahan baku biomassa dan produk sampingan pengolahan gula.

“Kami berpartisipasi dalam kebijakan wajib etanol di India dan Australia sampai tingkat tertentu. Untuk india, kami tentu mempertimbangkan pemanfaatan biomassa maupun produk sampingan gula,” kata Kale.

Pasar etanol memang cukup enjanjikan. Harga Ethanol CIP Filipina $636,33 per meter kubik pada 10 September. Naik 66 sen per meter kubik dari hari sebelumnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *