Cadangan Minyak Global Menipis, Saudi Aramco: Pasokan Mengkhawatirkan

SPBU Pertamina

LONDON, borneoreview.co – Perusahaan eksportir minyak mentah terbesar di dunia, Saudi Aramco mengumumkan cadangan minyak global saat ini berada pada level mengkhawatirkan.

Perusahaan minyak milik negara Arab Saudi itu kesulitan memasok bahan bakar akibat blokade Selat Hormuz. Hal ini menempatkan pasar pada risiko kondisi yang memburuk kecuali Selat Hormuz dibuka kembali.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser menyampaikan hl itu hanya beberapa hari setelah pemerintah negara-negara ekonomi terbesar dunia mengumumkan rencana melepas cadangan minyak mentah mereka hingga 100 juta barel.

“Selama Selat Hormuz belum dibuka sepenuhnya dan kepercayaan belum pulih, kenyataan pahitnya adalah tekanan di kedua sisi rantai pasokan akan semakin berat,” kata Amin Nasser dalam Energy Intelligence Forum di London.

Harga Minyak Meroket

Keterbatasan pasokan minyak mentah mencapai tingkat paling serius. Memicu kenaikan tajam harga bahan bakar olahan.

Konsumsi minyak mentah masih terus meningkat. Berbagai negara akan membutuhkan pasokan lebih besar setidaknya hingga dua tahun ke depan untuk memulihkan cadangan mereka.

Berarti akan ada tambahan permintaan setidaknya 2 juta barel per hari jika pemerintah memutuskan untuk menambah jumlah cadangan minyak yang mereka simpan.

Ketika perang Amerika Serikat-Iran pecah, dunia memiliki sekitar 10 miliar barel cadangan minyak. Jumlah tersebut sekarang turun menjadi kurang dari 6 miliar barel. Sekitar 10 persen cadangan minyak mentah dipakai dalam situasi benar-benar darurat.

Keputusan negara ekonomi besar melepas sebagian sisa cadangan minyak global, memberi sedikit waktu ruang bagi geliat ekonomi. Tapi kata Nasser tidak akan mengatasi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.

Para produsen minyak di kawasan Teluk sedang berupaya meningkatkan produksi dan ekspor. Mereka berhasil memulihkan aliran minyak mentah hingga mendekati level sebelum perang.

Kapal Tanker Sendiri

Arab Saudi dan negara-negara tetangganya seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait telah menggunakan kapal tanker sendiri untuk mengangkut minyak mentah melalui Selat Hormuz. Selat tersebut sempat ditutup sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari.

Meningkatnya arus pasokan tersebut hanya memberi sedikit kelegaan bagi pasar minyak dunia. Masih ada risiko keamanan pasokan di Teluk Persia dan Laut Merah.

Minyak mentah Brent, diperdagangkan pada kisaran harga US$100 per barel selama sebulan terakhir. Meski kenyataannya semakin banyak kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

Kapal-kapal tersebut harus menghadapi risiko serangan yang semakin tinggi. Arab Saudi telah berulang kali menjadi sasaran serangan dalam sebulan terakhir.

Nasser menyatakan seluruh kapasitas hulu Aramco tetap utuh. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk terus memenuhi kontrak pasokan untuk para pembeli di Eropa dan Asia.

Perusahaan mencoba mengalihkan berbagai jalur ekspor, mengalihkan pasokan antarjenis minyak mentah, serta mengerahkan armada tanker milik sendiri untuk melayani kebutuhan ekspor.

Selama sebulan terakhir, Aramco meningkatkan pengiriman minyak mentah dari terminal ekspor utama di Ras Tanura, Teluk Persia.
Perusahaan bereaksi cepat mengatasi kendala pengentian sementara pipa lintas negara, akibat serangan bulan lalu. Sejak saat itu Aramco telah memulihkan aliran minyak hingga sekitar 80 persen dari kapasitas.

Aramco sedang mencari rute alternatif pengiriman ekspor minyak mentah untuk menghindari ketergantungan pada satu metode kargo. Perusahaan juga mengkaji rencana melipatgandakan kapasitas fasilitas penyimpanan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *