Dari Lubang Kacamata, 40 Ton Emas Redjang Lebong Diangkut ke Batavia

Ilustrasi tambang emas Redjang Lebong.

LEBONG, borneoreview.co – Belanda disebut sebagai penemu pada hampir seluruh sejarah situs purbakala, arsitektur, dan tambang. Seolah bangsa ini begitu terbelakang sehingga buta cara mengelola emas dan kekayaan alam.

Tapi katanya sejarah dicatat oleh para pemenang. Meski begitu agaknya berlebihan jika nenek moyang kita digambarkan sebagai gerombolan orang primitif yang tak paham budaya dan mengelola sumber daya alam.

Begitu juga saat nama Eugene Kassei, pejelajah berkebangsaan Belanda disebut sebagai penemu kandungan emas di Lebong, Bengkulu tahun 1896.

Dia tidak datang sendirian. Haji Ismael, orang setempat mengantarnya ke lokasi. Sejak masa Hindu-Buddha, orang Lebong sudah mendulang emas terutama di Lebong Denok.

Jadi cerita sejarah Eugene Kassei “menemukan” kandungan emas di Lebong, seharusnya lebih tepat disebut sebagai perampasan.

Kata perampasan kemudian dihaluskan menjadi “mengambil alih”, setelah perusahaan swasta Belanda: Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong resmi berdiri di Lebong Donok, 10 Februari 1897.

Cerita bahwa tambang emas besar pernah ada di Lebong, sempat hilang dari sejarah. Generasi sekarang hanya mengetahui adanya dua gua bersisian melubangi bukit di sekitar dusun mereka.

Tambang Terpencil

Lubang Kacamata. Mereka menyebut dua mulut terowongan yang dulu merupakan akses keluar-masuk hasil tambang emas di Lebong.

Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong yang mulai aktif tahun 1900 sampai 1935, tercatat mengangkat 40,5 ton emas dari Lebong Donok.

Pada periode itu, saling berebut emas perusahaan swasta berbendera Belanda. Mijnbouw Maatschappij Lebong Sulit tahun 1902 di Ketahuan. Mijnbouw Maatschappij Simau berdiri tahun 1906.

Menggunakan uang negara, pemerintah Hindia Belanda tahun 1915 juga ikut mendirikan perusahaan penambang emas di Lebong Simpang dan Tambang Sawah.

Untuk ukuran daerah terpencil yang berjarak 160 kilometer dari kota Bengkulu, Lebong mendadak jadi titik tersibuk sekaligus paling berharga bagi pemerintah Hindia Belanda.

Perusahaan swasta membangun jalan dari pelabuhan menuju pedalaman untuk mengangkut logistik dan biji emas. Ratusan kilometer menembus hutan, rawa, dan medan terjal.

Mereka menggali bukit batuan keras untuk mencapai lapisan emas yang “tidur” di dalam tanah. Biji emas diangkut keluar terowongan menggunakan lori.

Bongkahan batu mengandung emas kemudian digiling sampai halus, lalu diayak dan dipisahkan dari pasir menggunkan aliran air.

Biji emas yang terkandung dalam lumpur dimasukkan dalam tangki-tangki besar.

Cairan sianida dicampurkan untuk melepas emas dari pasir. Limbah larutan racun itu dibuang entah kemana.

Emas Hingga New York

Tahun 1913, Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong menghasilkan 872 kilogram emas. Tambang di Simau dan Lebong Sulit, masing-masing menghasilkan 1.024 kilogram dan 209 kilogram emas.

Dalam setahun gabungan ketiga perusahaan itu menghasilkan emas senilai 4,5 juta gulden. Setahun kemudian, perusahaan mendatang mesin-mesin pengolahan emas yang lebih canggih.

Hasil tambang emas melejit menjadi 5.418 kilogram. Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong sendiri mengangkat emas 6.621 kilogram, naik 651 persen dalam setahun.

Dari Bengkulu emas dikapalkan oleh perusahaan dagang Erdmann Sielcken ke Batavia. Transit sebentar di Batavia emas dijual ke Eropa, London, dan New York.

Hanya butuh waktu 7 tahun (1923-1930), produksi emas di Lebong dari tiga tambang besarnya mencapai nilai 33,2 juta gulden.

Perusahaan Bangkrut

Tergiur untung besar, pemerintah Hindia Belanda menaikkan modal tambang milik mereka di Lebong Simpang dan Tambang Sawah. Hasilnya ternyata tak sebesar hasil tambang perusahaan swasta.

Tambang milik pemerintah Belanda dilikuidasi tahun 1925 dan 1931. Perusahaan swasta bertahan hingga tahun 1935.

Total  jumlah hasil tambang emas di kawasan Lebong sejak 1900 hingga 1935 mencapai 82.090 kilogram emas.

Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong menambang 40.540 kilogram emas. Simau 32.100 kilogram. Lebong Sulit 6.810 kilogram. Tambang Sawah 2.630 kilogram.

Satu per satu tambang emas di Lebong bangkrut. Eksploitasi yang rakus membuat cadangan emas menipis, tak lagi cukup menutup biaya produksi.

Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong tutup paling akhir. Selain cadangan emas di Lebong Donok lebih banyak, perusahaan ini punya perangkat kerja lebih maju.

Perusahaan punya bendungan sendiri untuk irigasi dan keperluan pekerja. Ada bor listrik, kereta listrik pengangkut biji emas, dan alat pencetak emas.

Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong punya laboratorium penguji kadar emas, pompa air, alat penyaring, oven pembakar emas, sampai bengkel listrik sendiri.

Tambang Ilegal

Tahun 1942, bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Belanda di Indonesia, Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong akhirnya angkat kaki.

Hari ini penambangan emas masih berlangsung di Lebong. Penambang ilegal mengais kerak sisa pasir emas di lubang tambang peninggalan Belanda.

Memicu protes dari warga pemilik sawah yang lahannya rusak akibat penambangan emas ilegal. Apa yang tersisa dari Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong, berupa konflik rakyat dan kerusakan lingkungan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *