KUTAI TIMUR, borneoreview.co – Petani kelapa sawit di Kutai Timur berpeluang memperoleh manfaat ekonomi lebih besar melalui koperasi.
Selain membantu menjaga kestabilan harga tandan buah segar (TBS), koperasi dapat menjadi sarana bagi petani untuk memperkuat posisi tawar.
Koperasi juga membantu petani memperoleh akses pemasaran yang lebih baik dan mengembangkan usaha perkebunan secara bersama-sama.
Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman mendorong petani mandiri maupun petani mitra perusahaan untuk bergabung dalam koperasi perkebunan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap tengkulak yang berpotensi memanipulasi harga tandan buah segar.
Perkuat Negosiasi
Melalui koperasi, petani dapat menghimpun hasil panen, memperluas akses ke pabrik kelapa sawit, serta memperkuat posisi dalam proses negosiasi harga.
Dengan demikian, keuntungan usaha tidak hanya dari harga jual, tetapi juga oleh kemampuan petani menekan biaya pemasaran dan memperoleh informasi harga yang transparan.
Dorongan tersebut sejalan dengan arah pembangunan Kutai Timur yang bertumpu pada sektor perkebunan kelapa sawit. Pemerintah daerah bahkan menyiapkan program penyediaan lahan seluas 2 hektare bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha perkebunan sawit.
Ardiansyah menyampaikan ajakan tersebut saat pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kabupaten Kutai Timur periode 2026–2031.
Dia berharap APKASINDO dapat memperkuat kemitraan dan mendorong pengembangan perkebunan yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Subsidi Lahan Sawit
Dalam sambutannya, Ardiansyah menegaskan bahwa pembangunan Kutai Timur mengarah pada pengembangan perkebunan kelapa sawit sebagai salah satu sektor utama perekonomian daerah.
“Grand design Kutai Timur adalah perkebunan kelapa sawit. Pemerintah telah memproklamasikan menyediakan lahan 2 hektare kepada masyarakat yang ingin berkebun sawit,” kata Ardiansyah.
Program penyediaan lahan tersebut membuka peluang masyarakat untuk mengembangkan usaha perkebunan secara mandiri.
“Untuk menjaga kestabilan harga dan melindungi petani, kami harap masyarakat ikut kemitraan. Baik petani mandiri maupun petani mitra perusahaan melalui koperasi perkebunan, agar harga tandan buah segar tidak dimanipulasi oleh tengkulak,” tegasnya.
Selain pemasaran, koperasi dapat membantu anggotanya mengakses sarana produksi, seperti pupuk, bibit, dan kebutuhan perawatan kebun.
Pengadaan secara bersama berpotensi menekan biaya karena pembelian pupuk dan bibit dalam jumlah lebih besar.
Manfaat koperasi bergantung pada tata kelola yang transparan dan akuntabel.
Keterbukaan mengenai harga, biaya operasional, pembagian hasil usaha, serta pengelolaan keuangan menjadi faktor penting agar koperasi benar-benar memberikan keuntungan bagi anggotanya.***
