Menteri ESDM Tolak Ekspor Sumber Daya Alam Lewat Negara ‘Calo’

Ilustrasi Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menolak ekspor SDA transit di negara tetangga.

JAKARTA, borneoreview.co – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia meminta ekspor sumber daya alam Indonesia tidak mampir lagi ke negara tetangga.

Selama ini ekspor komoditas sumber daya alam harus transit ke negara tetangga, seperti Singapura dan Maaysia untuk diekspor ulang. Bahlil meminta ekspor dikirim langsung ke negara tujuan.

“Kalau mau kirim barang ke China, ya dari Jakarta langsung ke China. Tidak boleh dari negara yang itu ya. Hanya stempel, baru dia bilang ini ekspor negara dia,” kata Bahlil dalam Minerba Convex 2026, Senin (2/11).

“Dari mana barang kau? Langsung saja. Langsung saja. Sudah lama barang ini tertinggal mulai terus. Saya tidak bisa diolah-olah oleh mereka ini. Nggak bisa.”

Bahlil menegaskan Kementerian ESDM terus berkoordinasi dengan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) soal kebijakan pemantauan ekspor satu pintu.

Bahlil yakin sistem ekspor satu pintu lewat PT Danantara akan mengatasi masalah penjualan sumber daya alam yang harus transit ke negara lain.

“Kita dengan DSI koordinasi bagus. Kita akan lewat satu pintu lewat DSI. Tidak perlu lagi lewat transit-transit di mana. Bisa langsung ke negara tujuan,” kata Bahlil.

Feeder Barang Ekspor

Kegelisahan Bahlil sesugguhnya ‘lagu lama’. Sejak zaman Menteri BUMN Erick Thohir, keinginan untuk ekspor tanpa transit di Singapura sudah menjadi wacana.

Menurut Erick Thohir saat itu, 95 persen kargo asal pelabuhan Belawan, Medan, Sumatera Utara tidak langsung menuju negara tujuan. Melainkan harus mampir dulu di pelabuhan Singapura dan Malaysia.

Tidak hanya dari pelabuhan Belawan, sebagian besar pelabuhan di Sumatra hanya sebagai feeder -penyalur- barang ekspor. Hal ini menimbulkan kerugian ekonomi bagi Indonesia.

Sejak Januari hingga Mei 2022, sekitar 51 persen peti kemas yang bongkar-muat di pelabuhan Belawan menuju atau dari Malaysia. Sekitar 44 persen ke Singapura dan 5 persen lainnya menuju Thailand.

“Kami di Kementerian BUMN berikhtiar untuk menjadikan Belawan sebagai pelabuhan ekspor yang melayani direct call,” kata Erick Thohir, 8 Juli 2022.

Tapi cerita tak berubah hingga hari ini. Kementerian ESDM mencatat potensi ekspor batu bara yang melalui pencatatan transit di Singapura mencapai 60 juta ton. Padahal Singapura tidak memiliki wilayah tambang.

Rugi Devisa

Praktik transit ekspor sumber daya alam di Singapura menyebabkan Indonesia kehilangan keuntungan ekonomi dan devisa.

Salah satu indikatornya, kebocoran dari praktik manipulasi harga (miss invoicing dan transfer pricing) secara akumulatif sejak tahun 1991 yang dilaporkan mencapai Rp15.400 triliun.

Eksportir juga kerap melaporkan harga jual komoditas (CPO dan batu bara) lebih rendah kepada perusahaan afiliasi mereka di Singapura.

Singapura menikmati keuntungan besar sehingga Indonesia kehilangan potensi Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan pajak dalam jumlah besar.

Kendala Jaringan Pelayaran

Lalu mengapa Indonesia tidak melakukan ekspor langsung ke negara pembeli sejak dulu?

Salah satu alasannya karena Singapura memiliki jaringan pelayaran global, sehingga mampu melakukan konsolidasi atau pengalihan muatan sebelum dikirim ke negara tujuan ekspor.

Perusahaan ekspor-impor sering memilih Singapura karena pertimbangan kemudahan perbankan global, kepastian hukum, serta regulasi pajak yang lebih ramah.

Selain itu kapasitas pelabuhan utama di Indonesia belum sepenuhnya mampu melayani pelayaran langsung skala besar ke seluruh rute internasional.

Sehingga banyak menggunakan kapal kecil menuju negara hub regional, sebelum akhirnya dikirim ke negara tujuan ekspor.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *