JAKARTA, borneoreview.co – Abu vulkanik erupsi Anak Krakatau yang bergerak hingga wilayah Jabodetabek, mengganggu operasional penerbangan Bandara Soekarno-Hatta. Abu vulkanik dapat mengganggu kinerja mesin pesawat dan sejumlah komponen penerbangan.
Selain Soekarno-Hatta, bandara lainnya yang ikut ditutup sementara antara lain Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II di Lampung, serta sejumlah bandar udara di Jawa Barat.
Pemerintah menyiapkan 4 bandara alternatif untuk mengantisipasi dampak penutupan Bandara Soekarno-Hatta akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Bandara alternatif disiapkan untuk menampung pesawat yang semestinya mendarat di Jakarta.
Gunung Semeru di Lumajang Erupsi, Tinggi Letusan Capai 800 Meter
Empat bandara alternatif itu adalah Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka; Bandara Jenderal Ahmad Yani di Semarang; Bandara Internasional Yogyakarta; dan Bandara Internasional Juanda di Surabaya.
Abu vulkanik yang terlontar ke atmosfer akibat letusan eksplosif dapat merusak pesawat terbang. Partikel abu dapat mengikis permukaan yang menghadap ke depan, termasuk kaca depan kokpit, permukaan badan pesawat, dan bilah kipas kompresor.
Kontaminasi abu vulkanik juga dapat menyebabkan kegagalan pada instrumen navigasi dan operasional yang vital. Titik leleh material silika yang terkandung dalam awan abu vulkanik suhunya lebih rendah dari suhu pembakaran dalam mesin jet modern.
Akibatnya partikel abu yang terhisap mesin pesawat dapat meleleh dengan cepat dan menjadi endapan yang kembali mengeras di bagian-bagian mesin yang lebih dingin. Hal itu akan menurunkan kinerja mesin hingga terjadi stall (kehilangan daya dorong) saat penerbangan.
Indonesia dan Tantangan Menghadapi Ancaman Gempa Megathrust
Dokumen berjudul “Encounters of Aircraft with Volcanic Ash Clouds: A Compilation of Known Incidents, 1953-2009” mencatat 79 insiden kerusakan pesawat akibat abu vulkanik. Dua puluh enam kasus diantaranya menyebabkan kerusakan pesawat signifikan hingga sangat parah.
Selain membahayakan penerbangan, masuknya abu vulkanik ke mesin pesawat menelan biaya perbaikan yang sangat besar. Dalam insiden matinya keempat mesin pesawat saat letusan Gunung Redoubt di Alaska, tahun 1989, pesawat mengalami kerusakan yang membutuhkan biaya perbaikan US$150 juta.
Modifikasi Cuaca
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menegaskan, pihaknya sepakat menggelar operasi modifikasi cuaca untuk meminimalisasi dampak penyebaran abu vulkanik Anak Gunung Krakatau.
“Supaya kondisinya lebih kondusif terutama di DKI Jakarta. Sudah banyak abu vulkanik di sekitar pemukiman kita hari ini. Kita juga melaksanakan OMC. Pesawatnya sudah siap di (bandara) Pondok Cabe,” kata Suharyanto saat konferensi pers virtual di Jakarta, Minggu (6/9/2026).
Operasi modifikasi cuaca akan dilakukan dengan dua teknik. Mendatangkan hujan apabila terdapat awan pembentuk hujan atau mengunakan metode water mist. “Kita dengan BMKG sepakat untuk menggunakan metode water mist, yaitu untuk menguraikan partikel abu yang berbahaya.”
Erupsi menerus Anak Krakatau yang dimulai pada Sabtu (5/9) pukul 23.07 WIB, merupakan aktivitas dengan intensitas letusan tertinggi sepanjang 2026. Erupsi tersebut disertai fenomena lava fountain, suara dentuman, dan gemuruh.
PT Putra Perkasa Abadi Kirim Tim Tanggap Darurat ke Lokasi Erupsi Gunung Lewotobi
Suara dentuman bahkan dilaporkan terdengar hingga sejumlah wilayah Banten dan Jawa Barat. Karakter erupsi tertentu dapat menghasilkan energi akustik yang merambat hingga ratusan kilometer.
Meski aktivitas meningkat, Badan Geologi memastikan erupsi saat ini belum menunjukkan potensi tsunami. Masyarakat diminta tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak erupsi, terutama sebaran abu vulkanik.
Masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Sedangkan masyarakat di wilayah yang terkena hujan abu diimbau menggunakan pelindung pernapasan.

One thought on “Abu Vulkanik Anak Krakatau: Tutup Sementara Bandara Soekarno-Hatta”