BANTEN, borneoreview.co – Tim SAR Banten masih melakukan pencarian terhadap lima jurnalis yang diaporkan hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Keselamatan jurnalis di lingkungan berbahaya kembali menjadi sorotan.
Muhammad Bagus Khoirunas (pewarta foto LKBN Antara), Arie Basuki (Merdeka), Yudis (iNews), Daus (Anadolu Agency), serta Donal (wartawan freelance), dilaporkan hilang kontak di sekitar perairan Pulau Sebesi dan Anak Krakatau, Banten.
Kelimanya dikabarkan berangkat menumpang kapal cepat Arupadhatu 1 dari Dermaga Pagedongan, Carita, Padeglang, pada Senin (7/9) sore. Kapal dinakhodai Warta, anak buah kapal Surakman, dan guide Heriyanto.
Abu Vulkanik Anak Krakatau: Tutup Sementara Bandara Soekarno-Hatta
Dalam operasi ini Tim SAR gabungan menerjunkan lima kapal dan puluhan personel untuk melakukan pencarian. Pencarian dilakukan dengan menyisir sekitar wilayah Pulau Sebesi dan Gunung Anak Krakatau yang diduga sebagai lokasi terakhir para jurnalis sebelum hilang kontak.
Tim SAR memastikan informasi yang menyebutkan kelima jurnalis sempat menginap di Pulau Sebesi. Pencarian diperluas hingga sekitar Pulau Krakatau dan Pulau Panjang, namun belum ditemukan tanda-tanda keberadaan rombongan maupun speedboat yang digunakan.
Meski masih terlalu dini menyimpulkan keadaan kelima jurnalis tersebut, kejadian ini kembali mengingatkan pentingnya memahami panduan keselamatan jurnalis di wiayah berbahaya.
Kasus serupa pernah terjadi saat KM Levina 1 tenggelam di perairan Muara Gembong, Bekasi, pada 26 Februari 2007. Kapal motor yang terbakar itu mendadak tenggelam saat 16 petugas dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan petugas dari Labfor Mabes Polri akan melakukan pemeriksaan.
25 Penerbangan di Supadio Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau
Turut dalam rombongan tersebut jurnalis SCTV, Lugeng Widodo, Bima (RCTI), Suherman (Lativi), dan Mardianto (Elshinta). Lugeng dan 3 petuga Labfor Mabes Polri ikut tenggelam bersama kapal.
Ketua Komite Keselamatan Transportasi (KNKT) sempat melarang tim untuk masuk ke KM Levina 1 karena diduga masih ada gas yang tersisa dalam kapal. Namun petugas KNKT dan Labfor masuk kapal untuk melakukan pendeteksian awal.
Mendadak kapal miring lalu tenggelam. Dalam kondisi panik petugas Satpol Air sempat memberikan bantuan tetapi beberapa petugas dan jurnalis gagal diselamatkan.
Tidak dapat dihindari, profesi jurnalis sering bersinggungan dengan bahaya dan situasi darurat.
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengeluarkan panduan mekanisme perlindungan jurnalis isu lingkungan yang salah satunya mengatur keselamatan diri.
Jurnalis yang meliput isu lingkungan dan menggunakan moda transportasi air harus memperhatikan kondisi menjaga keselamatan berikut:
Jurnais wajib melakukan riset lokasi yang akan dituju. Mengetahui pelabuhan atau jalur evakuasi terdekat jika sewaktu-waktu terjadi situasi darurat.
Jika cuaca buruk, jurnalis dianjurkan untuk menunda bepergian sementara waktu. Para jurnalis juga harus memastikan diri cukup sehat untuk perjalanan menggunakan transportasi laut, sungai, atau danau.
Memilih operator kapal yang dikenal dan berpengalaman, serta memastikan kondisi kapal baik dan tidak kelebihan kapasitas penumpang. Gunakan jaket pelampung sepanjang perjalanan dan menyiapkan perlengkapan darurat seperti peluit, senter tahan air, pisau kecil dan kotak PPPK.
Refleksi Jurnalisme Bencana, Mitigasi Karhutla Kalimantan
Hindari posisi berdiri di tepi kapal atau bergerak terutama bila ombak besar. Jika terjatuh ke air, tetap tenang, gunakan pelampung, dan hindari berenang jauh dari kapal kecuali ada bantuan yang jelas terlihat.
Perlu diketahui, selama erupai kondisi di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau tidak dapat diprediksi. Sebelumnya rekaman video amatir memperlihatkan perahu nelayan yang terjebak hujan batu muntahan erupsi Anak Krakatau.
Semua pihak berharap kelima jurnalis dan awak kapal cepat Arupadhatu 1 dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa tidak ada berita yang lebih berharga dari nyawa.

One thought on “Lima Jurnalis Hilang Kontak Liput Erupsi Anak Krakatau”