Refleksi Jurnalisme Bencana, Mitigasi Karhutla Kalimantan

Karhutla

JAKARTA, borneoreview.co – Kebakaran hutan dan lahan, karhutla di Kalimantan menyadarkan kita bahwa nyaris tidak ada tempat yang aman dari bencana di Indonesia. Seberapa penting peran media dan jurnalis melakukan langkah mitigasi bencana.

Kemarau panjang menyebabkan beberapa wilayah hutan rawan kebakaran. Sedangkan di daerah dataran rendah yang cenderung basah, banjir menjadi ancaman yang nyata setiap tahun.

Belum lagi posisi Indonesia di kawasan Cincin Api Pasifik merupakan tempat terjadinya 90 persen gempa di dunia. Bencana menjadi salah satu objek paling menarik bagi pemberitaan media.

INALUM Perkuat Upaya Penanganan Karhutla di Mempawah

Ketika gunung Anak Krakatau meletus, video dan foto erupsi jadi sorotan media. Saat kabut asap akibat kebakaran hutan menyelimuti Kalimantan, pemberitaan mendadak ramai.

Tetapi ada persoalan mendasar dalam cara media memberitakan bencana: Perhatian mereka sering datang setelah bencana terjadi.

Media lebih sibuk mencatat kehancuran daripada mengingatkan kemungkinan kerusakan akibat bencana. Inilah persoalan pertama dalam jurnalisme bencana yaitu alpa mengingatkan bencana.

Padahal bencana bukan semata-mata peristiwa yang muncul tiba-tiba. Ada risiko yang bisa dipetakan, juga sistem peringatan dini. Bangunan yang tidak memenuhi standar keselamatan misalnya, atu masyarakat yang hidup dalam kondisi rentan.

Semua itu bisa menjadi bahan kajian berita sebelum bencana terjadi. Tapi risiko sering kalah menarik dibanding tragedi. Akibatnya, media baru ramai ketika bencana sudah menjadi tontonan.

Bencana besar sering membuat media gagap. Infrastruktur komunikasi yang rusak menghambat akses informasi. Sementara kebutuhan untuk mendapatkan berita bergerak sangat cepat.

Tim Padam Karhutla Ungkap Perambahan Ilegal di Ketapang

Dalam situasi ini jurnalis bukan hanya dituntut cepat, tetapi juga harus mampu memilah informasi, memverifikasi jumlah korban, memahami situasi lapangan dan menjaga keselamatan diri.

Kegagapan itu berbahaya karena informasi dalam situasi bencana bukan sekadar komoditas berita. Informasi bisa menentukan apakah seseorang menyelamatkan diri atau justru mengambil keputusan yang membahayakan.

Setelah berita berhasil diproduksi, persoalan belum selesai. Media kerap melakukan kesalahan lain yaitu gagal mendorong perubahan.

Pemberitaan berhenti pada pertanyaan tentang jumlah korban dan estimasi kerugian. Setelah masa tanggap darurat selesai, perhatian berangsur hilang.

Padahal pertanyaan paling penting justru belum selesai, mengapa korban begitu banyak. Mengapa jumlah kerugian membengkak?

Muncul pertanyaan seputar tata ruang yang bermasalah atau sistem peringatan dini yang tidak bekerja. Apakah masyarakat tidak mendapatkan informasi yang cukup sehingga risiko jatuhnya korban jiwa tidak bisa ditekan.

Desak Penindakan Perusahaan Sebabkan Karhutla, WALHI Kalbar: Masih Jauh dari Perkiraan

Jurnalisme bencana seharusnya tidak berhenti pada pencatatan tragedi. Tapi membongkar sebab dan mendorong perubahan agar tragedi yang sama tidak berulang.

Persoalannya bencana menyediakan panggung besar. Pemerintah dapat menunjukkan kehadiran. Politisi dapat tampil membantu korban. Lembaga kemanusiaan dapat menunjukkan kerja mereka. Perusahaan dapat membangun citra melalui bantuan.

Media kemudian berisiko sekadar menjadi kendaraan bagi kepentingan-kepentingan tersebut. Alih-alih menguji klaim dan mempertanyakan tanggung jawab, pemberitaan justru ikut memberi panggung bagi pihak-pihak tadi.

Bencana akhirnya bukan hanya menjadi tragedi kemanusiaan, tetapi juga kesempatan membangun citra.

Ironisnya, para korban bencana kemudian bisa menjadi korban media. Penderitaan manusia dengan mudah tergelincir menjadi materi dramatisasi.

Pada titik ini, jurnalisme menghadapi pertanyaan etik yang sederhana tetapi penting: Apakah semua penderitaan harus ditampilkan hanya karena bisa menarik perhatian?

Korban bukan sekadar objek untuk membuat berita menyentuh. Mereka adalah manusia yang sedang mengalami kehilangan.

Dan ketika daya tarik gambar mulai hilang, muncul dosa keenam yaitu korban yang ditinggalkan. Media pergi ketika nilai beritanya turun.

Tanah Pinoh Perkuat Kesiapsiagaan, Bupati Melawi Tekankan Sinergi Karhutla

Wartawan pindah ke lokasi bencana berikutnya. Judul-judul besar menghilang dari halaman depan. Tetapi bagi korban, bencana belum selesai.

Mereka masih harus membangun rumah, mencari pekerjaan, mengurus anak, memulihkan kesehatan, membayar utang, mengolah kembali sawah, bahkan menghadapi trauma. Di sinilah ukuran jurnalisme bencana seharusnya tidak dihitung dari seberapa cepat media hadir ketika bencana terjadi.

Tapi apakah media setia hadir mengingatkan sebelum bencana datang? Serta tetap hadir setelah bencana untuk mengawasi pemulihan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *