YOGYAKARTA, borneoreview.co – Produksi minyak sawit mengarah pada proses ramah lingkungan yang lebih sedikit mengosumsi air dan minim limbah cair. Selain lebih efisien juga relatif tidak mencemari lingkungan.
Kelapa sawit selama ini lebih sering dibahas hanya dari hasil akhir yaitu minyak, biodiesel, hingga produk pangan.
Sebelum menjadi produk bernilai tambah, sawit terlebih dahulu melewati persoalan yang sering luput dari pembicaraan tentang hilirisasi: Bagaimana buah diproduksi dan diolah sejak dari kebun.
GAPKI Usul Kredit Usaha Sebagai Insentif Peremajaan Sawit Rakyat
Pertanyaan tersebut menjadi perhatian Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy ketika mengunjungi Teaching Plant SPOT (Steamless Palm Oil Technology) di Kampus INSTIPER Yogyakarta.
Di fasilitas yang dikembangkan melalui kolaborasi Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY) bersama PT Nusantara Green Energy (PT NGE) itu, Rachmat melihat teknologi pengolahan kelapa sawit yang mencoba menawarkan pendekatan berbeda.
Bukan sekadar menghasilkan minyak sawit, tetapi bagaimana minyak diproduksi dengan penggunaan air dan energi yang lebih rendah serta jejak karbon yang lebih sedikit. “Saya sudah beberapa bulan dapat tugas dari Presiden tapi nggak ketemu jawabannya. Hari ini saya ketemu jawabannya,” kata Rachmat.
Pernyataan itu berkaitan dengan mandat pemerintah mendorong hilirisasi, termasuk komoditas kelapa sawit. Bagi Rachmat, hilirisasi tidak akan banyak berarti apabila persoalan di sektor hulu belum diselesaikan. “Hilirisasi sawit hanya bisa terjadi kalau on-farm (kebun) beres. Hulunya beres,” katanya.
Asa di Balik ISPO, Sawit Kalimantan Barat Menatap Pasar Global Lebih Pasti
Sebab, industri pengolahan membutuhkan bahan baku yang tidak hanya cukup secara jumlah, tetapi juga dihasilkan melalui sistem produksi yang efisien. Produktivitas kebun, penggunaan sumber daya, hingga pengelolaan lingkungan menjadi bagian dari rantai yang menentukan apakah produk sawit Indonesia benar-benar kompetitif.
Pada titik ini teknologi SPOT mencoba menawarkan metode pengolahan yang berbeda dari pabrik kelapa sawit konvensional.
Salah satu perbedaannya terdapat pada bahan baku yang masuk ke pabrik. Pada teknologi SPOT yang diolah adalah brondolan, sedangkan janjang kosong ditinggalkan di kebun untuk dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik.
Dengan demikian, material yang masuk dalam proses pengolahan lebih sedikit. Konsekuensinya, kebutuhan energi untuk proses produksi juga dapat ditekan.
Perwakilan PT NGE, Petrus Tjandra menjelaskan SPOT juga tidak menggunakan stasiun sterilizer atau proses perebusan tandan buah segar menggunakan uap bertekanan tinggi.
Ketiadaan proses tersebut membuat teknologi ini menggunakan lebih sedikit air. Pada saat yang sama, proses pengolahan tidak menghasilkan limbah cair kelapa sawit seperti pada sistem pengolahan yang menggunakan proses perebusan.
“Tidak adanya stasiun perebusan membuat pabrik ini akan rendah konsumsi air dan tidak akan menghasilkan limbah cair kelapa sawit,” ujar Petrus.
Gubernur Kalbar Usulkan DBH Sawit Rp100 per Kg TBS
Bagi industri yang selama ini berhadapan dengan persoalan penggunaan air, limbah dan emisi, pendekatan tersebut membuka kemungkinan baru.
Pabrik kelapa sawit tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat mengubah buah menjadi minyak. Ia juga menjadi bagian dari upaya mengurangi beban lingkungan sepanjang rantai produksi.
Teknologi SPOT dikembangkan melalui grant riset kelapa sawit yang dibiayai BPDP dan mulai dikerjakan sejak 2022. Teaching Plant di INSTIPER kemudian menjadi ruang untuk mempertemukan riset, pendidikan dan kebutuhan industri.
Menurut Petrus, minyak sawit yang dihasilkan melalui teknologi SPOT tetap memiliki kandungan nutrisi seperti Vitamin A, Vitamin E dan antioksidan. Potensi tersebut, dapat mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi masyarakat sekaligus membuka peluang mengurangi ketergantungan terhadap impor Vitamin A.
Bagi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, berbagai karakteristik tersebut memberi kemungkinan untuk memperkenalkan cara pandang baru terhadap minyak sawit Indonesia.
Ia menyebut konsep tersebut sebagai minyak sawit dengan konsumsi air rendah, konsumsi energi rendah, emisi karbon rendah, tetapi memiliki kandungan nutrisi tinggi.
“Low water consumption, low energy consumption, low carbon emission, and high nutrient,” katanya.
Gagasan itu memperlihatkan bahwa hilirisasi sawit sedang menghadapi tuntutan yang semakin kompleks.
Limbah Sawit Jadi Alternatif Pengganti LPG
Dulu, ukuran keberhasilan hilirisasi terutama berkaitan dengan seberapa jauh Indonesia mampu mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah. Kini, rantai produksi juga dituntut lebih efisien dan berkelanjutan.
Teaching Plant SPOT di INSTIPER Yogyakarta mungkin masih berupa ruang pengembangan dan pembelajaran teknologi. Tetapi dari tempat semacam ini gambaran tentang masa depan industri sawit sedang diuji.
Pada akhirnya, hilirisasi sawit bukan sekadar bagaimana menjual produk dengan nilai lebih tinggi. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan nilai tambah tanpa membuat biaya ekologisnya ikut bertambah.

One thought on “Teknologi Baru Sawit: Sedikit Konsumsi Air, Minim Limbah Cair”