GUSDURian Dorong Nilai Agama Merespon Krisis Ekologi

GUSDURian dorong nilai Islam ikut respon ancaman ekologis.

JOMBANG, borneoreview.co – Jaringan Islam moderat, GUSDURian menegaskan pentingnya menghadirkan nilai-nilai keagamaan sebagai kekuatan moral dalam merespons krisis ekologi. Islam sebagai agama yang ramhatan lil alamin.

Masifnya investasi ekstraktif dan proyek pembangunan berskala besar dinilai mengancam kelestarian alam dan keselamatan ruang hidup masyarakat. Wilayah adat dan ruang hidup warga kerap berhadapan dengan proyek pembangunan, konsesi pertambangan, hingga ekspansi industri.

Selain persoalan kerusakan lingkungan, GUSDURian juga melihat pentingnya konsolidasi gerakan lingkungan yang selama ini bergerak dalam berbagai bentuk, mulai dari advokasi kebijakan, pendampingan masyarakat akar rumput, litigasi, hingga gerakan sosial-keagamaan.

Krisis Lingkungan di Pantura, Ketika Pantai Menyerah kepada Laut

Jaringan GUSDURian ingin mempertemukan tokoh agama, akademisi, aktivis lingkungan, komunitas, dan masyarakat umum dalam satu ruang dialog. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang berbagi praktik baik (best practices) pelestarian lingkungan dan merumuskan Risalah Jagat sebagai komitmen bersama gerakan lintas iman untuk memperjuangkan keadilan ekologi.

Forum Lingkar Jagat 2026

Rangkaian Festival Jagat 2026 yang digelar 29 Agustus lalu menegaskan pesan tersebut. Di tengah riuh Muktamar NU ke-35, para penerus nilai-nilai Gus Dur berkumpul membahas krisis ekologi.

Forum Lingkar Jagat atau Majelis Keadilan Ekologi membagi forum diskusi Festival Jagad menjadi tiga sesi: “Tobat Ekologi: Tanggung Jawab Agama terhadap Krisis Ekologi”, “Merawat Bumi dari Akar Rumput”, dan perumusan Risalah Jagat.

Sesi Tobat Ekologi menghadirkan Lukman Hakim Saifuddin dari Gerakan Nurani Bangsa, Zainal Abidin Bagir dari ICRS UGM, Hening Parlan dari Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, serta Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, Uskup Keuskupan Surabaya.

Banjir di Bali, Menata Ulang Konsep Pembangunan dan Ekologi Pulau Dewata

Tak hanya diskusi, Festival Jagat juga menghadirkan Fun Games Jagat bagi santri dan pelajar.

Mereka diajak mengikuti bermacam permainan bertema kelestarian lingkungan. Ruang Cerita, Puzzle Ekologi, Ular Tangga Ekologi, Kartu Sampah Organik dan Anorganik, serta Kartu 9 NU Gus Dur.

Tidak hanya diskusi, Festival Jagat menampilkan pertunjukan musik Klenteng Gudho, pemutaran film dokumenter Mata Air yang Hilang di Wonosalam, Jombang, pertunjukan Banjari Pesantren Seblak, Tari Abu Semeru dari Sanggar Seni Wilwatikta, musikalisasi puisi oleh Zulfa Yusuf, komedi tunggal Dodok Jogja, hingga pertunjukan musik Hamid Uye.

Sejumlah kelas tematik juga digelar antara lain pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah, pengelolaan bank sampah anorganik, pengolahan sampah organik menjadi pupuk cair, maggot, dan kompos, serta pengolahan kopi.

Perluas Gerakan Moral Jaga Bumi dengan Pertobatan Ekologis, Kementerian LH Gandeng Organisasi Lintas Agama

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Festival Jagat 2026 tidak hanya menjadi ruang diskusi mengenai krisis lingkungan, tetapi juga mendorong perjumpaan lintas agama dan komunitas untuk membangun gerakan ekologis yang lebih kuat.

Nilai-nilai agama diharapkan dapat menjadi pijakan moral dalam merawat alam sekaligus memperjuangkan keadilan bagi masyarakat yang terdampak kerusakan lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *