Krisis Lingkungan di Pantura, Ketika Pantai Menyerah kepada Laut

Kerusakan Pantura mengganggu aktivitas nelayan mencari ikan.

TANGERANG, borneoreview.co – Di Pantura dari Kabupaten Serang, Banten hingga Situbondo, Jawa Timur, 65,8 persen lingkungan garis pantai mengalami abrasi. Di Demak, air laut bahkan menjangkau jauh ke daratan.

Tinggi permukaan tanah di kawasan pesisir Utara Jawa turun rata-rata 16 sentimeter. Muka air laut naik sekitar 0,41–0,42 sentimeter setiap tahun.

Angka kenaikan permukaan laut tampak kecil jika dibandingkan penurunan tanah di sejumlah kawasan pesisir. Tetapi di Pantai Utara Jawa (Pantura), persoalannya tidak sesederhana air laut yang terus meninggi.

Komplikasi daratan yang ambles, hutan mangrove menghilang, dan tata guna lahan yang berubah menyebabkan penyakit ekologis di Pantura menjadi kronis. Paket komplit kerusakan lingkungan terjadi pada ruang yang sama dan saling memperkuat tekanan terhadap pesisir.

Di Demak, akibatnya bisa dilihat ketika air laut tidak lagi berhenti di garis pantai. Banjir rob masuk ke permukiman, merendam jalan dan tambak.

Di sejumlah kawasan, genangan tidak hanya datang sesekali. Tapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketika air surut, persoalan belum selesai. Lumpur, sampah, dan kerusakan rumah menunggu untuk dibersihkan.

Bagi nelayan dan petambak, jarak laut yang semakin dekat dengan rumah tidak berarti semakin dekat pula dengan sumber penghidupan. Sebaliknya, perubahan garis pantai dan rusaknya ekosistem membuat pekerjaan mereka semakin sulit.

Tambak terendam, hasil tangkapan ikan di laut berkurang. Nelayan terpaksa mencari ikan lebih jauh ke tengah laut yang artinnya semakin boros solar.

Di Dadap, Kabupaten Tangerang, perubahan pesisir dirasakan langsung oleh masyarakat yang menggantungkan hidup pada laut. Nelayan harus beradaptasi ketika hasil tangkapan menurun. Budidaya kerang menjadi salah satu cara bertahan, tetapi lokasi keramba pun harus menyesuaikan dengan kondisi perairan.

Ketika pendapatan nelayan berkurang, anggota keluarga lain harus mencari tambahan penghasilan. Beban akibat perubahan pesisir kemudian dibagi rata ke seluruh anggota keluarga.

Habisnya hutan mangrove menghilangkan salah satu pelindung alami pantai. Perubahan tata guna lahan mengubah aliran air. Sementara pembangunan struktur pantai di satu lokasi dapat memengaruhi pergerakan sedimen di lokasi lain.

Pesisir akhirnya menjadi ruang yang kehilangan kemampuan alaminya untuk bertahan. Karena itu, persoalan Pantura Jawa bukan semata-mata bagaimana membuat tanggul laut yang lebih tinggi.

Mangrove, misalnya, bukan sekadar pepohonan yang tumbuh di lumpur. Ekosistem ini menjadi tempat hidup berbagai biota, menahan gelombang, menangkap sedimen, dan menyediakan ruang bagi masyarakat untuk mencari penghidupan.

Ketika mangrove hilang, masyarakat kehilangan lebih dari sekadar hutan kecil di tepi laut. Mereka kehilangan salah satu lapisan perlindungan terhadap perubahan pesisir.

Di sejumlah daerah, masyarakat mulai mempertahankan kembali mangrove dan mencari bentuk penghidupan yang dapat berjalan seiring perubahan ekosistem pesisir. Ada yang menanam mangrove, mengembangkan silvofishery, dan mengubah cara budidaya ikan.

Upaya-upaya itu menunjukkan bahwa masyarakat pesisir tidak tinggal diam menghadapi perubahan. Mereka memiliki kemampuan untuk beradaptasi.

Tidak mudah meminta nelayan mencari ikan lebih jauh ke aut ketika harga bahan bakar naik. Tidak sederhana meminta keluarga beradaptasi dengan rob ketika rumah mereka terus-menerus tergenang.
Dan tidak cukup menanam kembali mangrove jika tata ruang di sekitarnya terus menghilangkan ruang bagi ekosistem tersebut untuk tumbuh.

Kerusakan Pantura dengan demikian bukan hanya cerita tentang daratan yang hilang sedikit demi sedikit. Ia adalah cerita tentang ruang hidup yang menyempit.

Ketika garis pantai mundur, yang ikut bergeser bukan hanya batas antara daratan dan laut. Di belakang garis itu ada rumah, tambak, tempat bekerja, jalan, sekolah, dan kampung yang telah dihuni selama puluhan tahun.

Karena itu ukuran kerusakan pesisir tidak cukup dihitung dari berapa kilometer pantai yang terkikis atau berapa sentimeter permukaan laut yang naik. Tapi juga mengkalkulasi berapa banyak ruang hidup sosial masyarakat yang ikut hilang ketika daratan perlahan menyerah kepada laut.

Sebab bagi warga Pantura, pesisir bukan sekadar garis pada peta. Di sanalah rumah dan penghidupan berada. Mereka sedang dipaksa mencari cara baru untuk tetap tinggal, di tempat yang perlahan berubah menjadi asing.

One thought on “Krisis Lingkungan di Pantura, Ketika Pantai Menyerah kepada Laut”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *