JAKARTA, borneoreview.co – Organisasi jurnalis Pewarta Foto Indonesia (PFI) mengingatkan kepada seluruh pewarta foto dan kru media untuk mematuhi batas radius aman liputan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Ketua Umum PFI Pusat, Dwi Pambudo dalam siaran pers mengatakan, batas radius aman yang direkomendasikan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ditetapkan demi keselamatan bersama.
Menurut Dwi Pambudo, situasi di Selat Sunda saat ini dinamis dan menantang akibat paparan abu vulkanik. “Keselamatan rekan-rekan jurnalis di lapangan adalah prioritas tertinggi yang tidak bisa ditawar, “kata Dwi Pambudo.
Lima Jurnalis Hilang Kontak Liput Erupsi Anak Krakatau
Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) melarang masyarakat mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif -sesuai rekomendasi PVMBG. Nelayan, wisatawan dan pengguna kapal tradisional diminta tidak melakukan aktivitas di sekitar kawasan gunung api yang masuk dalam radius bahaya.
Aktivitas erupsi yang berlangsung saat ini merupakan kelanjutan dari peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak Juli 2026.
Pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB, terjadi erupsi dengan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam tebal bergerak ke arah barat laut.
Seismograf mencatat amplitudo maksimum 23 milimeter dengan durasi erupsi sekitar 20 detik. Menyusul peningkatan tersebut, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
25 Penerbangan di Supadio Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau
Aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat drastis pada 5 September 2026. Pada periode pengamatan pukul 00.00–06.00 WIB tercatat satu kali gempa letusan menerus dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi 21.600 detik atau sekitar enam jam.
Pewarta Foto Indonesia terus memantau operasi penyelamatan lima jurnalis yang dilaporkan hilang kontak saat melakukan peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau. “Kami berharap seluruh jurnalis dapat segera ditemukan dalam kondisi sehat dan selamat tanpa kurang satu apa pun” ujar Dwi Pambudo.
Berdasarkan laporan kronologi resmi dari Basarnas, rombongan yang terdiri dari lima orang jurnalis bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, menggunakan speedboot Arupadatu I pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB.
Abu Vulkanik Anak Krakatau: Tutup Sementara Bandara Soekarno-Hatta
Komunikasi terakhir tercatat pukul 14.42 WIB saat salah satu jurnalis mengirimkan titik lokasi terakhir (share location) kepada rekan anggota PFI, Putra M Akbar di Lampung. Lokasi di antara Carita dan Gunung Anak Krakatau, sebelum akhirnya dinyatakan hilang kontak sepenuhnya pukul 18.13 WIB.
Identitas kelima jurnalis yang berada di dalam kapal tersebut adalah:
M Bagus Khoirunnas (Pewarta Foto Kantor Berita Antara)
Ari Basuki (Pewarta Foto Merdeka.com)
Yudistiro Pranoto (Pewarta Foto iNews.id)
Firman Daus (Jurnalis Anadolu Agency)
Donal (Freelance).
