PONTIANAK, borneoreview.co – Kemarau panjang yang melanda Kota Pontianak tak hanya memicu krisis air bersih, tetapi juga mulai menggerogoti usaha kecil warga.
Di wilayah Pontianak Utara, para pelaku usaha laundry rumahan terpaksa memutar otak akibat pasokan air ledeng berubah rasa menjadi payau dan berwarna kekuningan.
Kondisi ini dirasakan langsung oleh Supatmi (42), pemilik usaha laundry rumahan di Jalan Dharma Putra, Kecamatan Pontianak Utara. Ibu dua anak ini mengaku pasrah setelah cadangan air hujan di drum penampungannya habis total sejak sepekan terakhir.
“Biasanya kalau cuaca normal saya pakai air hujan untuk membilas baju putih. Tapi karena sudah lama tak turun hujan, mau tak mau pakai air PDAM penuh. Masalahnya airnya sekarang payau, kadang agak asin, dan warnanya sedikit kuning,” kata Supatmi saat ditemui di kediamannya, Jumat (14/8/2026).
Menurut Supatmi, penggunaan air payau dan kekuningan sangat berisiko bagi usahanya. Selain berisiko membuat pakaian putih milik pelanggan menjadi kusam dan kekuningan, air asin juga membuat takaran detergen sulit berbusa.
Akibatnya, ia harus mengeluarkan biaya operasional ekstra untuk membeli pemutih, pelembut pakaian beraroma lebih pekat, serta menyaring kembali air ledeng sebelum masuk ke mesin cuci.
“Kalau pakaian pelanggan sampai rusak atau baunya tak segar, saya yang kena komplain. Jadi terpaksa takaran sabun dan pewangi ditambah, airnya juga disaring pakai kain berlapis. Mau naikkan tarif laundry tak enak sama tetangga, jadi ya terpaksa potong untung bersih,” keluhnya.
Secara teknis, menurunnya kualitas air baku PDAM ini terjadi akibat fenomena alam tahunan. Melalui penjelasannya, manajemen Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa Pontianak menyampaikan bahwa penurunan debit air di Sungai Kapuas dan Sungai Landak selama musim kemarau menjadi pemicu utamanya.
Penurunan debit air tawar membuat tekanan air dari hulu melemah. Kondisi ini membuat air laut mendorong masuk lebih jauh ke dalam aliran sungai di wilayah muara, atau yang dikenal dengan istilah intrusi air laut.
Akibat intrusi tersebut, kadar garam pada air baku yang disedot oleh penampungan PDAM meningkat, sehingga air bersih yang didistribusikan ke rumah warga terasa lebih payau atau asin.
Menanggapi kondisi ini, tim analis kualitas air Perumda Tirta Khatulistiwa menyatakan terus melakukan pemantauan sampel air secara berkala di titik intake. Proses pengolahan air juga terus disesuaikan dengan kondisi air baku yang terintrusi air laut agar tetap aman digunakan.
Pihak manajemen Perumda Tirta Khatulistiwa memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan para pelanggan selama musim kemarau. Pihaknya berkomitmen untuk tetap berupaya maksimal memproses dan menyalurkan air tawar ke masyarakat di tengah keterbatasan kondisi alam.
Di sisi lain, warga dan pelaku usaha kecil seperti Supatmi hanya bisa berharap hujan segera turun di wilayah tangkapan air Sungai Kapuas. Bagi mereka, sapuan hujan adalah satu-satunya solusi tercepat agar kualitas air kembali normal dan roda ekonomi usaha kecil tidak terus tertekan.(hermansyah)
