BANJARBARU, borneoreview.co – Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mendistribusikan sarana dan prasarana (sarpras) pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ke Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan Tahura Sultan Adam untuk menghadapi El Nino 2026.
Potensi munculnya fenomena El Nino pada pertengahan 2026 berisiko menurunkan curah hujan dan meningkatkan kekeringan di berbagai wilayah Indonesia hingga musim kemarau diperkirakan lebih panjang dan kering.
Melansir Antara, Jumat (24/4/2026), Kepala Bidang Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (PKSDAE) Dishut Kalsel Rudiono Herlambang mengatakan penguatan kesiapsiagaan tersebut melibatkan Kepala KPH, Kepala Tahura Sultan Adam, serta jajaran teknis pengendalian dan perlindungan hutan.
Ia menyebutkan dukungan sarpras dari program REDD+ yang disalurkan ke seluruh KPH dan Tahura, masing-masing instansi menerima 15 jet shooter, 20 kepyok, 10 handy talky, serta 50 pasang sepatu boot untuk memperkuat patroli, deteksi dini, dan penanganan awal karhutla.
Rudiono menyampaikan bahwa fokus utama tahun ini adalah penguatan upaya pencegahan sejak dini, terutama pada kawasan rawan seperti Ring 1 Bandara, hutan lindung, dan Tahura Sultan Adam, dengan mempertimbangkan potensi pengaruh fenomena El Nino.
“Dengan prediksi musim kemarau yang lebih panjang dan kering, seluruh jajaran harus mengutamakan pencegahan dan respons cepat di lapangan,” ujar Rudiono, kemarin.
Sementara itu, Kepala Seksi Pengendalian Karhutla Dishut Kalsel Bambang Marwanto menegaskan penanganan karhutla harus dilakukan secara terpadu melalui sinergi lintas sektor.
Pembentukan satuan tugas di tingkat kabupaten/kota dinilai penting untuk memperjelas alur komando dan mempercepat respons di lapangan.
“Alur komando harus jelas agar penanganan tidak terhambat koordinasi,” katanya.
Ia menekankan pentingnya peran KPH dalam memperkuat patroli rutin, sosialisasi kepada masyarakat, serta deteksi dini di wilayah rawan.
Dishut Kalsel menegaskan seluruh sarpras yang telah didistribusikan harus dioptimalkan oleh petugas di lapangan guna memperkuat upaya pencegahan dan penanganan cepat karhutla selama musim kemarau 2026 di Kalimantan Selatan.***
